Hanya tinggal satu bulan lagi park kecil akan melihat dunia. Sangat cepat rasanya, eunha juga sekarang suka mengeluh tentang perutnya itu, seakan park kecil benar-benar tak sabar ingin menemui eomma, appa dan dunia
"Ji.. Perutku sakit. Aegi terus menerus menendang, kurasa aku benar, dia namja"
Jimin dan eunha sedang berada diluar, mereka akan pergi ke rumah eomma jimin, sudah lama mereka tidak mengunjungi rumah orang tua mereka
"Apa dia lapar??", tanya jimin, eunha hanya menggeleng
"Lalu?? Apa yang dia inginkan??", tanya jimin yang matanya masih setia menatap kedepan
"Nan molla, dia selalu menendangku", sambil mengelus perutnya. Jimin tersenyum lalu dia membelokkan mobilnya kearah minimart
"Eoh?? Kau ingin beli sesuatu?? Bukannya kita sudah bawakan keranjang buah??", tanya eunha. Jimin mematikan mesinnya lalu melihat kearah eunha
"Aku yakin aegi nya lapar", katanya lalu mengelus perut eunha
"Kau mau sesuatu?? Akan kubelikan", kata jimin dan langsung dijawab oleh eunha
"Aku ingin 2 coklat vanilla", katanya lalu jimin menyetujuinya dan keluar berjalan kedalam minimart
Eunha menunggu jimin didalam mobil, sambil memperhatikannya dari kaca mobil. Jimin pergi ke tempat coklat dan tampak dia mengeluarkan ponselnya dan menekan sesuatu lalu meletakkan ponsel itu ke telinganya. Eunha jelas tak bisa dengar.
Dia penasaran, ingin rasanya turun dan menghampiri jimin lalu bertanya padanya siapa yang ia telepon itu, tapi park kecil terus menendangnya yang membuatnya kesakitan jika harus berjalan dalam keadaan seperti itu.
Tak lama dia bertelepon dengan seseorang itu, saat ingin membayarkan coklat eunha, wanita yang berada tepat dibelakang jimin tiba-tiba menepuk pundaknya. Eunha langsung memelototkan matanya
Nuguya?
Tampak jimin sepertinya mengenal wanita itu, dan sepertinya mereka saling kenal, dan sepertinya juga eunha kenal orang itu, tidak asing lagi
Sinha?!
Eunha menatap mereka berdua dari dalam mobil, geram sekali dia melihat dua orang yang tengah berbicara dari sana dan eunha tak dapat mendengarnya. Tujuh menit jimin dan sinha saling bencengkrama. Mereka juga sepertinya bertukar nomor, sungguh. Tangan eunha sudah terkepal
***
"Sayang~ ini cokelatmu", jimin masuk
Sepuluh menit, mereka berbicara tempat sepuluh menit yang lalu. Eunha mengarahkan pandangannya pada arah lain, lalu menggeleng
"Ada apa? Ini cokelatnya, ayo makan agar park kecil tidak menendangmu lagi", kata jimin lalu mengambil satu bungkus cokelat putih
"Tidak ji.. Sudahlah, dia tidak menendang lagi, nanti saja kumakan", kata eunha cuek
"Eoh?? Baiklah..", lalu jimin memasukkannya lagi kedalam plastik. Lalu mereka kembali ke perjalanan kerumah eomma jimin
Sedari diperjalanan, eunha tidak ada berkutik, dia kesal mengingat kejadian tadi, begitu pula dengan jimin. Mereka berdua tidak ada bercakapan, jimin hanya fokus dengan jalanan dan sesekali bersenandung, eunha hany fokus pada jendela disebelahnya
Tring!
Ponsel jimin berbunyi, satu notif masuk. Jimin langsung mengambil ponselnya dan membukanya. Eunha ingin tau, tapi dia kesal dengan jimin
Itu room chat–siapa itu?
Eunha melirik sedikit ke tempat jimin,dilihat room chat itu, rasa penasarannya semakin bertambah. Tadinya ia ingin jimin merasa kapok karena diacuhkan oleh eunha, tapi malah kebalikannya, jimin tidak ada rasa kapok ataupun bersalah pada eunha, dia sangat antusias pada chat itu
Sedih? Sudah pasti dia sedih, jimin mengacuhkannya. Dia memilih untuk lebih membalas pesan itu
"Sayang, sudah sampai, ayo turun", jimin baru saja ingin memegang tangan eunha dan eunha langsung menarik tangannya kembali tanpa melihat jimin
Eunha meraih gagang pintu mobil, tapi tiba-tiba saja jimin mengunci mobilnya, membuat eunha terkejut
"Buka pintunya", kata eunha tanpa memperhatikan jimin
"Ada apa sayang?? Daritadi diperjalanan kau juga diam saja, ada apa?", pertanyaan bodoh untuk eunha, dia tidak diam saja, jiminlah yang terlalu sibuk dengan ponsel dan chat itu
"Gwaenchana, buka pintunya"
***
"Jimin, ada apa dengan eunha? Dia diam saja? Eunha ada apa sayang?", tanya eomma
"Aegi nya terus menendang perutnya jadi sakit eomma makanya dia diam saja, ya kan sayang?", jimin merangkul pinggang eunha
"N-neeeomma", jawab eunha singkat
"Eoh?? Benarkah?? Itu berarti dia adalah namja"
"Eomma tau?", tanya eunha
"Nee, eomma rasa. Soalnya jimin juga seperti itu ketika masih didalam perut eomma, dia selalu menendangi eomma, jadi eomma rasa dia namja dan sama seperti jimin", sambung eomma
Eunha hanya cengir mendengar cerita eomma, sedangkan jimin dan eomma saling beradu mulut dan tertawa, eunha hanya memperhatikan mereka berdua tanpa berbicara. Hati nya masih sangat sakit pasal tadi
***
"Tunggu dulu jimin, ada sesuatu yang ingin eomma beri untuk eunha, tunggu sebentar", lalu eomma masuk kedalam untuk mengambil barang itu. Sementara jimin dan eunha tengah menunggu eomma
"Sayang ada apa? Kenapa kau diam saja? Kau sakit? Apa aegi masih menendangmu?", semua pertanyaan yang dilontarkan jimin tidak ada jawaban dari eunha
"Sayang.. Kenapa sih??",tanya nya lagi dan mengahadap ke eunha
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa?", dengan tatapan dinginnya
"K-kau kenapa?"
"Gwaenchana", lalu setelah eunha mengatakan itu eomma pun datang
"Eunha-ya.. Ini untukmu", eomma memberikan sebuah gelang pada eunha.
"Ah.. Eomma, terimakasih eomma", memeluknya
"Iya sayang sama-sama, eomma harap kau suka gelangnya", eomma senyum pada eunha dan sampai pada akhirnya mereka berpamitan, lalu pulang