Maha Besar Allah yang telah menciptakan suasana malam hari dengan begitu indah. Bintang-bintang yang bertaburan di atas sana, bersama rembulan yang cahayanya sungguh menentramkan jiwa.
Savierra terduduk di balkonnya sekitar jam delapan malam. Seusai menidurkan Arsy dan Arsyad, entah mengapa Savierra teringin duduk sendiri di balkon seraya menatap gelapnya langit malam.
Bertemankan teh hangat, Savierra merasa hatinya sedikit lebih tenang dibandingkan dengan saat-saat sebelumnya. Savierra tersenyum menatap gemerlap bintang di atas sana. Seketika Savierra teringat masa-masa dimana ia masih sendiri. Masa-masa dimana ia masih tinggal di rumah ayah dan bundanya, menjadi putri kecil mereka yang selalu didoakan masa depannya.
Di tangannya, tergenggam buku kecil berwarna biru beserta dengan penanya. Ya, buku diary yang selalu menampung semua ceritanya selama ini. Lembar demi lembar yang kerap menampung tetesan air matanya kala sedih datang menyapa. Halaman demi halaman yang kerap kali melihatnya tersenyum kala bahagia datang merangkul jiwa dan raganya.
Sembari menatap langit malam, sembari pula jarinya menuliskan kata demi kata menjadi untaian kalimat yang menyentuh jiwa. Huruf demi demi huruf seakan ia ukir menjadi untaian sajak penuh makna.
"Kangen banget sama suasana kayak gini waktu di rumah ayah,"
Rasanya tidak bisa digambarkan bagaimana keadaan hatinya pada saat ini. Segala rasa bercampur aduk memenuhi relung dadanya. Entah sedih, senang, dan syukur. Bahkan kerap kali sulit menempatkan masing-masing perasaan itu pada tempatnya. Sebab sudah berbaur dan hampir menyatu. Itulah sebabnya Savierra bingung harus tersenyum atau tidak.
Namun lepas dari semua itu, senyumnya selama ini ia tujukan sebagai bentuk syukur dirinya pada Allah. Sebab selama ini Allah masih mengasihinya dengan berbagai cara. Hingga sejenak ia bisa lupa bahwa ia mempunyai masalah.
Terpaan angin malam yang membelai lembut kulit putihnya seakan datang untuk menenangkannya. Allah begitu baik telah mengirimkan ciptaan-Nya yang tak bernyawa untuk menenangkan makhluk-makhluk-Nya yang bernyawa.
"Ya Allah, terima kasih. Malam ini rasanya jauh lebih tenang."
Bibir Savierra kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. Setidaknya, ia masih mempunyai alasan untuk tersenyum, yakni untuk bersyukur.
Dear, Allah.
Maaf, karena selama ini aku merasa seakan aku adalah orang yang paling patut dikasihani.
Maaf, karena selama ini aku merasa bahwa masalahku adalah masalah yang paling berat sehingga tidak ada orang lain yang mampu memikulnya.
Dear, Allah.
Aku sadar, Engkau masih selalu ada bersamaku.
Engkau masih menjadi penguat utamaku.
Tidak pantas rasanya jika aku mengeluh terlalu banyak pada-Mu.
Dear, Allah.
Pintaku sederhana saja, cukup Kau tentramkan kehidupanku bersama keluarga kecilku.
Aku tau, setiap masalah yang datang pastilah ada hikmahnya.
Kau pun tak akan pernah menguji seorang hamba melebihi batas kemampuannya.
Allah,
Tak apa jika batinku sempat kecewa.
Karena aku tau, hidup tak hanya perihal bahagia.
Banyak doa yang kerap ku langitkan bersama bintang di sepertiga malam.
Berharap suatu saat, Kau akan mengabulkannya.
Allah,
Bimbing aku untuk menata hatiku kembali.
Bimbing aku supaya bisa menata perasaan lebih baik lagi.
Bimbing aku supaya bisa lebih baik mengendalikan amarah dan emosi.
Bimbing aku, Ya Allah, supaya bisa menata semuanya lebih baik lagi.
Allah,
Banyak orang bilang bahwa jika doa belum dikabulkan, itu berarti Allah tengah rindu.
Allah masih ingin mendengar rintihan ini dan itu dari hamba-Nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Separuh Imanku
SpiritualSequel "Sepertiga Malam Tentangnya" Baca dulu 👉🏼 "Sepertiga Malam Tentangnya" Ana uhibbuka fillah. Aku mencintaimu, karena kecintaanmu pada Allah. Kehidupan rumah tangga memang tak ada yang berjalan mulus. Pasti ada lika-liku yang mengiringi. Prob...
