PERASAAN

225 28 2
                                        

Pagi ini, masih sama seperti pagi-pagi di hari-hari sebelumnya. Tidak banyak berbeda. Masih bersama dengan sang surya yang mulai menghangatkan penduduk bumi dengan sinarnya. Juga semilir angin pagi yang begitu menyejukkan.

Saat ini, Aisya dan Meisya sedang pergi bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Aisya sedang meminum obatnya, lalu kemudian ia memasukkan laptopnya ke dalam tas. Sedangkan Meisya sedang duduk di depan cermin dan termenung. Sesekali ia melihat dirinya dari pantulan cermin. Wajahnya terlihat pucat. Lagi dan lagi bibirnya terlihat kering.

"Bener juga. Gue kelihatan lebih kurus. Pagi-pagi gini, badan gue udah lemes banget. Padahal habis shubuh tadi udah sempat olahraga sebentar."

"Kenapa rasanya kayak nggak punya tenaga gini, ya."

Tak lama setelah itu, Meisya kembali merasa mual dan ingin muntah. Namun sebisa mungkin ia menahannya. Ia tidak mau Aisya khawatir melihat dirinya.

"A-Aisy, gue ke kamar mandi dulu." Ucap Meisya sembari berjalan ke kamar mandi.

"Eh, Mei, lo kan udah rapi. Ngapain masih ke kamar mandi? Nggak biasanya begitu."

"E-em, gue mau pipis bentar ini."

"Ya udah. Jangan lama-lama, ya."

"Iya."

Setelah itu, Meisya segera berjalan ke kamar mandi. Kemudian ia mengunci pintu kamar mandi. Lantas Meisya memuntahkan isi perutnya. Nafasnya sampai tersengal-sengal.  Kepalanya menjadi pusing. Rasanya ingin terjatuh. Namun sebisa mungkin Meisya bertahan untuk tetap berdiri. Tangannya memegang erat wastafel supaya ia tidak terjatuh.

"Kenapa nggak enak banget perut gue, ya,"

"Perasaan belum makan apa-apa. Baru juga mau sarapan. Udah muntah duluan."

"Pusing banget,"

Meisya menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia merasa sangat lemas. Serasa ingin pingsan saja. Tapi beruntungnya, Meisya mampu menahannya. Setelah mencoba menetralkan nafasnya dan meminimalisir pening di kepalanya, akhirnya Meisya keluar dari kamar mandi dan berlagak baik-baik saja.

Meisya masuk ke dalam kamar dan mengambil tasnya. Di sana, ia mendapati Aisya yang sedang menunggunya.

"Lama banget, Mei."

"Hah?"

"Lo pipisnya lama banget. Udah ditunggu mama sama papa sarapan tau."

"I-iya. Ya udah, turun sekarang yuk."

Aisya mengangguk. Lantas mereka berdua keluar dari kamar dan menuju meja makan. Di sana, sudah ada Wildan dan Dyana yang sudah siap untuk sarapan bersama.

Aisya dan Meisya turut duduk di meja makan. Meisya mengambil sehelai roti yang diolesinya dengan selai kacang.

"Tumben nggak sama susu?" Tanya Aisya.

"Lagi pengen pakai selai aja."

"Udah nggak suka manis?"

"Suka lah. Kan lagi pengen ini doang."

Aisya terkekeh mendengarnya. Aisya sendiri juga memakan sehelai roti dengan selai coklat. Di atas meja makan mereka juga sudah tersedia susu sebagai pelengkap sarapan mereka.

"Meisya, Aisya, papa mau ngomong sesuatu." Ucap Wildan kemudian.

"Ngomong apa, Pah?" Tanya Aisya.

"Jadi gini, papa punya teman. Dia dokter di Singapore yang ahli dalam menangani penyakit seperti Aisya. Nah rencananya, papa sama mama mau bawa Aisya buat berobat ke sana. Gimana? Aisya mau, kan?" Jelas Wildan.

Separuh ImankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang