Fever

937 56 2
                                        

Hari ini seharusnya jimin pergi ke kantornya dengan perasaan yang tenang dan lega, tapi nyatanya tidak. Eunha demam pagi ini. Pukul tiga pagi dia sudah merengek-rengek pada jimin karena badannya yang panas itu

"Eunha?". Jimin membuka pintu kamarnya, baru saja dia mau memberi obat pada eunha, dan ternyata eunha tertidur. Dia mendekati eunha dan duduk diujung ranjang, muka eunha memerah ketika dia sakit, sangat lucu

"Sayang..", dipegangnya pipi eunha, masih panas, demamnya belum turun. Eunha membuka matanya sedikit, lalu dia memegang tangan jimin yang berada di pipinya

"Izinkan aku untuk tidak kerja hari ini, aku ingin menemanimu", pintanya dan dibalas gelengan kepala dari eunha

"Kau sudah terlalu banyak bolos ji.. Pergilah, aku.. uhuk! Bisa jaga diriku sendiri", dengan suaranya yang lemah

"Kau yakin? Demam mu tidak turun sayang, apa perlu ku panggilkan nena?",lalu eunha menggeleng

"Em.. Baiklah, tapi janji padaku, jika kau butuh sesuatu telpon aku, nee?? Aku juga akan cepat pulang hari ini"

Sebelum jimin ingin beranjak dia mencium eunha dulu, lalu dia pergi

***

"Dimana eunha? Dia tak ikut?"

Taehyung datang dengan indahnya tanpa mengetuk pintu kantor jimin dan mengganggu jimin yang sedang berusaha keras untuk menyelesaikan kertas itu

"Eum"

"Kenapa?", jawabannya tak direspon oleh jimin, dia hanya asik menulis-nulis

"Kenapa jim?", tanyanya lagi

"Haiiss.. Kenapa kau banyak sekali tanya, dia sedang sakit, aku ingin pulang cepat, sudahlah jangan ganggu aku", lalu jimin menulis lagi

"Ah.. Sakit ya? Aku akan ke apartemen mu nanti", jimin hanya mengangguk. Bukannya keluar dari ruangan jimin, taehyung malah duduk di sofa

"Kenapa kau masih disini? Keluarlah, mukamu sangat menggangguku"

"Ya! Jimin-ssi, bagaimana dengan rumah itu? Apakah sudah selesai?"

"Eoh?? Sudah.. Aku sudah mengeceknya sebelum kemari tadi, apakah kau rasa dia akan suka? Aku takut jika dia tak suka", karena taehyung, jimin memberhentikan tulisannya dan beralih menatap muka lawan bicaranya ini

"Ya! Kau bercanda?! Pasti dia suka bodoh", mendengar ucapan bodoh itu untuk dirinya, jimin langsung melempar botol minumnya kearah taehyung

"Sepintar apa kau rupanya, eoh??? Sudahlah, kau keluar sana, pekerjaanku bisa-bisa tak siap karena kedatangan perusuh", dan lalu taehyung pun keluar

***

Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Kertas itu benar-benar menumpuk diatas mejanya, hanya tinggal beberapa lembar lagi lalu dia akan pulang. Sejenak dia meletakkan kepalanya di sandaran kursi, meregangkannya, lalu menutup matanya

Dan tak lama, dia teringat pada eunha. Satu harian ini dia sangat fokus pada kerjaannya dan tak mengirimkan eunha kabar. Dia mengambil ponselnya dan menekan papan tombol

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif

Itulah yang terdengar ditelinga jimin, berkali-kali dia menelpon eunha, dan tetap sama. Panik pun melanda dirinya. Bagaimana jika eunha dalam bahaya seperti kemarin? Bagaimana jika nanti jimin sampai dirumah dia disambut dengan darah? Bagaimana nanti jika jimin membuka pintu dan eunha tak ada didalamnya?

Semua pemikiran negatif itu terlintas dikepalanya dan karena itu jimin meninggalkan seluruh berkas-berkasnya diatas meja kerjanya dan keluar mengarah ke yoora, meminta berkasnya untuk dikerjakan sedikit lagi dan berlari ke parkiran.

***

Sepanjang perjalanan muka jimin tidak bisa berhenti mengatakan jika dia khawatir pada eunha. Bagaimana tidak? Ponsel eunha masih tidak aktif, dan syukurnya untuk jimin, dia tak berhadapan dengan lampu merah dijalan, jadi dia bisa melajukan mobilnya cepat.

Piip

"Eunha?! Sayang???", jimin membuka pintunya, senyap dan kosong

Tempat yang langsung dikunjunginya adalah kamar, karena eunha sakit, tak mungkin dia pergi berjalan-jalan dirumah ini.

Braak!!

"Sayang!—"

Tbc

Be Your PartnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang