Bolehkah aku, mengangan sejenak tentang masa yang akan datang bersamamu. Meski sebenarnya aku tidak tahu, apakah nanti saat waktu itu tiba, ragaku masih bernyawa atau tidak.
• Aisya Syahzeeqava •
¤¤¤¤
Hari sudah memasuki fase tengah malam. Sudah lewat dari jam 00.00. Bukannya tertidur, sang gadis malah melamun. Di ruangan yang serba putih dan semerbak bau obat itu, ia terbaring di atas ranjang dengan mata yang masih terbuka.
Ya, Aisya. Dia melihat sekeliling. Ia mendapati Wildan dan Dyana yang tertidur di sofa panjang. Kemudian ada Meisya yang juga tertidur di sofa pendek. Diamatinya satu persatu wajah orang-orang kesayangannya itu. Masing-masing dari wajah mereka terlihat sangat lelah. Aisya menjadi merasa bersalah melihatnya.
"Maaf,"
"Aku udah banyak ngerepotin mama sama papa. Ngerepotin Meisya. Ngerepotin semua orang."
"Kalau aku bisa, lebih baik aku pendam semuanya sendiri aja. Sekalian nggak usah pada tau. Biar nggak selelah ini kalian semua."
"Aku nggak berdaya. Nggak bisa ngelakuin apa-apa buat bikin kalian bahagia. Aku nggak bisa buat apa-apa untuk membuat kalian bangga. Yang ada, aku malah nyusahin mama, papa, dan Meisya."
"Maafin Aisya,"
Aisya meneteskan air matanya dalam satu kedipan. Hati mana yang tidak hancur, mendapati dirinya hanya bisa terbaring lemah tanpa daya. Hati mana yang tidak sakit, mendapati dirinya hanya bisa terdiam tanpa guna. Apalagi, mengetahui kenyataan bahwa penyakitnya sulit disembuhkan sedangkan ia masih belum bisa membahagiakan orang-orang yang dicintainya.
"Ya Allah, kalau memang sudah tidak ada harapan lagi untuk aku bertahan hidup, aku ikhlas pergi. Supaya beban mama dan papa terangkat. Supaya mereka nggak pusing mengurus aku yang terus-terusan kesakitan. Meskipun mereka sedih karena aku pergi, setidaknya mereka bisa memulai hidup baru yang lebih baik lagi."
Aisya POV
Setiap kali tubuhku diharuskan untuk berbaring di tempat ini, ragaku menerima. Tapi sejatinya, hatiku meneriakkan penolakan secara keras. Banyak orang yang tidak tau, betapa sakit rasanya, melihat orang-orang yang begitu dicintai memejamkan mata tanpa kelegaan. Mereka memejamkan mata tapi masih diselimuti rasa takut. Mereka memang tidur, tapi perasaannya tidak pernah tidur.
Aku melihat wajah mama, papa, dan Meisya satu persatu. Mereka sudah tertidur. Kelihatannya mereka memang sangat kelelahan. Bagaimana tidak, mereka menjagaku 24 jam. Sedangkan aku, belum bisa memberikan apa yang selama ini mereka harapkan. Sembuh. Mereka mengharapkan aku sembuh. Tapi aku belum mencapai tahap itu. Bahkan, masih jauh.
Hari-hariku terasa berat. Tapi yang paling berat adalah, menutupi semuanya dengan senyum seakan semuanya baik-baik saja. Bagaimana mungkin tidak berat? Ketika rasa sakit itu mulai menyerang tubuhku, tapi aku harus tetap berusaha berkata 'tidak apa-apa' pada semua orang agar mereka tidak khawatir.
Ruangan ini benar-benar menyeruakkan bau obat. Akupun sudah terbiasa dengan hal itu. Rasanya, rumah sakit adalah rumah keduaku. Jika tidak tidur di rumah, maka di rumah sakit. Dan obat adalah teman setiaku selain Meisya. Ketika tubuhku mulai diterjang rasa sakit, obat-obat itu bisa meredakannya meski tak pasti bisa menyembuhkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Separuh Imanku
SpirituellesSequel "Sepertiga Malam Tentangnya" Baca dulu 👉🏼 "Sepertiga Malam Tentangnya" Ana uhibbuka fillah. Aku mencintaimu, karena kecintaanmu pada Allah. Kehidupan rumah tangga memang tak ada yang berjalan mulus. Pasti ada lika-liku yang mengiringi. Prob...
