"Kak, bocah bocah gini tapi aku bisa bikin dede bayi loh." Leon menyeringai tipis. "Buktinya, itu diperut kakak ada anak aku."
Mei, 2020.
Terdapat 2 Season
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Part 25. Anak Sultan
Dor
"Ugh!"
Leon meringis pelan saat kepalanya terasa sangat sakit. Sebelah tangannya memegangi kepalanya sendiri, kedua matanya terpejam erat. Sial! Zaron memang tidak memiliki akhlak. Kenapa memori itu harus datang saat dirinya tengah melakukan ujian?
"Leon, kamu kenapa?" pertanyaan dari sang Dosen membuat kepala Leon mendongak.
Leon menahan napasnya, mencoba menahan rasa sakit di kepalanya. Leon menghembuskan napasnya pelan, dia menggeleng. "Saya baik baik saja."
"Kau yakin? Wajahmu terlihat pucat." ucap sang Dosen tidak percaya.
Leon mengangguk. "Saya baik baik saja, hanya pusing sedikit. Nanti juga sembuh."
Sang Dosen mengangguk sebagai jawaban. Leon menunduk, mencoba menghilangkan memori saat Zaron memgakhiri hidupnya menggunakan pistol.
Lima menit kemudian, rasa sakit di kepala Leon menghilang. Leon bernapas lega, semoga saja ini memori terakhir kehidupan Zaron. Leon lelah. Lagi pula, keberadaan Zaron sudah tidak ada. Ya Leon harap begitu.
Selesai ujian, Leon langsung menuju kantin. Dia membeli sebotol air mineral lalu duduk di kursi kantin yang masih kosong. Leon meminum airnya dengan rakus, Leon merasa sangat lelah.
"Tadi di kelas lo kenapa?" tanya Bastian, dia duduk di depan Leon.
Leon menggeleng, dia menutup tutup botol itu lalu meletakkannya di atas meja. "Gue gak papa."
"Bohong tuh!" celetuk Bumi, dia duduk di sebelah Bastian. "Jelas jelas tadi gue liat wajah lo pucet banget kek mayat."
Leon mendelik tajam, "Secara gak langsung lo doain gue mati?!"
Bumi nyengir, "Enggak lah. Ya kali gue doain lo mati. Nanti, kak Zeline jadi janda gimana?"
"Mulutnya minta di cabein!" desis Leon, dia melempar botol yang airnya tidak seperempat itu ke Bumi. Dia bangkit, "Udah lah gue mau balik."
"Gak jajan dulu lo?" tanya Bastian, pasalnya Leon selalu menyempatkan dirinya pergi ke minimarket untuk membelikan anak anaknya snack.
Leon mengangguk membenarkan, sepertinya membawa snackuntuk keluarga kecilnya bukan masalah besar.