DUA HATI

256 27 16
                                        

Hari demi hari terus berlalu. Waktu terus berjalan, mempersilahkan makhluk Tuhan untuk melanjutkan kehidupan. Tidak ada yang tau tentang takdir Tuhan. Semuanya hanya menyaksikan takdir berjalan. Apapun peristiwanya, semua orang diharuskan menerima sesuai keadaan. Lantas mulai memupuk harapan. Hingga kemudian membangun masa depan.

Hari ini, Meisya sudah kembali berada di rumahnya. Setelah menjalani rawat inap kurang lebih sekitar satu minggu, akhirnya kemarin Meisya sudah diperbolehkan pulang. Ada rasa senang di hatinya karena akhirnya, ia bisa kembali pulang ke rumahnya. Rumah penuh kenangan bersama keluarganya yang kini sudah menghadap haribaan Tuhan.

Selain itu, Meisya merasa senang sebab kemarin, Azzam lah yang mengantarnya pulang ke rumah. Pria itu juga sempat merawatnya, membereskan barang-barangnya, dan sederhana saja, kebahagiaan di hati Meisya adalah sekedar melihat Azzam singgah sebentar di rumahnya. Dimana di sana, ia benar-benar merasa menjadi pasangan suami istri. Bahagianya ketika melihat Azzam beristirahat sejenak di rumahnya, layaknya rumahnya sendiri.

Namun di sisi lain, Meisya merasa resah sebab hari ini, Savierra akan datang untuk menemaninya yang sedang sendirian. Bukan resah karena apa-apa, hanya saja Meisya masih merasa bersalah pada wanita itu. Jika Meisya tau dari awal, mungkin keputusan untuk mau menikah dengan Azzam belumlah pasti ia ambil. Namun jika sudah terlanjur seperti ini, Meisya juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia sudah mulai nyaman bersama dengan orang yang telah menghalalkannya satu minggu yang lalu.

Meisya terduduk sendirian di ruang tamu. Kemarin, Azzam sempat menemaninya hingga malam hari. Sebelum akhirnya pria itu kembali pulang dan kembali meninggalkannya sendiri.

Flashback on

"Kapan Mas Azzam mau bilang ke Mbak Savierra?"

Azzam yang sedang terduduk di sofa pun menoleh ke arah Meisya. Menatap gadis itu dengan ragu. "Saya pasti akan bilang. Tapi bukan sekarang,"

"Mas Azzam masih ragu, ya?"

Azzam menatap secangkir teh yang ada di depannya. "Bukan sesuatu yang mudah memberitahukan semua ini sama Savierra, Mei."

"Mas Azzam belum siap?"

Azzam mengangguk tanpa menatap Meisya. Meisya yang melihatnya pun menghela nafasnya.

"Nggak apa-apa, mas. Aku faham kondisinya,"

Mendengarnya, Azzam menatap Meisya. "Maafin saya, Mei."

"Kenapa minta maaf, mas? Aku yang harusnya minta maaf. Kalau aja waktu itu aku nggak nekat, mungkin kita nggak akan seperti ini. Sayangnya, waktu itu aku bener-bener lagi hancur, sehancur-hancurnya,"

Azzam menghembuskan nafasnya. "Mungkin sudah takdirnya seperti ini,"

Meisya menatap Azzam dengan tatapan sendu. "Mas,"

Azzam menoleh, mendapati Meisya yang menatapnya begitu dalam. "Iya?"

"Apa Mas Azzam menyesal sudah mengambil keputusan untuk menikahi aku?"

Mendengarnya, Azzam menggeleng kecil dan kembali menatap secangkir teh di depannya.

"Saya ini cuma makhluk Allah yang masih banyak dosanya, Mei. Apa pantas saya menyesali takdir yang sudah Allah tetapkan untuk saya?"

"Jadi, pernikahan kita adalah bagian dari takdir Mas Azzam?"

"Ya kalau jadinya seperti ini, mungkin memang iya."

"Mas sudah bener-bener menerima aku sebagai istrinya mas?"

Azzam balas menatap Meisya. "Sejak akad sudah sah waktu itu, kamu sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya, Mei. Sudah tentu saya menerima kamu. Itu adalah kewajiban saya,"

Separuh ImankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang