Sepekan penuh Azzam sibuk dengan pekerjaannya sebagai dosen. Ia teringat bahwa Azka pernah menyarankannya untuk mengajak Savierra menghabiskan waktu bersama. Ia juga ingat, sepekan akhir ini hubungannya dengan Savierra nampak baik-baik saja. Namun menurutnya, tidak ada salahnya jika ia mengajak Savierra untuk menghabiskan waktu bersama di akhir pekan.
Malam itu, Azzam menatap Savierra yang tengah menyurai rambutnya di depan cermin. Azzam tersenyum melihat Savierra. Azzam pun menghampiri Savierra dan mengelus lembut pundaknya.
"Cantik, sayang."
Savierra tersenyum. Kemudian meraih tangan Azzam yang bertengger di bahunya. Setelah itu, Savierra mengecupnya. "Terima kasih."
Azzam membawa Savierra ke dalam pelukannya. Savierra pun tak enggan untuk menerimanya. Jujur saja, ia senang diperlakukan manis oleh Azzam.
"Kenapa?" Tanya Savierra.
"Kenapa apa?"
"Kenapa tiba-tiba meluk?"
"Nggak apa-apa, sayang. Kangen aja."
"Oh ya?"
"Aku terlalu sibuk. Maaf ya, sayang."
"Nggak apa-apa. Aku ngerti."
"Besok jalan-jalan yuk."
"Kemana?"
"Maunya kemana?"
"Em, terserah Kak Azzam aja."
"Kalo aku sih kemana aja yang penting sama kamu, Sya."
"Gombal,"
"Nggak kok. Seriusan."
"Ya udah muter-muter kota aja berarti."
"Ke alun-alun gimana? Mau?"
"Boleh."
"Nanti kalo pengen ke tempat lainnya kan bisa mampir juga."
"Iya."
"Tapi kita aja ya?"
"Kita?"
"Iya. Aku, kamu, Arsy, dan Arsyad."
"Azka sama Nissa?"
"Mereka jalan-jalan sendiri kali,"
"Oh. Ya udah. Terserah Kak Azzam aja."
"Eh, kamu mau mampir ke butik?"
"Boleh."
"Nggak tau kenapa, Sya, butik tuh udah kayak tempat favorit aku."
"Aku juga."
Savierra masih berada dalam pelukan Azzam. Ia memejamkan mata. Menikmati kenyamanan dekapan Azzam. Azzam pun demikian, membelai lebut surai panjang Savierra. Mencium harum aroma rambut bidadari surganya.
"Sya,"
"Hm?"
"Kamu cantik banget malem ini."
"Malem ini aja?"
Azzam tersenyum miring. "Setiap hari. Kamu selalu cantik."
"Kalo aku nggak cantik gimana?"
"Nggak apa-apa. Yang penting shalihah."
"Kak Azzam bisa aja."
"Maaf ya, seminggu ini sibuk banget."
"Iya, nggak apa-apa kok."
"Kamu pasti bosen di rumah nggak ada aku."
"Ih, kata siapa?"
"Kata aku barusan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Separuh Imanku
SpiritüelSequel "Sepertiga Malam Tentangnya" Baca dulu 👉🏼 "Sepertiga Malam Tentangnya" Ana uhibbuka fillah. Aku mencintaimu, karena kecintaanmu pada Allah. Kehidupan rumah tangga memang tak ada yang berjalan mulus. Pasti ada lika-liku yang mengiringi. Prob...
