MENJAGA PANDANGAN

198 20 0
                                        

Karena aku belum bisa menjagakan hatiku pada seseorang yang belum pasti untukku. Percayalah, Tuhan punya rencana yang lebih indah. Cinta akan menemukan jalannya.

• Meisya Syahzeeqava •

¤¤¤¤

Setiap hukum dalam agama pastilah harus dipatuhi. Sebab jika tidak, maka balasannya adalah dosa. Selain itu, apapun yang kita perbuat di dunia, akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Tidak ada orang yang dengan sengaja membawa dirinya mendekat pada dosa. Kecuali, memang orang-orang yang jauh dari Allah, dan menolak untuk mendekat pada Allah.

Begitupun dengan Meisya. Selama ini, tanpa sadar ternyata Meisya sudah melakukan perbuatan yang membawanya pada dosa. Tapi untuk kali ini, Meisya sudah tidak mau lagi. Meskipun berat, Meisya mencoba untuk melakukan hal yang seharusnya. Hal yang tidak lagi membawanya pada dosa.

Sehabis sholat maghrib, Meisya menemui mamanya yang sedang berada di kamar bersama papanya. Ya, Dyana. Dyana sedang bersiap-siap mengikuti pengajian rutin yang biasa ia ikuti di masjid dekat rumahnya.

"Mama,"

Meisya membuka pintu kamar mamanya yang pada awalnya sudah sedikit terbuka. Di sana, Meisya mendapati Dyana sedang duduk di depan cermin. Sedangkan Wildan sedang berada di meja kerjanya. Nampaknya, kedua orang tuanya baru saja selesai menunaikan sholat maghrib dan mulai melanjutkan aktifitas mereka selanjutnya.

"Ya? Kenapa, Mei?"

"Meisya boleh masuk?"

"Boleh dong. Masuk aja."

Lantas, Meisya pun memasuki kamar orang tuanya. Lalu menghampiri Dyana yang sedang berdandan. Sejenak ia melihat Wildan yang begitu sibuk di meja kerjanya.

"Papa sibuk banget kelihatannya." Ucap Meisya.

"Biasa, Mei. Banyak yang harus diselesaikan secepatnya ini pekerjaan papa."

"Papa sering ikut rapat juga, ya?"

"Iya. Hampir semua rapat harus papa hadiri. Karena papa punya tanggung jawab yang besar di sana."

"Sama seperti rapat-rapat yang biasanya dihadiri sama Pak Azzam?"

Mendengarnya, Wildan mengernyitkan dahi. Lalu mengubah posisinya menghadap ke arah Meisya. "Iya. Azzam--eh, maksud papa Pak Azzam itu, memang sering ikut rapat juga. Karena kinerjanya dalam mengajar sangat bagus. Jadi selalu dipertimbangkan untuk ikut serta dalam mengurus banyak hal."

"Oh, gitu."

"Bentar deh, kamu gimana bisa tau kalau Pak Azzam sering ikut rapat kayak papa, Mei?"

"Hah?"

"Kenapa kamu bisa sampai setau itu?"

"E-em, k-kebetulan tau aja, Pah."

"Kebetulan?"

"I-iya. Meisya sering lihat Pak Azzam masuk ruang rapat. Nah, gitu."

"Oh."

Meisya menghela nafas lega. Untung saja Wildan tidak bertanya aneh-aneh pada Meisya. Karena memang, Meisya hanya sedikit tau tentang dosen mudanya yang bernama Azzam itu. Lantas setelah itu, Meisya berjalan mendekat ke Dyana dan duduk di sampingnya.

Separuh ImankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang