Sebuah Penawaran

15.5K 481 3
                                        

Seorang Pria bertubuh tinggi, kekar, rahang tegas, sedang berjalan memasuki Loby Shinee Corp. Semua mata tertuju pada Pria tersebut dan senyum diikuti dengan menundukan kepala. Tapi Pria tersebut tidak membalas sapaan mereka dan hanya lurus ke depan dengan tatapan dingin. Marvel memang selalu begitu bukan?

Marvel masuk dalam lift, tidak ada yang berani masuk dalam lift. Ketika pintunya akan tertutup, Marvel melihat sosok wanita berada lurus dengan pandangan matanya. Stevani batinnya.

Marvel menahan pintu lift yang akan tertutup ketika melihat Stevani. Sesaat setelah itu mata keduanya saling bertatapan. Dia menyunggingkan senyum tipis lalu mengangguk dan melambaikan tangan kanannya memanggil wanita itu.

Stevani melebarkan mata dan menunjuk dirinya sendiri. Ia menoleh kekanan dan kekiri karena dalam sekejap pandangan karyawan beralih padanya. Marvel tersenyum dan mengangguk pelan.

Stevani berjalan menuju dalam lift, tersenyum canggung pada karyawan lainnya. Ia masuk dalam lift, tepat di belakang Marvel. Pintu lift tertutup.

"Kamu sudah sarapan Van?" tanya Marvel memecah keheningan.

"Saya Pak?" tanya Stevani heran melihat ke ceruk leher belakang Marvel.

Marvel tersenyum menoleh ke belakang dan menatap Stevani. "Apa disini ada orang lain selain kita? Tidak mungkin aku bertanya dengan diriku sendirikan?" seronoh Marvel. Senyum Stevani canggung dengan pipi merah merona ketika Marvel melihat kearahnya.

"Iya Pak. Sudah sarapan di rumah tadi," jawab wanita itu gugup.

Marvel tersenyum saat melihat bayangan tubuh wanita yang menunduk karena malu. Bagaimana seorang sekretaris bisa membuat atasannya yang dingin dan kejam seperti Marvel bisa tersenyum hanya dengan tingkah malu-malu.

Pintu lift terbuka. Marvel keluar lebih dulu disusul Stevani. Ruangan Stevani berada di luar ruangan Marvel yang hanya dibatasi dengan kaca transparan. Marvel dapat melihat segala aktifitas yang dilakukan Stevani tapi tidak dengan sekretarisnya itu.

Sebelum masuk dalam ruang kerjanya Marvel berhenti lalu menoleh ke arah Stevani. "Van panggilkan Angga untuk ke ruanganku sekarang," pinta Marvel lalu masuk sebelum Stevani membalas ucapannya.

"Dasar Bos aneh, tadi bersikap manis sekarang bersikap dingin," sungut Stevani kesal.

Marvel melepaskan jas yang melekat dalam tubuhnya meletakkannya di atas kursi, melipat lengan bajunya sampai sikunya. Berdiri menatap ke arah luar jendelanya dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.

Pintu terbuka, Marvel berbalik membelakangi jendela, menatap ke arah Pria yang baru masuk dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.

"Gimana Angga? Aku harap kamu sudah menemukan informasinya," seronoh Marvel pada Anga yang bahkan baru menutup pintunya.

"Dan amplop apa yang kau pegang?" tanya Marvel lagi tak sabaran.

Angga melebarkan matanya. "What? Aku bahkan belum menutup pintu dengan sempurna."

Pria itu berjalan ke arah Marvel dan meleparkan pelan amplop cokelat yang di bawanya. "Sepertinya Stevani menjadi tulang punggung keluarganya sekarang dan dikejar oleh rentenir."

"Apa maksudmu? Aku tidak suka dengan sebuah teka-teki kamu itu." Marvel menghentikan aktivitasnya.

"Bukalah amplop itu," suruh Angga.

Marvel mengambil amplop cokelat didepannya dan mengambil kertas di dalam amplop tersebut.

"Kamu tau perusahaan tekstil dan furniture yang bangkrut kemarin?" tanya Angga.

"Apa hubungannya dengan kertas-kertas ini?" tanya Marvel balik.

"Itu adalah laporan keuangan perusahaan tersebut dan." Angga menghentikan kalimatnya.

"Hutang beserta bunga yang perusahaan tersebut pinjam ke lintah darat," Lanjutnya.

"Dan apa hubungannya dengan Stevani?" tanya Marvel kembali. Ia masih belum paham kemana arah pembicaraan Angga saat ini.

Angga terkekeh, menarik kursi dan duduk didepan Marvel. "Perusahaan tersebut milik Papanya Stevani, wanita itu tidak pernah bekerja sebelumnya selain di Bar miliknya walaupun Ia lulusan terbaik dari Universitas Indonesia. Beberapa bulan terakhir keuangan kelurganya tidak baik, sering di datangi Dept. Colector. Papanya yang sering mabuk, membuat Stevani mau tidak mau harus bekerja, dan disinilah dia sekarang bekerja, sebagai sekretaris mu," ungkap Angga menoleh kebelakang dan melihat wanta yang berada di luar ruangan Marvel.

Diikuti Marvel yang menatap ke luar ruangan, melihat Stevani yang tengah sibuk dengan komputernya. Angga menatap kembali ke arah Marvel dan bertanya, "Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan Vel setelah tau ini?"

Marvel masih menatap ke arah Stevani lalu tersenyum sinis. "Aku akan membuat kesepakatan yang membuatku terlepas dari perjodohan itu."

"What? Apa kamu bercanda?" tanya Angga terkejut.

"Keluarlah dan panggilkan Stevani." Marvel kembali memikirkan cara untuk membuat wanita itu mau menyetujuinya.

"Oke baiklah. Tapi ingat jangan mempermainkan Wanita Vel," seronoh Angga.

"Panggilkan sekarang," tegas Marvel dengan nada penuh intimidasi.

Tanpa menjawab Angga melenggangkan tubuhnya untuk keluar. Pria itu tahu betul sifat sahabat sekaligus atasannya ini. Perkataannya tidak bisa di bantah.

"Masuk." Marvel mempersilahkan seseorang masuk setelah terdengar bunyi ketukan.

Stevani muncul di balik pintu dengan sedikit menundukkan kepalanya. "Apa Pak Marvel memanggil saya?" tanya Stevani gugup.

Marvel berdiri dari kursinya, menilai Stevani dari ujung kaki hingga kepala. "Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Marvel membuat Stevani mengangkat kepalanya perlahan.

"Belum Pak. Ada apa ya Pak?" tanya Stevani nampak heran.

Marvel tersenyum dengan tatapan tak dapat diartikan.

"Kalau begitu menikahlah denganku," pinta Marvel dengan nada Santai. Stevani melebarkan matanya tak percaya dengan ucapan Marvel yang terdengar aneh ditelinganya.

"Lebih tepatnya. Will you Marriage Contract with me?" lanjut Marvel dengan tatapan yang benar-benar tak bisa ditebak.

Stevani terkena serangan tergagap tiba-tiba. Ia mencerna kalimat terakhir yang diucapkan Marvel padanya. Bukan terdengar seperti seorang pria yang melamar wanitanya. Ini lebih dari seperti sebuah kesepakatan.

"Itu akan saling menguntungkan bagi kita," ungkap Marvel sembari memainkan Pena yang ada ditangannya.

"Kenapa? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya stevani dengan nada ketakutan.

Seolah mengerti apa yang dirasakan wanita itu Marvel tertawa kecil. "Tenanglah Van. Aku tidak akan menggigitmu, pernikahan ini akan menguntungkan bagimu dan bagiku juga."

"Tapi, " ucapan Stevani terhenti.

"Menikah denganku dan aku akan membayar lunas hutang Keluargamu. Bagaimana?" tawar Marvel memotong kalimat yang akan diucapkan Stevani.

Stevani terdiam, keduanya saling menatap dalam diam.

Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang? batin Stevani menelan ludahnya sendiri.

Tatapan mereka saling terkunci, Marvel dengan senyum yangtidak dapat diartikan. Stevani dengan keterkejutannya atas tawaran yang takmasuk akal menurutnya. Sepertinya perjodohan Marvel dengan Sandra membuat pria itu memiliki sebuah rencana yang tidak masuk akal. Posisi Stevani yang membutuhkan uang untukmenutup utang adalah sebuah peluang besar tawarannya akan di terima oleh wanita itu. Pilihan apapun yang dipilih oleh Stevani menjadipenentu kehidupannya setelah itu.

.

.

.

Arquene Swan

MARRIAGE CONTRACTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang