Mark

1K 83 0
                                        

"PARK JIMIN?!!!!!!!"

Suara jeritan Eunha pagi ini menggelegar sampai bawah. Jimin sedang memakan sarapannya. Sedangkan Eunha ada dikamar. Awalnya dia kekamar karena dilihatnya baju yang dikenakan Jimin semalam tidak ada, Jimin mengatakan bahwa baju yang ia gunakan masih ada dikamar. Jadi Eunha pergi kesana untuk mengambil baju itu. Dia benar-benar kaget ketika melihat noda merah dibajunya itu dan juga ada liptint yang sepertinya warna itu berasal

"Ada apa sayang?? Ini masih pagi.. Kenapa kau berteri-- argh!!"

Jimin mendatanginya kekamar dan langsung disambut oleh tumbukan Eunha

"Aku beci kau!! Jika memang tidak suka lagi, maka ceraikan aku!!"

Eunha sedikit menekankan perkataannya. Dia mencampakkan baju Jimin tepat dimukanya. Jimin sendiri melihat bajunya itu. Apa yang salah dari sini? Ketika dia ingin mengembangkan baju itu. Jatuh sebuah liptint merah dan juga menampakkan noda merah dari liptint itu.

"A-apa ini?? EUNHA!!!"

Dia mencari Eunha. Ternyata Eunha sedang ada dikamar sebelah. Dia keluar dari sana dan juga membawa koper. Membuka pintu lemari dan langsung menyusun bajunya kedalam koper.

"Eunha!! Eunha!! Eunha.. Kumohon dengarlah dulu penjelasanku"

"Apa yang ingin kau katakan, hah?!! Aku tidak ingin mendengar ucapan manis dari mulutmu itu!! Lepaskan tanganmu!! Kau benar-benar memuakkan!!", dia menghempas tangan Jimin. Tapi Jimin tetap kekeh dan memeluknya kembali. Tak ingin Eunha pergi

"Aku mohon.. Hiks.. Dengarlah dulu, maafkan aku", terdengar tangisan Jimin membuat Eunha merasa bersalah. Tangannya terdiam. Dia pun juga ikut menangis.

"A-apa?? Ke-kenapa kau selingkuh?? Siapa dia?? Apa dia sekretarismu?? Kau menyukainya?? Semalam aku mencium parfum perempuan. Apakah itu juga parfumnya??", suara eunha terdengar begitu lembut dan lemah disertai dengan suara tangisnya. Sakit sekali rasanya.

"Aku tidak selingkuh dengannya. Aku akan menceritakannya padamu. Percayalah, aku tidak selingkuh. Aku mencintaimu eunha, sangat. Tadi malam aku memang ada jadwal rapat. Aku pergi dengannya karena aku juga butuh bantuannya. Jadi kujemput dia semalam diapartmentnya lalu kami langsung pergi. Ketika rapat itu selesai, aku kasihan dengannya. Dia tidak ada tumpangan, jadi aku memberinya tumpangan. Ketika sampai depan apartmentnya. Dia tertidur, jadi ku angkat dia. Lalu kuletakkan dia ke apartmentnya. Kupikir noda ini karena kepalanya terlalu dekat dengan bajuku dan parfumnya juga melekat dibajuku, tapi yang membuatku bingung, liptint ini kenapa ada di saku bajuku? Aku benar-benar tidak tau jika liptint itu ada disaku ku"

Eunha semakin geram melihat Jimin. Pasalnya dia mengangkat wanita itu dan pergi ke apartmentnya. Pikiran negatif pun mulai merejalela masuk kedalam pikiran Eunha

"Kau melakukannya hah??!", rahangnya tertekan

"Tidak!! Tidak mungkin aku melakukan dengannya!! Aku tidak akan melakukannya jika bukan bersama istriku. Dan itu kau"

Eunha tidak bisa lagi berpikiran positif. Semua yang berhubungan dengan negatif memaksa masuk ke pikirannya.

"Aku beci kau!! Hiks.. Aku benci kau!!"

Tangisnya pecah ketika Jimin memeluknya. Hangat tapi terasa sakit.

"Percayalah.. Aku tidak melakukan apapun padanya"

...

Sudah lama mereka disini. Dalam keadaan berpelukan. Jimin sepertinya tidak kerja hari ini. Dia benar-benar meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk tidak meninggalkan Eunha. Padahal dirinya seharusnya bekerja hari ini. Tapi karena situasi yang mendadak seperti ini dia jadi tidak bekerja. Tapi Eunha sangat bersyukur. Pasalnya Jimin lebih memprioritaskan dirinya daripada kerjaannya itu. Sangat bagus dia tidak bekerja agar tidak bertemu dengan sekretarisnya itu.

"Kau ingin keluar, hm??"

Jimin mengeluarkan suaranya. Mencairkan suasana yang hening ini. Eunha sudah diam dan tetap memeluk Jimin. Pertanyaan dari jimin dijawab oleh eunha dengan gelengan kepala

"Aku ingin disini", suaranya sangat lemah

"Begitu.. Tidak apa. Kita akan menghabiskan waktu seharian ini"

Jimin mengangkat tubuh Eunha dari lantai membawanya keranjang putih yang tak jauh dari jarak mereka.

"Aku akan ambil eskrim. Tunggulah disini"

Baru saja ingin beranjak pergi. Eunha semakin mempererat pelukannya. Dia tidak mau jauh dari Jimin.

"Tidak, aku sedang tidak mood"

Jimin yang merasakan pelukan erat Eunha semakin melebarkan senyumnya. Sepertinya eunha memang sudah berubah. Dia menjadi pribadi yang sangat lembut dan juga manja

Drrt.. Drrt..

Jimin mengambil ponselnya disakunya. Dilihatnya siapa yang menelpon. Eunha yang tau ponselnya bergetar juga ikut mengintipnya. Dilihatnya nama sekretaris jimin dilayar itu. Langsung saja dirampasnya ponsel itu dan dimatikannya, lalu melemparnya kebagian kasur lain.

"Sayang.."

"Tidak jimin.. Aku tidak suka"

"Tapi bagaimana jika ada rapat mendadak dan dia ingin memberitahuku itu?? Dan juga laporan yang harus kutanda tangani?? Bagaimana jika dia menelponku untuk memberitahuku tentang semua itu?"

"Yasudah sana. Jika kau memang ingin menjawab telponnya, pergilah dariku. Jauh-jauhlah kau mengangkatnya"

Eunha melepaskan pelukannya dan langung berbaring dikasur membelakangi jimin. Jimin pasrah. Ternyata ada sisi lain dari Eunha. Dia sangat pencemburu.

Srrt..

"Baiklah.. Aku tidak akan mengangkatnya", sambil mengecupi leher Eunha

"Tak apa. Jika memang itu kerjaan aku tidak akan memaksamu lagi"

Tidak ada jawaban dari Jimin. Dia sedang asik mengecupi leher Eunha.

Tbc.

Be Your PartnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang