"Kak, bocah bocah gini tapi aku bisa bikin dede bayi loh." Leon menyeringai tipis. "Buktinya, itu diperut kakak ada anak aku."
Mei, 2020.
Terdapat 2 Season
"Dia sekarang jomlo." Liam menatap kakak kelasnya yang baru saja mempermalukan mantan kekasihnya. "Lo mau ngejar dia sekarang?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Leon menyugar rambutnya kebelakang. Menatap perempuan yang selama ini dia suka secara diam diam. "Pasti. Gue gak akan lakuin kesalahan yang sama."
"Memangnya lo bisa dapetin dia?" tanya Revin, dia menatap sahabatnya dengan pandangan remeh.
"Lo remehin gue?" tanya Leon, dia menyeringai tipis.
"Enggak. Cuman kita butuh bukti kalo lo bisa dapetin dia." lanjut Revin.
Leon menatap Zeline yang tengah memakan bakso miliknya. "Gue pasti dapetin dia. Gue gak akan pernah lepasin dia."
Liam dan Revin saling menatap. Keduanya menggeleng hampir bersamaan. "Belum jadi apa apanya aja udah possessive. Gimana kalo Kak Zeline udah jadi milik lo?"
"Jangan terlalu posesif. Dia bisa benci sama lo." Liam memperingati.
Leon mengangkat bahunya acuh, tidak peduli. Dia sudah lama menyukai gadis itu sampai sampai dia tidak dapat menyukai gadis lain. Tunggu saja, dia pasti akan mendapatkannya. Bagaimanapun juga caranya, Zeline harus menjadi milik Leon.
***
"Ambil. Lo yang udah buat bola nya kesana." suruh Liam pada Leon.
Leon mendengus, dia berlari kecil kearah bola basket yang menggelinding ke pinggir lapangan. Larinya terhenti saat melihat bola itu berhenti tepat di depan Zeline yang tengah duduk di bawah pohon sebelah lapangan. Gadis cantik itu terlihat sedang memejamkan matanya dengan earphoneyang menyumpal kedua telinganya.
Leon berjalan perlahan, dia sempat menengok kebelakang. Kedua temannya sudah memberikan senyuman yang menurut Leon sangat menjengkelkan. Sial. Jantung Leon mulai berdetak cepat sekarang.
"Jantungtolongbanget, jangankecepetandetaknya." batin Leon berucap. Dia menghela nafas lalu meyakinkan hatinya, akhirnya dia bisa melihat Zeline dari dekat lagi.
Leon menunduk, dia menyentuh bola basket itu. Kedua matanya menatap wajah Zeline yang terlihat sangat cantik. Sampai kapanpun, Leon akan selalu mengagumi wajah Zeline.
Wajah cantiknya, mata indahnya yang bisa membuat Leon lupa pada sekitarnya, hidungnya yang mungil dan juga bibir tipisnya yang selalu Leon ingin tau bagaimana rasanya.
Tiba tiba, kedua mata Zeline terbuka. Kedua mata indah itu menatap kedua mata Leon. Zeline mengerjap pelan, dapat Leon rasakan jika jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Kedua mata mereka terkunci, Zeline yang menatap Leon bingung dan juga Leon yang menatap Zeline dengan binar bahagia.