Semuanya sudah pulang. Disinilah mereka sekarang. Berada di apartment Jimin. Eunha dan Jimin yang masih menggunakan gaun dan jas terlihat gerah. Eunha yang melihat Jimin sinis diketahui Jimin
"Apa?", tanya Jimin. Tapi Eunha masih menatapnya dalam dan sinis. Dia harus berhati-hati. Ini malam yang sangat rawan untuknya
"Apa?? Kenapa kau melihatku seperti itu?? Ah.. Aku akan mandi du--"
Sontak mata Jimin membelak. Eunha berlari kencang kedalam rumah dengan gaunnya yang diangkatnya. Membuat Jimin kebingungan
"TIDAK!! AKU AKAN MANDI DULU!!"
Mau mandi ternyata. Jimin yang menyadari itu langsung berlari ke dalam dan berteriak kalau dia yang akan mandi duluan. Jas yang dipakainya sungguh tak nyaman. Mereka berlarian di tangga. Memperebutkan kamar mandi itu
"Eunha!!! Aku yang mandi dulu!!! Ini rumahku!!"
"Tidak!!!"
Eunha yang sampai duluan ke kamar langsung mengunci kamar itu. Jimin yang berada diluar hanya bisa mengetuk-ngetuk pintu putih itu sembari berteriak jika eunha harus membukanya.
"Kau harus mengalah!! Lagian kan kau bisa mandi dikamar sebelah!! Kenapa harus disini??!"
"Tapi kamar itu terkunci!! Dan kuncinya ada didalam kamar ini. Bukalah!!"
"Salahmu kenapa menguncinya!!"
Baru saja menjadi pasutri. Mereka sudah berkelahi hanya karena masalah kamar mandi. Hal yang sangat sepele. Eunha yang sedaritadi mencoba untuk membuka resleting gaunnya itu menyerah. Tangannya pendek, tak bisa membukanya. Resleting itu juga susah untuk dibuka. Bagaimana ini ya Tuhan... Dia benar-benar pasrah. Tidak bisa membukanya.
Ceklek
"Yaa!! Aku yang mandi dul-- ugh!!"
Eunha membuka pintunya dan disambut dengan omelan heboh Jimin. Dia langsung menumbuk perut abs Jimin.
"Ada apa?! Kenapa kau menumbukku?! Dan kenapa kau belum mandi?? Sudah aku akan mandi duluan"
"Se-sebentar!! A-aku ke-kesusahan"
"Apa maksudmu?"
"Ga-gaunnya.. A-aku tidak bisa me-membukanya"
Jimin langsung menaikkan alisnya. Eunha melihatnya dan tertunduk. Diam-diam Jimin memunculkan smirk nya. Tamatlah Eunha malam ini. Sepertinya dia tak aman. Jimin akan menerkamnya. Dan ini semua salah gaun sialan ini.
"Berbaliklah"
Eunha yang disuruh untuk berbalik menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar takut sekarang. Jimin yang melihatnya tau Eunha pasti takut karena pembicaraannya dengan hyungnya tadi.
"Berbaliklah.. Kau tidak mau kan memakai gaun itu untuk tidur?? Jadi untuk apa kau keluar dan memberitahuku jika gaunmu tidak bisa dilepas?? Aku tau kau membutuhkan bantuan. Maka berbaliklah, agar aku bisa membantumu"
Eunha yang masih tertunduk itu perlahan berbalik. Memperlihatkan setengah punggung putihnya. Dia menyibakkan rambut Eunha yang tergerai kedepan. Tapi bandelnya Eunha, dia menyibakkannya lagi kebelakang.
"Ya!! Aku tidak bisa melihat resleting nya jika kau menyibakkan rambutmu kebelakang"
Eunha hanya diam. Diarahkan lagi rambutnya kedepan oleh Jimin. Saat dilihatnya, resleting itu rusak.
"Apa yang kau lakukan dengan gaun ini?? Bagaimana kau coba membukanya tadi??"
"Aku mencoba membuka sampai bawah. Tapi tanganku terlalu pendek, jadi hanya bisa dibuka sebagian. Lalu kukira bisa terbuka. Ternyata tidak bisa. Jadi aku menarik paksa kebawah"
Jimin masih bergelut dengan resleting Eunha sambil mendengar penuturan Eunha. Pantas saja rusak, dia berusaha menarik nya kebawah. Mereka berdua sekarang sudah terduduk diranjang. Eunha bilang kakinya sakit. Jadi Jimin menyuruh mereka masuk ke kamar dan duduk diranjang.
"Bagaimana?? Apa bisa?? Serusak apa sih??"
Jimin hanya mendengarkan Eunha. Dia tak berkutik. Tapi, dibalik diamnya Jimin. Sebenarnya resleting itu sudah bisa dibuka. Tapi ntah kenapa Jimin tak ingin memberitahunya. Jimin sesekali memperhatikan Eunha didepannya. Dia bersenandung, membuat Jimin mengulas senyuman. Dia perlahan melepas resleting itu agar Eunha tidak menyadarinya. Terpampang jelas punggung Eunha. Mulus dan putih
"Sudah??",tanya Eunha
"Emm.."
"Baiklah aku akan mandi"
Baru saja ingin bangkit. Jimin menahannya.
Chup~
Dia menciumi leher belakang Eunha. Eunha merinding saat Jimin melakukan itu padanya.
"Ji-jimin.. A-aku a-akan mandi"
"Sebentar saja. Aku ingin"
Jimin masih mengecup lehernya itu sesekali dia membuat tanda kepemilikan disana.
"Emmh.. Ji-jimin..."
"Hem?? Kau suka??"
"Ja-jangan digigit uh.."
Cukup lama Jimin menyiumi leher Eunha. Eunha benar-benar mencoba untuk tidak mengeluarkan suara yang akan menimbulkan nafsu Jimin.
"Ji-jimin.. A-aku ingin ma-mandi.."
Jimin yang mendengar itu melepaskannya. Dia terlalu asik memainkan leher istrinya. Sampai tak sadar kalau ini sudah hampir larut
"Pergilah. Aku akan mandi di kamar sebelah"
***
Setelah mandi. Jimin kembali ke kamarnya. Dia melihat Eunha yang sudah ada diranjang. Menutupi diriny dengan selimut putih. Dia malu. Bohong jika dia tidur. Jimin tau itu, dia belum tidur.
Eunha merasakan kasurnya bergerak-gerak. Itu mengartikan bahwa Jimin sudah naik di atas ranjang. Dia masih benar-benar takut. Takut Jimin kebablasan. Tapi yang tadi itu juga cukup dinikmatinya. Muna sekali dia tidak menikmati permainan Jimin tadi.
"Kau sudah tidur, hm??"
Suaranya berat sekali. Dia dekat sekali dengan Eunha. Sampai deru nafas Jimin terdengar olehnya, behembus diceruk lehernya. Dan tidak lupa lengan kekar itu melingkar dipinggul kecil Eunha.
Chup~
"Tak perlu takut.. Aku tidak akan melakukannya malam ini. Aku tau kau belum siap. Tak apa. Tapi biarkan malam ini seperti ini"
Eunha merinding. Sungguh. Dia sudah keringat dingin. Ucapan Jimin membuat jantungnya bekerja dua kali lebih cepat. Berarti dia akan tetap melakukannya kan? Dia hanya membiarkan Jimin menciumi lehernya. Tak membantah. Dia tau jika Jimin mau itu. Tapi Eunha belum siap. Jimin mencoba menahannya
KAMU SEDANG MEMBACA
Be Your Partner
RomantikApa yang terlintas dipikiran kalian ketika mendengar kata JODOH?
