Bab 46 - We Fight as We Love
Sore itu, saat Ryan dan Prita pulang kerja, orang tua Ryan sudah berada di rumah Lyra. Ayahnya menonton televisi sementara ibunya menemani Damar mengerjakan tugas sekolahnya.
"Kamu udah pulang?" Ibunya menyambut Ryan.
Ryan mengangguk dan menarik Prita untuk bergabung di ruang tamu.
"Ayah sama Ibu kapan sampai?" tanya Ryan.
"Tadi siang," jawab ibunya.
"Ayah nggak kerja?" tanya Ryan lagi.
Ayahnya menggeleng, masih menatap ke arah televisi.
"Trus perusahaan?" sebut Ryan.
Ayahnya tersenyum. "Perusahaan nggak bakal tutup cuma karena Ayah nggak masuk beberapa hari, kan?"
Ryan mendesah berat.
"Dan, Ayah juga kepikiran buat nyari tim profesional buat ngurus perusahaan. Kamu kan juga nggak mau masuk ke perusahaan," lanjut ayahnya, membuat Ryan menatap ayahnya protes.
Perusahaan itu adalah milik keluarganya dari kakek buyutnya. Ryan tahu betapa ayahnya sangat mencintai perusahaan itu. Menyerahkan perusahaan pada orang lain rasanya ...
"Mending Ayah serahin aja urusan perusahaan itu ke Kak Arman," usul Ryan.
"Bahkan meski perusahaan kita udah bergabung sama Brawijaya, tapi kita juga harus bertahan sendiri, Yan. Arman juga nggak mungkin ngurusin semua perusahaan itu sendiri," ucap ayahnya.
Ryan mendecak pelan. "Nanti begitu Lyra keluar dari pabrik, dia bakal masuk ke perusahaannya juga. Lagian, di sana ada Erlan. Jadi, pas Lyra udah masuk ke Brawijaya, Kak Arman bisa fokus ngurus perusahaan kita, Yah."
"Apa kamu nggak tahu berapa banyak orang yang berusaha ngerebut Brawijaya?" tanya ayahnya tajam.
Ryan mendesah berat. Ia tahu. Orang-orang itu bahkan akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkan Lyra atau Arman. Satu-satunya alasan mereka tidak bisa menjatuhkan Arman adalah karena Arman memang melakukan tugasnya dengan baik. Sementara Erlan ... tak ada yang berpikir Erlan akan mengambil kursi Presdir, mengingat masih ada perusahaan kakeknya. Dan Lyra ... semua orang berusaha menjatuhkan Brawijaya lewat sahabatnya itu.
"Ayah baru bisa ngasih perusahaan ke Arman sepenuhnya kalau Erlan nikah sama Lyra," ucap ayahnya, membuat Prita yang juga mendengarkan sampai tersedak saking kagetnya.
Ryan menatap Prita geli seraya mengusap punggungnya.
"Kamu juga kan nggak mau ngurus perusahaan," ucap ayahnya. "Ayah juga nggak mau maksa kamu."
"Ryan emang nggak mau, jadi kenapa Ayah harus berhenti? Ayah bisa terus mimpin perusahaan, kan?" sebut Ryan.
Ayahnya tersenyum padanya. "Ayah lebih suka di sini. Ada Damar juga. Dan ibumu udah kangen banget sama kamu."
Ryan menatap ibunya yang masih fokus memeriksa tugas sekolah Damar, ia mendesah berat.
"Kecuali kalau kamu, sama Prita dan Damar, mau ikut ke Jakarta ..."
Ryan menatap ayahnya tajam.
"Ayah kan, cuma ngomong kalau. Ayah nggak maksa, kok," ucap ayahnya.
Memang tidak memaksa, tapi apa bedanya?
Ayahnya lalu menatap Prita. "Maaf ya, Prita, Ayah nggak maksa kalian, kok. Ayah cuma nggak pengen jauh aja dari kalian. Ibu juga mikir gitu. Jadi, kalau kalian nggak ke Jakarta, Ayah sama Ibu yang pindah ke sini. Kamu nggak keberatan, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Be You (End)
General FictionTiga gadis muda dengan latar belakang berbeda, sama-sama sedang mencari tempat mereka di dunia yang kejam ini, dengan cara masing-masing. Dipertemukan di tempat yang tidak biasa, pabrik, kehidupan dan lingkungan yang keras harus mereka hadapi, denga...
