Drrt.. Drrt..
Ponsel Eunha berbunyi, tapi pemiliknya hanya diam saja, tidak mau mengangkatnya. Jimin yang sudah menyuruhnya tetap saja dia tidak mau mengangkatnya. Jadi terpaksa Jimin yang mengangkatnya
"Ini eomma", katanya
Piip..
"Nee eomma??", Jimin menekan tombol loudspeakernya
"Oh?? Jimin?? Kenapa kau yang mengangkat telepon Eunha?? Kau tidak kerja??"
"Ah.. Iya eomma, aku tidak kerja. Tiba-tiba Eunha menyuruhku tidak boleh kerja. Ada apa eomma??"
"Aigo.. Maafkan dia Jimin, kau jadi tidak kerja hari ini. Seharusnya kau biarkan saja, tidak usah dimanjakan. Ah.. Ini, eomma dan eommamu berencana akan membelikan kalian tiket"
Eunha dan Jimin sama-sama mendang satu sama lain. Bingung. Tiket apa itu dan untuk apa tiketnya
"Untuk honeymoon mu dengan Eunha", sambung eomma Jimin
"Tu-tunggu dulu eomma. Tidak usah, kami akan disini saja", Jimin dan Eunha kaget mendegar kalimat dari eomma jimin
"Ada apa?? Kalian tidak mau??",nada yang sedikit agak kecewa
"Aniyo eomma.. Hanya.. Kan eomma sudah tau pekerjaanku menumpuk. Kami akan membicarakan ini jika semuanya sudah beres",Jimin bersikeras meyakinkan eommanya agar mereka tidak terlalu buru-buru
"Tak apa.. Eomma sudah memberitahukan tae dan jungkook. Mereka yang akan menggantikanmu. Tak perlu cemas, mereka sangat senang ketika eomma meminta izin. Lagian... Kalian juga belum melakukannya kan?? Eunha juga belum diisi kan??", Eunha kaget. Kedua eomma nya ini benar-benar kompak dan sangat bersemangat ingin punya cucu. Sampai dibelikan tiket untuk honeymoon.
"Eo-eomma!!"
"Tidak ada tapi-tapian.. Kami akan menjadwalkan keberangkatan kalian. Mungkin lusa kalian sudah berangkat. Jadi bersiaplah!! Kami tutup dulu"
Piip.
Eunha tidak bisa berkutik sekarang. Dia membeku sekarang. Hanya bisa memandang wajah Jimin kosong.
"Gwaenchana?",mengguncangkan tubuh Eunha
"Hah??? Ah.. Nee, gwaenchana"
"Jika kau tak mau, tak apa. Aku akan berbicara pada eomma dan membatalkannya"
"Tidak.. Tidak usah.. Aku mau"
Jimin senang. Dia senang sekali. Itu berarti Eunha sudah siap kan?
"Ta-tapi.. Aku masih tak ya-yakin.. Aku masih ta-takut jika me-melakukannya..", terbata-bata
"Tidak apa!! Aku akan bermain pelan"
***
Hari sudah semakin gelap. Mereka sedang diruang keluarga, makan seraya menonton televisi.
"Sudah siap?? Sini piringmu", tanya Eunha berdiri dengan membawa piringnya
"Eoh.."
Eunha mencuci piring didapur. Sementara Jimin masih setia menonton televisi. Tapi tiba-tiba saja ada sesuatu yang melingkar dipinggul Eunha. Itu jimin.
"Ada apa?? Kau mau sesuatu??", tanyanya
"Tidak.. Aku hanya senang, tidaka sabar untuk lusa nanti. Ayo kita bersiap-siap!!", senyum tulus dari Jimin muncul memperlihatkan eyes smile nya. Eunha menjawabnya dengan senyuman juga. Terbesit didalam hati Eunha sebenarnya dia sangat takut untuk melakukannya. Tapi tak mungkin dibatalkannya, eomma juga sudah sangat ingin punya cucu juga. Jadi dia tak bisa apa-apa
"Kajja!!"
***
"Ponselnya mati?? Apa mungkin dia sudah tau aku yang melakukannya??"
Yeri gelisah. Dia menyesal karena melakukan hal itu kemarin. Seharusnya dia lebih memikirkan resiko yang akan datang padanya jika dia meletakkan liptint tu disaku jimin. Jimin akan menjauhinya dan memecatnya karena perbuatannya itu. Bisa saja kan? Jika memang benar, maka habis lah dia, berpisah dengan Jimin. Dia akan mendapat penolakan mutlak dari Jimin
"Ah.. Seharusnya aku harus lebih memikirkan resikonya dan seharusnya aku tidak terlalu nekat untuk melakukannya"
Jujur, dia tidak tidur malam itu. Dia hanya modus. Jimin memang sudah mencoba untuk membangunkannya. Menepuk pipinya dan mengguncangkan tubuhnya. Tapi tetap saja dia berpura-pura tidur. Jimin harus mengangkatnya. Dan itu terjadi, jimin mengangkat yerin dan membawanya ke apartmentnya. Disela-sela perjalanan ke kamarnya. Tangan kanan yerin lihai sekali. Dia sudah memegang liptintnya terlebih dahulu dan diam-diam dia memasukkannya ke saku jimin. Dan bodohnya Jimin tidak merasakannya.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Be Your Partner
RomanceApa yang terlintas dipikiran kalian ketika mendengar kata JODOH?
