Langit sore di atas kampus Seoul Arts University tampak buram, seolah menggambarkan isi hatiku yang tengah kacau oleh sesuatu yang bahkan tak bisa aku pahami sepenuhnya.
Aku berjalan menyusuri koridor fakultas dengan langkah hati-hati. Buku-buku di pelukanku hampir terjatuh ketika seorang mahasiswa berjalan tergesa melewatiku. Aku menunduk dan menarik napas panjang. Sudah dua minggu sejak aku pertama kali melihatnya. Kim Seokjin. Mahasiswa tingkat akhir dari jurusan penyutradaraan yang terlalu sering membuatku lupa cara berpikir.
Dia bukan sekadar populer. Dia adalah definisi dari pesona yang tak tersentuh—senyumnya menggetarkan, tatapannya menenangkan, dan suaranya... entah mengapa, selalu mampu memecah kebisingan pikiranku.
Sejak saat itu, aku sering tanpa sadar memperhatikannya dari jauh. Di kantin, di perpustakaan, bahkan di parkiran kampus. Bukan karena aku ingin terlihat seperti penguntit—aku hanya... kagum. Dan mungkin, diam-diam mulai jatuh cinta.
"Yn!"
Suara Hana membuyarkan lamunanku. Ia menggandeng lenganku sambil menyeringai lebar. "Kau melamun lagi ya?"
Aku tersenyum tipis. "Tidak."
"Kau pasti sedang memikirkan Kim Seokjin lagi."
Wajahku memanas. "Aku tidak—"
"Jangan bohong. Kau terlalu sering menatap ke arahnya. Aku pikir kau sudah hapal pola napasnya."
Aku mendesah, lalu menunduk. "Apa itu salah?"
Hana menatapku lembut. "Tidak. Tapi kau terlalu diam. Kalau kau hanya menatapnya dari jauh, bagaimana dia bisa tahu perasaanmu?"
Aku terdiam. Benar juga. Tapi aku tak seberani itu. Bagaimana mungkin seseorang sepertiku—mahasiswa biasa yang bahkan belum berani berbicara langsung dengannya—berani berharap?
.
Sore itu, aku sedang membantu senior di ruang teater. Mereka sedang latihan untuk sebuah pertunjukan akhir semester. Aku hanya bertugas membantu menyiapkan properti. Saat aku sedang memindahkan kursi, aku melihatnya masuk. Kim Seokjin.
Ia mengenakan hoodie abu-abu dan membawa naskah tebal. Ia menghampiri sutradara, berdiskusi sebentar, lalu berdiri sendiri di sudut ruangan.
Jantungku berdetak tidak karuan. Aku berpura-pura sibuk, padahal mataku mencuri pandang.
Lalu, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Tatapan kami bertemu.
Aku membeku.
Dia menatapku selama dua detik penuh, sebelum mengalihkan pandangannya dan tersenyum kecil pada seseorang di belakangku. Aku membalikkan badan, mendapati seorang mahasiswi lain—cantik, karismatik, dan jelas lebih percaya diri dariku—yang berjalan menghampirinya.
Hatiku mencelos.
.
Sepulang dari ruang teater, aku berjalan lambat di koridor yang mulai sepi. Hujan turun rintik-rintik. Aku berhenti di dekat jendela besar, membiarkan hembusan udara dingin masuk ke jaketku.
"Apa gunanya jatuh cinta kalau hanya menyakitkan?" gumamku pelan.
Aku tidak tahu apakah dia pernah menyadari kehadiranku. Tapi yang aku tahu, hatiku sudah menaruh harapan. Aku sering menuliskan namanya di ujung catatanku. Aku diam-diam mencatat jam kelasnya, hanya agar bisa melewati koridor yang sama. Aku bahkan pernah membantu memungut skrip yang ia jatuhkan, tanpa ia tahu.
Namun semua itu hanya milikku sendiri.
Aku hanya seseorang yang berdiri di kerumunan, berharap satu tatapan darinya akan berubah menjadi percakapan. Aku ingin dia melihatku—bukan sebagai seseorang di antara banyak, tetapi sebagai satu yang berarti.
KAMU SEDANG MEMBACA
BTS With Me
Fiksi PenggemarImagine BTS x Yn Berkisah tentang Y/n dan member BTS. Jung Y/n (Yourname) Kim Taehyung (V) Jeon Jungkook (Jungkook) Park Jimin (Jimin) Kim Seokjin (Jin) Min Yoongi (Suga) Jung Hoseok (J-hope) Kim Namjoon (RM). Peringkat paling mengesankan: #1 reade...
