The Day After Tomorrow

1.3K 97 5
                                        

Piip..

"Jiwon-ah, bagaimana?"
"Syukurlah dia mau. Bagaimana denganmu?"
"Hem.. Seperti yang diharapkan. Mau"
"Baiklah bagaimana rencana selanjutnya?"
"Datanglah lusa ke caffe **** pukul 5 sore"

Piip.

****

"Tumben kau menjemputku? Setauku seorang CEO itu akan sibuk dengan kerjaannya sampai tidak bisa diganggu oleh siapapun"

Seperti itulah ledekan Eunha kepada Eunwoo. Eunwoo yang mendengar itu sedikit agak kesal tapi dia tertawa kecil. Sarkas sekali cara dia berkata. Selanjutnya dijitaknya kening putih Eunha.

"Ya!! Appa yang menyuruhku. Kau tidak suka, eoh?? Turunlah kalau begitu"

Yang dijitak itu pun ber-oh ria. Dan menggerakkan bola matanya hingga ujung mata. Sinis. Eunwoo yang menyadarinya tertawa setelahnya.

"Hyung.. Apakah kau sibuk?"

"Wae??"

"Aku ingin pergi ke toko ice cream"

Mendengar keinginan si putri ini. Eunwoo langsung menancapkan kaki nya pada pedal gas. Membawa arah mobilnya ke toko ice cream favorit Eunha. Selama disana, mereka berbincang-bincang. Ntah apa yang dibicarakan, sepertinya lucu. Terlihat bahwa Eunha sedari tadi terus tertawa karena ulah Eunwoo.

"Hyung aku ingin tambah!"

Tanpa Eunwoo sadari, Eunha ternyata sudah memesan ice cream vanilla sebanyak 15 cup. Memang, ice cream favorit Eunha adalah vanilla. Jika memakan ice cream, Eunha seperti orang yang kecanduan akan narkoba. Tidak bisa berhenti. Pernah ketika berumur 7 tahun, Eunha memakan ice cream sebanyak 10 cup. Bayangkan anak sekecil itu memakan 10 cup ice cream. Ya. Giginya sakit. Dan Eunwoo tidak mau kalau kejadian belasan tahun yang lalu terjadi lagi pada adiknya itu. Eunha akan sakit gigi lagi jika Eunwoo memberinya izin untuk makan ice cream lagi. Eunha akan merengek. Dia akan galak, seperti orang yang sedang mens. Tapi dia tidak menangis. Hanya merengek. Tapi itu menyebalkan menurut Eunwoo.

"Tidak"

Singkat. Itulah jawaban Eunwoo pada adiknya itu. Sedangkan tuan putri yang berada didepannya ini tengah mem-pout kan bibirnya. Tak tega sebenarnya melihat adiknya seperti itu. Karena mukanya lucu mungkin. Eunha memang harus selalu diperhatikan pola makannya. Dia bisa makan semuanya jika dia ingin. Walaupun postur tubuhnya selalu seperti itu. Selain ice cream, Eunha juga sangat suka gula pasir dan es batu. Ntahlah, Eunha benar-benar ketagihan jika makan ketiganya.

"Eunha", Eunwoo memanggilnya, dan yang dipanggil langsung menoleh

"2 hari kedepan kita akan pergi dengan appa dan eomma"

****

Menghentakkan kaki ke lantai. Melirik jam. Mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. Sesekali menyeruput Americano yang ia pesan dan melirik ponselnya. Dia sedang menunggu seseorang.

"Chagiya~"

Suara seorang yeoja yang membuat namja ini melihat kearah asal suara tersebut. Menampilkan senyuman khas nya sampai membuat eyes smile. Manis sekali.

"Kau sudah lama eoh??"

Yeoja itu langsung menduduki bokongnya pada kursi empuk ini dan langsung memesan Mocca Latte. Siapa lagi kalau buka Goo Hyera. Kekasih Jimin.

"Tidak. Aku baru saja sampai. Um.. Aku memanggil mu kemari karena ada yang ingin aku bicarakan padamu"

Jimin berusaha untuk tetap fokus. Berusaha untuk membicarakan intinya. Hyungnya memberi trik ini padanya.

Ajak dia makan, lalu bicarakan ini dengannya. Ingat saat kau berbicara, jangan gugup, katakan yang sebenarnya.

Isi otak jimin benar-benar dikepung oleh kalimat itu. Hyung nya memang benar. Salah Jimin yang mengatakan pada Hyera kalau dia akan menikah dengannya. Dia juga belum bilang pada orang tuanya kalau dia akan menikahi Hyera.

"Huh?? Silahkan.. Tapi setelah kau selesai berbicara kita harus ke mall, oke?"

Jimin memandangi kekasihnya itu. Ntah apa dalam pikirannya sekarang. Dia melamun. Melihat ekspresi apa yang akan dikeluarkan Hyera ketika Jimin mengatakan perjodohannya dengan yeoja lain

"Se-sepertinya kita tidak akan menikah Hyera. Mianhae"

Hyera yang sedang memandangi ponselnya terdiam. Mematung. Matanya membesar. Ingin marah rasanya. Jimin benar-benar keterlaluan. Tak tahan lagi, Hyera pun menangis

"A-aku tau aku salah.. Tapi eomma dan appa mengatakan bahwa dia akan menikahi ku dengan gadis pilihan mereka"

Mendengar hal itu. Hyera merasa kesal sekali. Dia benar-benar mengutuk gadis pilihan eomma dan appa Jimin. Benci? Iya. Sangat. Ingin rasanya dia membunuh gadis itu. Dia yang menemukan Jimin, kenapa harus gadis itu yang menikah dengannya? Itulah pikirannya sekarang. Hyera langsung mengambil tas nya dan langsung berlari keluar. Jimin mengikutinya dari belakang.

"Hyera!!"

Tangan jimin menangkap pergelangan tangan hyera.

"Apakah kau mencintainya??"

Jimin diam

"Tidak. Aku tidak mencintainya. Aku juga tidak tau siapa dia"

"Kalau begitu jangan putuskan aku dan menikahlah denganku. Batalkan pernikahan itu!"

Be Your PartnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang