Seokjin | I Will Come To You

106 6 0
                                        

Langit malam menyimpan banyak rahasia. Di bawah sinarnya yang pucat, Kim Seokjin duduk di balkon kecil apartemennya, secangkir teh hangat mengepul di genggaman. Udara awal musim gugur mulai menggigit, tetapi ia tidak peduli. Matanya menatap langit yang bertabur bintang, mencari satu yang paling terang—bintang yang sama yang dulu sering ia tunjuk pada seseorang yang telah lama pergi.

Di pangkuannya terbuka sebuah buku catatan kulit berwarna cokelat tua. Halaman-halamannya penuh tulisan tangan, sebagian pudar, sebagian masih baru. Setiap malam, Seokjin menulis satu surat. Bukan untuk dikirim melalui pos, melainkan untuk dititipkan pada angin dan waktu.

"Yn, kau baik-baik saja, bukan?" gumamnya lirih, pena menyentuh halaman kosong. "Hari ini aku melihat gerimis pertama musim ini. Kau pasti akan tertawa jika melihatku berlari menghindarinya, seperti biasa."

Nama itu—Jung Yn—masih terasa utuh dalam ingatannya. Tiga tahun lalu, Yn memutuskan mengejar beasiswa seni di Eropa. Keputusan itu mendadak, tapi Seokjin tak pernah menyalahkannya. Ia tahu, impian yang ditunda akan membusuk. Maka ia melepasnya dengan senyum yang nyaris patah.

Mereka berjanji untuk saling menulis, saling mengabari. Tapi seperti banyak janji yang dibuat di bawah bintang, semuanya perlahan memudar. Hanya Seokjin yang terus menulis.

.

Di belahan dunia lain, jauh dari kota Seoul yang hangat, Jung Yn menatap kanvas kosong di depan jendela asramanya di Paris. Musim gugur di sini terlalu dingin untuk hatinya. Ia menggenggam kuas dengan tangan gemetar, tetapi inspirasi tak kunjung datang. Sudah berbulan-bulan ia kehilangan arah. Ia merasa asing, tidak hanya pada tempat ini, tapi juga pada dirinya sendiri.

Ponselnya berdering pelan. Pesan dari ibunya.

[Ibu mimpi kau duduk di balkon bersama Jin.]

Yn terdiam.

Sudah berapa lama ia tak menyebut nama itu? Kim Seokjin. Sosok yang pernah menjadi rumah di tengah dunia yang ribut. Sosok yang memeluknya ketika dunia menolak lukisannya. Sosok yang, meski tak pernah memintanya untuk tinggal, selalu membuatnya ingin kembali.

Dengan jemari ragu, ia membuka galeri ponselnya. Foto-foto lama muncul. Di salah satunya, Seokjin tersenyum lebar sambil menatap langit malam. Di tangannya, sebuah catatan kecil: "Untukmu, yang selalu kucari di antara bintang."

Air mata jatuh begitu saja.

.

Di Seoul, Seokjin menulis:

Yn, aku tidak tahu apakah surat-surat ini akan pernah sampai padamu. Tapi aku percaya satu hal: ketika kau merasa lelah, ketika dunia menjadi terlalu berat, aku akan datang. Kau tidak perlu mencariku. Aku akan datang, selalu.

Ia menutup buku catatan itu, menatap bintang yang sama lagi. Lalu ia tersenyum.

"Aku akan menemanimu, kapan pun kau butuh aku."

.

Hujan mengguyur jalanan Paris malam itu. Jung Yn berjalan menyusuri trotoar berbatu, payung hitamnya menari-nari tertiup angin. Di dalam mantel panjangnya, ia menggenggam sebuah buku kecil—sketsa yang tak pernah selesai. Tujuannya satu: galeri seni kecil di Rue des Étoiles, tempat ia pernah menjalankan pameran pertamanya.

Langkahnya berat. Setiap sudut jalan menyimpan bayangan kenangan—tawa rekan seniman, malam-malam panjang menatap lukisan, dan mimpi yang dulu terasa dekat. Tapi kini semua itu tampak memudar. Ia bahkan mulai bertanya-tanya, apakah semua perjuangannya masih berarti?

Saat sampai di depan galeri, jendela kacanya berembun. Di dalam, lampu kuning temaram menciptakan suasana hangat. Ia mendorong pintu perlahan dan disambut suara lonceng kecil yang menggantung di atasnya.

BTS With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang