Sinar mentari sore mulai terlihat, jimin dan eunha masih belum berbaikan. Jimin sedaritadi di kamar, tidak tau berbuat apa. Sedangkan eunha dia berulang kali pergi ke dapur dan ruang keluarga
"Aegi, aku bosan.. aku rindu appa mu"
Ceklek
Eunha langsung membalikkan dirinya ke arah dimana suara pintu itu terbuka dan tertutup, berharap bahwa jimin segera menyesal dengan perlakuannya tadi siang. Senyum merekah di wajahnya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"J-ji.. mau kemana?"
"Keluar"
Punah harapan eunha untuk jimin menyesal padanya
"Bo-boleh aku ikut??", Pemikiran eunha penuh dengan harapan iya dari jimin
"Tidak, kau dirumah saja, aku hanya sebentar"
Jahat! Kau jahat!
Eunha menggerutu dalam dirinya, dia benci jimin yang sikapnya seperti ini
"Aku hanya ingin ikut, apa salahnya?", suara kecil dan isakannya yang keluar dari bibir eunha menuai perhatian jimin, dia berbalik dan melihat eunha tertunduk dengan tangannya kedepan, menangis
"Hey.. eunha, sayang"
Dia mendekati eunha dan menyeka air matanya, eunha tidak berani menatap wajah jimin, dia takut akan amarah jimin yang mungkin akan melunjak lagi
"Lihat aku", jimin membenarkan kepala eunha yang tertunduk untuk melihat kearahnya, bulu mata yang basah dan mata odd eye kesayangan jimin itu memerah
"A-aku hanya ingin ikut, tapi kau marah padaku, aku salah apa sampai kau tidak mau berbicara padaku"
Jimin hanya tersenyum dan menghembuskan nafasnya, jimin bodoh, eunha hanya menginginkan jimin sekarang
"Maaf aku marah padamu, aku kesal melihatmu kegirangan melihat jungkook tadi dan kau juga memeluknya seperti itu, aku sedikit kesal"
"Kau bisa bilang padaku jika kau tak suka", kata eunha
"Kau masih marah?",sambungnya. Jimin hanya memberikan gelengan pada eunha
"Ayo kita pergi", ajakan jimin
"Kemana??"
"Aku tadi ingin membelikan ramen untukmu, hehe", tawa jimin dan masih menggenggam tangan eunha
Eunha melepaskan tangannya, jimin yang melihat itu pun kebingungan dengan tingkah laku eunha
"Ada apa eunha?"
"Kau tidak perlu membelikanku ramen, aku sudah kenyang"
Jimin lalu mengiyakan tolakan eunha, dia tidak ingin itu dan jimin juga tidak akan membelinya
"Cokelat putih?", Tanya jimin, sekali lagi dia dapat penolakan dari eunha
"Jadi kau mau apa?", Pasrah dengan tawarannya yang ditolak terus oleh eunha
"Aku hanya ingin dirumah, denganmu"
Jimin langsung menggendong eunha dan membawanya ke kamar
"Kita akan bermain?"
"Ya!! Pabo!! Tidak!! Lepaskan aku!!"
Jimin hanya terkekeh dengan eunha yang menggeliat meminta dilepas dalam gendongannya
"Lepaskan!!"
Eunha memukul-mukul pundak jimin, membuat jimin merasa nyeri
"Nee, tidak tidak, aku hanya bercanda, berhentilah memukul ku, ini sakit. Kau juga diam saja eunha, nanti kalau kita jatuh kan berabe"
***
Setelah memasuki kamar, mereka tidak berbuat apa-apa, eunha bilang dia lelah karena harus berjalan keluar kantor jimin dengan perutnya
"Ji, jungkook tadi, ada apa??", Tanya eunha yang awalnya ragu untuk menanyakan tentang jungkook, tapi tetap ditanya karena rasa penasarannya
"Ah.. dia bilang padaku, dia manyukai perempuan dan katanya mereka akan bertunangan"
Eunha yang tak percaya mendengarnya langsung mengalihkan tubuhnya kehadapan jimin
"Mwo?? Wah.. kapan dia dekat dengan perempuan??"
"Hem.. entahlah, kurasa baru-baru saja, tapi secepat itu mereka bertunangan"
Eunha hanya mengangguk-angguk
"Tapi jungkook bilang padaku, dia memang menunggu perempuan itu, dia bilang padaku temannya sejak masih sangat kecil"
"Sangat kecil?", Eunha hampir tertawa
"Tidak, tidak, ya! Jangan tertawa.. maksudku mungkin balita mereka sudah berteman dekat", eunha menyenderkan kepalanya di dada jimin
"Pantas saja jungkook menolak banyak perempuan, dia menunggu seseorang ternyata", ujar eunha
"Eung.. dan dia juga bilang kalau perempuan itu sudah kembali ke korea"
"Kembali? Maksudnya?", Tanya eunha bingung dan menengadahkan kepalanya keatas
"Ya kembali maksudnya dia tidak tinggal di korea dulu"
"Lalu dimana?"
Jimin yang terus-menerus diberi pertanyaan sudah kelelahan
"Mulut itu banyak bertanya ya? Perlu ku hentikan?", Hanya pertanyaan tapi bisa membuat eunha tertawa
"Caranya?"
"Seperti ini", lalu jimin menciumnya singkat
"Sudah kan.. tidak bertanya lagi", jimin tersenyum lalu dia menutup matanya
"Ji.."
"Hm?", Tanpa membuka matanya
"Jii"
"Ada apa eunha?", Masih tidak ada niat untuk membuka matanya
"Jangan tidur, ini masih sore", tutur eunha
Dia menghadap ke jimin yang sedang bersandar di dashboard
"Jangan tidur"
Eunha berusaha membuka mata jimin menggunakan tangannya
"Aduh, eunha perih!", Jimin mengucek-ucek matanya yang katanya perih itu
"Makanya jangan tidur!"
"Tapi aku ngantuk sayang"
"Tapi aku tidak, jangan tidur"
Jimin yang benar-benar kelelahan tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan eunha berbuat sesuka hati pada dirinya