Keluarga adalah satu-satunya tempat kita berlindung dari semua tekanan dunia.
-CH
***
RAMA adalah salah satunya orang yang merasa tidak suka dengan kedatangan sang Ibu mertua. Sudah pernah dia bilang 'kan, siapa pun itu, jika punya niat buruk pada isteri dan anaknya, maka Rama tidak akan sudi berbaik hati pada mereka. Tidak ada belas kasih. Oleh karena itu, jangan sentuh isteri dan anaknya jika tidak ingin berurusan dengannya.
Tapi, sialnya, Lila dan Wati masih saja tidak tahu diri. Keduanya datang ke kediaman Rajendra tanpa merasa bersalah sama sekali, tersenyum samar yang bagi siapa pun dapat melihat jika senyuman itu adalah senyuman yang sirat akan maksud merendahkan. Apa yang wanita tua itu pikirkan sebenarnya?
"Bagaimana jika Lisa dan Rama tinggal di rumah kosong yang ada di samping rumah kami? Mungkin pekarangannya masih banyak rumput dan terlihat tidak nyaman, tapi jika Nak Rama bersedia mengeluarkan sedikit saja uang untuk merapikan kondisi rumah itu, rumah itu akan kembali normal seperti semula."
Rajendra tidak langsung menjawab tentunya. Dia tidak akan gegabah, sebab dia tahu Lila ini adalah wanita yang cukup licik. Menggulir maniknya dan menatap Wati sejenak, Rajendra bisa mengerti apa maksud perkataan Lila tanpa banyak bertanya lagi.
"Kenapa harus?"
Rajendra menoleh pada anak sulungnya. Meski sekilas melihat saja, Rajendra bisa melihat aura perlawanan dari mata anaknya itu. Rama memang bukan seseorang yang mudah patuh.
"Nak, Ibu lihat rumah ini terlalu ramai untuk kalian tinggali. Pak Rajendra masih punya enam orang anak lagi yang belum berumah tangga. Dengan adanya kalian bertiga, rumah ini tidak akan muat menampung. Mungkin bisa menampung, tapi kasian cucu Ibu yang tidak bisa tidur nyenyak setiap saatnya." Lila menjawab cukup jauh.
Rama lantas menggeleng halus, samar, nyaris tidak terlihat. Matanya kini mengeluarkan sorot tajam. "Apa Ibu sedang menghina keluarga dari suami anak Ibu sendiri?"
"Oh? Apa kedengaran kayak gitu?" Lila pura-pura terkejut. "Ah, maafkan ucapan Ibu yang sepertinya tidak bisa kamu tangkap dengan baik, Nak Rama. Ibu hanya ingin cucu Ibu bisa tidur dengan nyaman setiap harinya."
"Keamanan dan kenyamanan anakku adalah yang terpenting, Bu. Jadi, tanpa Ibu pun, aku akan tetap menyiapkan itu untuknya."
"Aduh, Ibu tidak berniat buruk, kok, Nak Rama. Ibu hanya ingin dekat dengan kalian, supaya Ibu juga bisa merawat cucu Ibu."
Rama, yang tadinya menukikkan kedua alisnya tak suka, kini mengubah ekspresi agak tenang. Bukan karena benar-benar tenang, tapi agar Lila tidak semakin merajalela. "Ibu bisa merawat cucu Ibu kapan pun tanpa harus pindah ke sana."
"Apa kamu tega melihat Ibu kelelahan setiap hari hanya untuk merawat cucu Ibu sendiri? Jika Ibu datang ke sini untuk melihat cucu Ibu dan harus pulang setelahnya, itu hanya akan melelahkan Ibu, Ibu tidak sanggup lagi bolak-balik ke sini hanya untuk melihat cucu Ibu." Wanita itu balas mendesah sedikit kecewa, serta merta menundukkan kepalanya agar tipuannya bernilai sempurna. "Lisa, kamu mau, ya, pindah ke rumah lama Pak Toso yang di sebelah rumah kita?"
Mendengar itu, Lisa menatap Ayah mertuanya lama, meminta ijin untuk buka mulut karena sebelumnya Rajendra sudah memperingatkan agar Lisa jangan terlalu banyak buka suara guna meminimalisir celah Lila yang pastinya ingin mengambil keuntungan. Rajendra sudah tahu sebelumnya jika rumah yang Lila maksudkan itu adalah rumah kosong yang sudah puluhan tahun tidak dihuni. Rama yang memberitahukan tentang itu. Dulu, sebelum mereka menikah, Rama terlebih dahulu menyelidiki seluk-beluk calon isteri dan orang-orang sekiranya, bahkan sampai ke orang-orang yang dekat rumahnya. Jadi, sebenarnya, Rama sudah tahu semua tentang Lisa, hanya saja Lisa masih tidak mau jujur akan semuanya pada Rama. Tentunya Rama tidak terlalu mempermasalahkan itu. Biarkan saja, asalkan Lisa merasa nyaman, biarkan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIBLING'S
General Fiction[ON GOING] (Intinya random, random, dan random. Terima kasih^-^) ••• Hanya segelintir kisah tentang Ciara dan keenam abangnya. Kisah sehari-hari yang gadis itu lalui dengan keenam lelaki dengan kepribadian berbeda-beda. Lelah itu pasti, tapi Ciara...
