Civil War

1.6K 78 0
                                        

Eunha selesai beberes rumah. Sekarang dia sedang duduk diruang keluarga. Memperhatikan jam. Dia lagi-lagi kesepian. Berharap Jimin agar pulang celat hari ini.

Ting tong...

Bel rumah berbunyi. Dia berpikir itu adalah Jimin, dia melompat dari sofa dengan senyuman dimukanya dan berlari ke arah pintu. Tapi apa yang didapatinya? Itu bukan Jimin, intercom yang ada disamping pintu itu memperlihatkan seorang pria berjas rapi dan tampan. Awalnya Eunha bingung untuk membukakannya atau tidak. Dia berkali-kali menelon Jimin tapi tak diangkat. Ponsel jimin berdering, tapi sepertinya dia tidak lihat jika Eunha menelponnya.

"Ayolaah.. Angkat telponnya!!!"

Dia menelpon Jimin berulang kali, tapi tetap sama saja, Jimin tak mengangkatnya.

"Apa yang dia lakukan sekarang??", karena kesal. Eunha akhirnya tidak membukakan pintunya. Dia mebiarkan pria itu diluar. Tak tega sebenarnya, tapi bagaiman jika dia membuka pintu itu nanti, ternyata dia adalah pembunuh yang menyamar? Kita tak tau itu benar atau tidak.

***

"Hah!! Akhirnya selesai!!"

Jimin meregangkan tubuhnya. Sudah berjam-jam dia bergelut dengan laporan yang menumpuk ini. Dan sekarang ini sudah sore. Dia merasa sangat bersalah pada Eunha karena tidak menuruti kemauannya. Dia pun langsung bergegas. Membereskan semua laporan itu. Setelah itu pulang

Tok tok..

Seseorang mengetuk pintu kantor jimin, dia menyuruhnya masuk dan ternyata orang itu adalah yerin

"Tu-"

"Yerin??? Kebetulan sekali!!"

Yerin yang tiba-tiba mendengar jimin berbicara seperti itu bingung. Kebetulan?? Ada apa??

"Aku sudah menyiapkan setengah dari laporan ini, tolong kau jaga. Sebagian laporannya lagi akan diurus oleh tae dan jungkook. Mereka akan mengerjakan itu untuk tiga hari kedepan. Kau paham?"

Yeri tersontak kaget. Tiga hari kedepan? Mau kemana dia? Seperti itulah pemikirannya sekarang.

"Tuan akan pergi??"

"Eoh"

"Ah.. Ba-baiklah. Kalau begitu saya akan keluar. Permisi"

Yerin sedih. Jimin terlalu memperhatikan kekasihnya. Dia jadi jarang sekali ke kantor. Semalam juga dia tidak kerja pasti karena kekasihnya itu. Andaikan dia adalah kekasih Jimin, dia pasti juga akan diperhatikan lebih oleh Jimin. Selagi berpikir, pemikiran jahatnya pun datang pada saat itu juga. Berpura-pura kakinya tersandung oleh pintu dan jatuh

"Aah!!!"

"Yerin??? Kau tak apa??", jimin langsung berlari kearahnya. Jimin pria yang sangat baik dan juga penolong, dia seperti malaikat.

"Ah.. Kakiku sepertinya terkilir", jimin melihat kaki yerin. Sebenarnya itu tidak terkilir, hanya yerin mengada-ada saja.

"Jadi bagaimana?? Kau akan pulang setelah ini kan?? Dengan siapa kau pulang?? Beritahu aku nomornya, akan kusuruh dia menjemputmu"

"Aku akan pulang sendiri tuan. Tak apa"

Jimin berpikir, dia sebenarnya tak tega meninggalkan yerin dengan kakinya yang terkilir. Tapi lebih tak tega lagi dia jika Eunha terus-terusan menunggunya. Hari pun juga semakin sore, semakin gelap.

Be Your PartnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang