47. Nemu Testpack

2.5K 200 6
                                        

Semua orang juga tau kalo Abang mulai aneh.
-Ciara

...

JONATHAN dan Gava sedang duduk bersamaan di ruang tamu, di depan televisi, dan nampak tengah mengamati sosok aneh di depan mata.

Yang paling muda mengerutkan keningnya, sembari menekan-nekan hidung boneka kesukaan Ciara, pemuda itu tetap fokus pada kegiatan dua orang yang ada di ujung sana.

Sedangkan, Gava, pria itu malah terang-terangan berdeham keras saat melihat akan terjadi adegan tidak senonoh di depan mata.

Ya, meskipun sebenarnya dia tidak perlu menjauhkan Jonathan dari hal-hal semacam itu karena ia tahu Jonathan tentu sudah pernah melakukan hal yang lebih jauh, namun, ada rasa keharusan yang membuat Gava menunda bibir Rama yang akan menghajar milik Kakak Ipar.

Lisa dan Rama ternyata tidak menyadari keberadaan Gava dan Jonathan karena jarak mereka yang terbilang cukup berjarak. Kedua pria bernotabene nakal itu tengah duduk di ruang tamu, sedangkan Lisa dan Rama ada di dapur yang mana jarak mereka terpisah tangga ke lantai dua dan juga lemari hias. Lisa tentunya merona saat kepergok sedang melakukan hal mesum, sedangkan Rama menggeram kesal.

Berbeda dengan Jonathan yang nampak geli, Gava malah menyeringai sinis seolah ingin mempermalukan Abangnya itu.

Entah Rama yang kelewat kesal atau ada sesuatu yang mendesak, Rama jadi menarik Lisa ke kamar mereka dan menutup pintu rapat-rapat, tak lupa membawa potongan-potongan buah yang tadi Lisa buatkan.

"Bang, gila, lo kenapa gangguin mereka, sih?" protes Jonathan.

Gava melirik kecil. "Diem lo. Bocah nggak boleh liat yang begituan,"

"Begituan gimana? Baru juga mau ciuman, belum yang lain-lain. Kalo ciuman mah gue pakarnya," begitu sombong Jonathan berkata.

Gava jadi melepas tawa meremehkan. Tangannya bergerak menoyor kepala Adiknya itu dan berkata, "Lo lupa siapa yang ngajarin lo?"

Jonathan menggeleng. Menolak paten pertanyaan Gava. "Gue belajar sendiri, liat-liat film bo--"

"Nathan! Anjir! Ngomongnya difilter, Kampret!"

Suara melengking nan membahana refleks membuat tangan Gava dan Jonathan menutupi telinga masing-masing sebelum kompak berbalik dan menoleh ke arah tiga manusia datang dari pintu utama.

"Berisik banget deh lo, Ra," Nita mengusap dada bersabar.

Ciara tidak menggubris Nita tentu saja, sedangkan Kashi langsung berjalan cepat menghampiri Gava sebelum mata pacar-genitnya itu melirik-lirik Nita, lagi. Cukup, ya. Kashi sebal.

"Uluh-uluh, Pacar udah pulang?"

Kashi mengangguk manis. Lenyap sudah sifat boyish-nya itu. "Udah. Abang liat sendiri 'kan, gue udah di sini,"

Yap.

Gava mengangguk kecil. Ia melirik Nita sekilas, tenang, hanya sekilas. Entah kenapa dia tiba-tiba takut berlama-lama menatap gadis lain selama Kashi masih miliknya, ada perasaan asing yang membuat Gava ngeri. Ditambah tatapan waspada Kashi yang tengah mengamati semakin membuat Gava hati-hati. Maka, setelah berdeham halus, Gava mengecup pipi Kashi dan menyeretnya keluar dari sana.

"Ke rumah Pacar aja, yuk? Biar nggak ada gangguan dedemit cantik," begitu kata Gava dengan gaya paling santainya. Hingga membuat Jonathan mendadak tertawa.

Sindiran untuk Nita. Itu pasti.

"Dasar lo, Bangke! Ngatain dedemit tapi bilang cantik juga. Mana ada dedemit cantik, woi!"

SIBLING'STempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang