Bab 87 - Going Home
Malam itu, mereka semua menginap di rumah Lyra. Bahkan Erlan juga. Dan hingga larut malam itu, mereka masih mengobrol di ruang keluarga. Hanya Damar dan Aryan yang sudah tidur. Hingga papa Lyra kemudian pamit untuk tidur lebih dulu.
Sepeninggal papanya, barulah Lyra berani bertanya pada Arman,
"Tadi ada meeting penting apaan, sih?"
Arman menoleh pada Erlan, lalu kembali menatap Lyra. "Lo udah tanya ke Erlan?"
"Katanya, ntar juga gue tahu sendiri," balas Lyra, sedikit kesal.
"Nah, itu. Ntar juga lo tahu sendiri," Arman berkata, membuat Lyra mendesis kesal. "Yang jelas, Erlan yang paling bekerja keras buat ini. Dia kan bulan depan mau pergi ke perusahaan kakeknya."
Lyra kontan menoleh kaget ke arah Erlan.
"Kenapa? Karena gue mau pergi, sekarang lo baru nyesal?" Erlan berkata santai.
Lyra mengernyit. Bisa-bisanya dia mengucapkan itu dengan mudah, ketika Lyra merasa sesakit ini. Namun, Lyra tak mengatakan apa pun.
"Siapin diri lo buat besok Senin," Arman berkata pada Lyra, sebelum dia berdiri dan menggandeng Evelyn bersamanya.
Lyra mengerutkan kening bingung pada kakaknya itu. "Ada masalah tentang resort?"
Arman tak menjawab, hanya tersenyum sok misterius, sebelum dia dan Evelyn pamit untuk tidur lebih dulu. Lyra penasaran akan maksud Arman itu, tapi ia tidak mungkin bertanya pada Erlan. Ugh, ini benar-benar membuat frustrasi.
"Omong-omong, bener kata Damar, minggu depan kalian bakal ke Tawangmangu?" Erlan bertanya.
"Lyra yang tadi ngajak Damar ke sana," Ryan menjawab, lalu mendesah berat. "Gue nggak nyangka, selama ini gue udah bikin Damar kecewa bahkan tanpa sadar."
"Aku juga," ucap Prita sedih. Di sebelahnya, Ryan merangkul Prita.
"Aku juga udah bikin dia kecewa," Dera ikut mengeluh.
Dhika mendesah berat di sebelahnya.
"Udah deh," tukas Lyra. "Kalian kan bisa ngebayar itu semua. Kasih dia apa yang nggak kalian kasih ke dia selama ini. Jangan ngasih dia barang mewah atau hadiah-hadiah yang dia nggak butuh."
"Aku pikir, dulu aku nggak pernah bisa ngasih apa pun ke Damar, makanya aku berusaha ngasih apa yang aku bisa kasih ke dia, Lyr," ungkap Prita.
"Damar cuma butuh perhatian kalian," Erlan berbicara. "Aku tahu dia sering kecewa karena kalian mulai nggak ada waktu buat dia. Makanya, tiap aku main ke Solo, aku pasti ngajak dia jalan-jalan."
Prita mendesah berat. "Aku pikir, habis kehidupan kami jadi lebih baik, semua bakal lebih baik."
"Semua bakal lebih baik lagi habis ini, Ta," Lyra menghibur Prita.
Prita tersenyum lemah, mengangguk. "Mungkin kalau kamu nggak pulang, dia nggak bakal ngadu kayak gitu."
Lyra tersenyum geli. "Untung banget ya, aku pulang."
Prita tersenyum. "Dan jangan pergi jauh-jauh lagi, Lyr," pintanya. "Ngapain sih, kamu pakai pergi jauh-jauh gitu dari kita?"
Lyra tersenyum kecil seraya menunduk. Alasannya ada di ruangan itu, tapi Lyra tak mengatakan apa pun.
***
Damar tampak puas setelah seharian itu berjalan-jalan ke taman hiburan. Lyra dan Erlan mengantarkan rombongan Ryan ke bandara sore itu, usai jalan-jalan. Namun, Lyra dibuat terkejut ketika tiba-tiba Aryan minta digendong olehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
Ficción GeneralTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
