BERTEMAN BINTANG

140 22 0
                                        

Berteman bintang, aku mencurahkan isi hati pada Tuhan. Berteman bintang, isi hatiku turut dimengerti oleh rembulan. Pekatnya malam memelukku penuh kedinginan. Bersama luka, sang kecewa kembali menerkam dalam kesendirian.

• Keisya Savierra Assalafiyah •

•°•°•°•

Malam hari ini nampak begitu pekat. Kegelapannya membawa angin dingin sampai menusuk tulang. Namun kegelapannya diminimalisir oleh banyaknya bintang yang bertaburan di atas sana. Diketuai oleh sang rembulan, penduduk langit itu menyuguhkan cantiknya titik-titik cahaya.

Malam ini, Savierra baru saja selesai makan malam bersama Azzam. Saat ini, ia sedang membantu Bi Siti membereskan meja makan. Keadaan di rumah nampak baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali.

"Biar Bi Siti aja, non."

"Aku bantu, bi."

"Nggak usah, nggak apa-apa, non. Kan ini pekerjaan Bi Siti."

"Loh, ya pekerjaan aku juga lah, bi. Kan udah tugasnya istri buat ngurus rumah."

"Hehehe, nanti Non Savierra capek, non."

"Ya nggak apa-apa, bi. Udah biasa."

Bi Siti tersenyum. "Ya udah kalau gitu."

Savierra membantu Bi Siti mencuci piring juga. Meskipun di rumahnya ada asisten rumah tangga yakni Bi Siti, Savierra tidak mau melepas tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga begitu saja. Bahkan, ia malah lebih senang jika sudah melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah.

Sedangkan Azzam sendiri sedang berada di ruang keluarga bersama Arsy dan Arsyad. Azzam sedang menemani bayi-bayi mungilnya itu menonton film kartun. Arsy dan Arsyad semakin tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan. Melihat film kartun sembari memakan biskuit bayi, Arsy dan Arsyad juga banyak berceloteh hingga membuat Azzam tertawa dan gemas sendiri.

"Kalian ngobrol apa, sih, sayang? Lucu banget." Ucap Azzam sembari tertawa dan mengusap lembut kepala Arsy dan Arsyad.

"Abi,"

"Apa, sayang?"

Ah, tidak terasa rasanya. Bahkan kini, putra putri kecilnya itu sudah bisa memanggilnya dengan sebutan 'abi' meskipun pengucapannya masih belum benar-benar sempurna.

Arsy nampak meraih toples biskuit dan mencoba membukanya dengan tangan mungilnya. Namun setelah dicoba berkali-kali, bayi kecil itu tetap tidak bisa membukanya. Azzam sampai tertawa melihatnya.

"Arsy mau biskuit lagi, ya? Sini abi bukain, sayang."

Azzam meraih toples biskuit tersebut dari tangan Arsy. Kemudian ia membukanya dan mengambil satu biskuit untuk putrinya itu. Lalu Azzam memberikannya pada Arsy. Putrinya itu tersenyum lucu sembari menerima biskuit dari Azzam. Azzam yang melihatnya pun merasa gemas. Ia mencium pipi Arsy hingga putrinya itu meringis.

"Abi,"

Di sisi lain, Arsyad juga menarik-narik baju Azzam. Si kecil itu menunjuk-nunjuk toples biskuit juga dengan jarinya.

Separuh ImankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang