Cancelled

1.1K 75 0
                                        

Eunha terbangun dari tidurnya, dilihatnya jendela sudah terbuka dan memunculkan sinar mentari pagi. Dia membuka matanya perlahan, badannya masih sangat lemas.

"Kau sudah bangun??"

Suara itu berasal dari belakangnya. Jimin ternyata, mereka masih bermalas-malasan diatas ranjang.

"Emm..", jawabnya singkat. Dilihatnya lengan jimin masih melingkar setia diperutnya. Kepalanya ditenggelamkannya dipunggung Eunha

"Aku membatalkannya", eunha yang mendengar itu segera berbalik

"Wae?? Apa yang kau batalkan??"

"Honeymoon kita. Aku membatalkannya"

"Mwo?? Kenapa kau batalkan??", jimin mengangkat kepalanya, melihat wajah bantal eunha

"Kau sakit, aku tidak mau jika kita pergi kesana kau akan bertambah sakit. Jadi aku menelpon eomma semalam, aku bilang batalkan karena kau sedang sakit", eunha mendengarnya jelas

"Apa yang kau lakukan?? Eomma akan kecewa jimin-ah..."

"Gwaenchana. Dia mengerti, tak mungkin dia memaksakan kita tetap pergi jika kondisimu tidak sehat. Kita akan pergi lain waktu"

"Em.. Baiklah, jadi?? Kau akan kerja hari ini??", eunha memasang muka sedihnya. Dia masih belum bisa menerima sekretaris jimin untuk bekerja dengannya. Lagian tae dan jungkook juga kurang ajar. Mereka mencarikan sekretaris yang fisik nya membahana

"Ani.. Aku akan merawatmu, aku tidak tega jika meninggalkanmu sendiri disini", ucapan jimin membuat eunha mengulas senyum. Ditariknya ceruk leher Jimin, memberinya morning kiss. Jimin bahkan tidak tau jika istrinya akan melakukan ini tanpa ia minta

"Ke-kenapa tiba-tiba sih??", muka jimin memerah. Dia malu. Sangat menggemaskan jika dilihat.

"Aku akan memasak, kau mau apa??", eunha beranjak dari ranjangnya. Tapi ditahan oleh jimin

"Aku sudah memasak. Tak perlu memasak lagi, ayo makan.."

Ruang makan.

"Enak???", jimin melihat eunha yang melahap masaknnya itu. Berharap eunha suka

"Umm??? Enak sih.. Tapi jika kau menambahkan garamnya sedikit lagi, mungkin ini sempurna", dilihatnya jimin, sangat serius.

"Sengaja. Aku tidak terlalu suka jika menaruh garam pas-pasan, lebih baik jika kurang", eunha yang mendengar itu hanya mengangguk-angguk. Diam. Jimin sedang melihat ponselnya, sedangkan eunha masih setia dengan makanan jimin

"Jimin", jimin langsung meletakkan ponselnya, beralih pada eunha.

"Ada apa??", eunha hanya menatapnya. Pikirannya kosong tiba-tiba. Jimin kebingungan melihatnya. Apa yang dipikirkan eunha? Dia menjentikkan jarinya

"Ah.. Ani", tersadar dari lamunannya dan kembali makan.

"Ada apa??", jimin memberhentikannya

"Ti-tidak ada..", aneh. Eunha tidak biasanya seperti ini.

"Kau ingin sesuatu??"

"Apakah kita bisa pergi??"

"Kemana??"

"Jalan-jalan. Aku sedang ingin pergi bersamamu, tak apa kan??", mendengar permintaan eunha jimin tertawa. Dia bosan rupanya.

"Eoh.. Cepatlah siapkan makanmu, kita akan pergi"

***

"Kita sampai~ ayo turun..", jimin keluar dari mobilnya. Mereka sedang berada ditaman. Berjalan-jalan disana. Tidak banyak orang disini. Jadi mereka bisa lebih leluasa untuk bermain

Be Your PartnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang