Taehyung | With Her, You're With Him

71 8 0
                                        

Hari itu langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seolah ikut menekan dada Kim Taehyung saat ia turun dari mobil dan menatap gedung kaca bertingkat yang menjulang di hadapannya.

Angin berhembus pelan, membawa aroma hujan yang belum jatuh. Ini hanya urusan pekerjaan, katanya dalam hati. Satu pertemuan untuk menyelesaikan proyek kolaborasi, lalu semuanya kembali seperti semula. Ia tidak tahu bahwa siang itu akan menjadi awal dari sebuah cerita yang seharusnya tidak pernah dimulai.

Ruang pertemuan di lantai delapan tampak sepi ketika ia masuk. Hanya ada suara pendingin ruangan yang mendengung halus dan aroma kopi yang masih hangat di atas meja. Ia duduk dan membuka laptop, mencoba memfokuskan pikirannya.

Lalu pintu terbuka.
Dan segalanya berubah.

Sosok gadis itu masuk dengan langkah ringan. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya tenang, namun ada sorot tajam dalam matanya yang membuat waktu berhenti sejenak bagi Taehyung.

Jantungnya berdetak lebih cepat, tanpa sebab yang bisa ia jelaskan. Ia mengenalnya — bukan secara pribadi, tapi cukup dari beberapa artikel dan foto yang beredar.

Jung Yn, desainer muda yang belakangan ini namanya sedang naik karena karya-karya brilian dan kepribadiannya yang tenang.

"Maaf aku terlambat. Jalanan diluar sangat ramai," katanya sambil tersenyum dan duduk di seberang Taehyung.

"Tak masalah," jawab Taehyung, mencoba terdengar wajar. "Aku juga baru saja tiba."

Ia tidak menyadari bahwa ia menatap terlalu lama, sampai Yn mengalihkan pandangannya sambil tersenyum kecil — senyum yang menyimpan pertanyaan.

Sejak detik itu, percakapan mereka mengalir begitu saja. Tentang proyek, tentang konsep, dan sedikit tentang hal-hal kecil seperti teh favorit dan cuaca hari ini. Tapi ada sesuatu di balik kata-kata mereka yang tak terucapkan.

Di tengah tawa yang pecah karena komentar lucu dari salah satu staf, mata mereka bertemu sekali lagi. Taehyung bisa melihat bayangan dirinya dalam pupil mata Yn — dan untuk sesaat, ia membayangkan dunia lain.

Dunia di mana mereka bertemu tanpa beban, tanpa ikatan, tanpa nama lain yang harus mereka jaga. Namun dunia itu hanya hidup dalam khayalan.

"Aku dengar kau akan menikah bulan depan," kata Yn saat pertemuan hampir selesai. Suaranya tenang, tapi ada jeda kecil sebelum ia mengucapkannya, seolah kalimat itu terlalu berat untuk dikeluarkan.

Taehyung mengangguk perlahan. "Ya. Tunanganku sudah menyiapkan segalanya."

"Selamat," ujar Yn dengan senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Kau juga, bukan?" balas Taehyung.

Yn menunduk sejenak, lalu mengangguk. "Ya. Sebentar lagi."

Keheningan mengambang di antara mereka. Semua kata yang ingin diucapkan terjebak di ujung lidah, dibungkam oleh rasa bersalah yang belum sempat ada.

Ketika mereka berpisah di lobi gedung, hujan mulai turun. Rinai halus membasahi kaca jendela, seperti airmata yang terlalu malu untuk jatuh. Taehyung berdiri di dekat pintu, menatap Yn yang membuka payung dan bersiap menyeberang jalan.

"Jung Yn," panggilnya, nyaris tanpa sadar.

Ia menoleh. "Ya?"

Taehyung ingin mengatakan sesuatu. Bahwa ia merasakan sesuatu sejak detik pertama mereka bertemu. Bahwa perasaannya bukan ilusi singkat. Bahwa ia ingin mengenalnya lebih dari sekadar rekan kerja.

Namun yang keluar hanya, "Hati-hati di jalan."

Yn tersenyum. "Kau juga."

Dan dengan itu, ia pergi, meninggalkan jejak samar yang tidak akan pernah benar-benar hilang dari benak Taehyung.

BTS With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang