Bab 73 - It's Okay
"Trus, ngapain kita hari ini jalan-jalan bahkan dari pagi gini kalau kamu nggak jadi balik ke Jakarta nanti?" gerutu Dera.
Lyra mengangkat alis mendapati kekesalan mendadak gadis itu.
"Kamu nggak suka jalan-jalan sama aku? Minta diusir atau apa, nih?" tuduh Lyra.
Dera mendecak pelan, sebelum mendesah berat dan menoleh ke belakang, menatap Dhika yang tampak sedang mengobrol dengan Ryan.
"Kalian ada masalah lagi?" tanya Lyra. "Dhika masih nggak mau pergi ke Spanyol?"
Dera kembali mendesah berat. "Dia bilang dia bakal pergi."
"Trus, kenapa kamu ngelihatin dia kayak gitu? Kamu buat masalah lagi? Bikin dia kesal lagi?" Lyra tak tahan untuk tak menuduh, membuat Dera menatapnya kesal.
Dera kembali menoleh ke belakang, sebelum menatap Lyra dan bertanya, "Kamu tahu sesuatu tentang ibunya Dhika?"
Lyra mengerutkan kening. Yang Lyra tahu, sejak Dhika meninggalkan rumahnya, ibunya tak pernah mencari Dhika lagi.
"Kemarin ..." Dera tampak ragu sejenak. Gadis itu mengambil napas dalam, lalu melanjutkan, "Ibunya Dhika ke studio. Ke rumahnya Dhika itu."
Lyra menoleh ke belakang, memperhatikan ekspresi Dhika yang seolah tak terjadi apa-apa.
"Dan sejak kemarin, Dhika nggak mau ngomongin itu sama aku. Tapi aku tahu, dia nggak baik-baik aja. Makanya ... aku jadi khawatir sama dia," aku Dera.
Lyra mendengus pelan. Dhika menolak ibunya? Yah, setelah apa yang dilakukan ibunya, mengabaikannya selama sekian tahun, mendapati wanita yang melahirkannya itu tiba-tiba muncul di depannya, tentu Dhika shock.
"Dan nanti sore aku mau ketemu sama ibunya," Dera melanjutkan.
Lyra melotot kaget ke arah Dera. "Maksudnya?"
Dera meringis. "Kemarin pas aku pulang, ibunya datang ke rumahku. Dia pasti ngikutin aku sama Dhika pas Dhika nganterin aku pulang. Dan ... ya, ibunya pengen ketemu aku nanti sore. Katanya ada yang mau diomongin ke aku."
Kening Lyra berkerut sementara ia berpikir keras. Apa tujuan ibu Dhika kembali sekarang? Dia tak pernah sekali pun menunjukkan ketertarikan pada Dhika selama ini. Dia hidup baik-baik saja dengan suami barunya, ayah tiri Dhika, yang adalah pengusaha sukses itu.
"Mending kamu ngomong sama Dhika, deh," Lyra mengusulkan.
"Kalau aku ngomong sama dia, dia nggak bakal ngizinin aku ketemu sama ibunya, kan?" Dera tak setuju.
"Tapi, kalau kamu nyembunyiin dari Dhika gini ..."
"Ini demi Dhika juga," sela Dera.
Dera yang sedang keras kepala memang menyebalkan. Jadi, alih-alih mendebat Dera, Lyra memutuskan untuk mengalah. Toh nanti ia bisa memberitahu Dhika. Dera bahkan belum benar-benar bisa mengurus masalahnya sendiri. Entah apa yang akan dikatakan ibunya Dhika nanti. Lyra mengerti jika Dera ingin melindungi Dhika, tapi Lyra juga hanya melakukan hal yang sama. Melindungi Dera. Dengan caranya sendiri.
***
"Nyari ... adiknya?" Dera mengulangi permintaan ibu Dhika itu.
Ibu Dhika mengangguk. "Sejak Dhika menghilang, ayahnya juga nyembunyiin adiknya. Tante cuma pengen ketemu sama adiknya Dhika sebentar, tapi ayahnya Dhika nggak pernah ngizinin. Makanya, mungkin kalau Dhika yang ngomong .."
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
Ficción GeneralTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
