Masih berada di tempat yang sama, juga bersama dengan orang yang sama pula. Terkadang, semesta begitu aneh. Mempertemukan dua orang yang tadinya sudah pernah bertemu namun belum saling mengenal. Dan kini, ketika sudah saling mengenal nama, keduanya nampak sangat dekat bak sudah berteman cukup lama.
Saat ini, Savierra dan Azzam masih berada di ruangan Meisya. Ada Natasha juga tentunya. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi hari ini. Ia tidak menyangka bahwa sebelum menikah dengan Meisya, rupanya dosen mudanya itu sudah menikah dengan wanita lain.
"Gue bener-bener nggak faham,"
"Bisa-bisanya istrinya Pak Azzam nggak tau kalau Meisya adalah istrinya Pak Azzam juga."
"Nggak kebayang sih gimana sakit hatinya dia,"
"Mana kelihatan akrab banget lagi sama Meisya,"
"Aduh, gue jadi nggak tega duluan kalau nanti Mbak Savierra sampai tau yang sebenernya. Kasihan Meisya juga, takut dituduh yang enggak-enggak,"
Batin Natasha bersuara membicarakan ini dan itu. Ia memerhatikan dengan seksama gerak gerik Savierra dan Meisya. Natasha mengakui bahwa Savierra memang wanita yang sangat lembut dan baik hati pastinya. Namun ia tidak habis pikir karena Savierra belum mengetahui perihal pernikahan Azzam dan Meisya.
Sedangkan di sisi lain, Savierra baru saja selesai menyuapi Meisya sarapan. Sementara Azzam terduduk di sofa sembari menatap kegiatan keduanya. Savierra dan Meisya terlihat sangat dekat. Padahal, keduanya baru saja bertemu pagi ini.
"Sejak kapan kamu sakit diabetes?" Tanya Savierra.
"Sejak satu hari setelah keberangkatan Aisya ke Singapura,"
"Masyaa Allah, udah lumayan lama, ya."
"Iya."
"Terus selama ini, kamu berobat sendirian aja?"
"Saya dibantu sama Dokter Fairel."
"Dokter Fairel itu siapanya kamu? Apa dia calon suami? Atau siapa?"
Mendengarnya, Meisya dan Azzam saling menatap ragu. Bagaimana mungkin Fairel menjadi calon suami Meisya? Sedangkan Meisya sudah menikah dengan pria yang sedang duduk tak jauh dari dirinya. Yang tak lain adalah suami Savierra juga.
"E-em, bukan, mbak. Dokter Fairel itu dokter yang megang pengobatan saya. Dulu, dia juga yang sempat megang pengobatan Aisya di sini. Dokter Fairel itu anaknya sahabat papa saya."
"Oh, gitu."
"Iya."
"Tapi pengobatannya lancar, kan?"
"Iya, Alhamdulillah."
"Ya Alhamdulillah kalau pengobatannya lancar. Kamu harus semangat untuk sembuh, ya."
Meisya tersenyum mendengarnya. "Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Oh, iya, kira-kira kapan kamu bisa pulang?"
"Em, kurang tau, mbak. Mungkin 3 sampai 4 hari ke depan. Tergantung kondisi juga."
"Oh, gitu, ya. Em, Mei, kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa kasih tau saya, ya. Jangan sungkan-sungkan. Saya akan bantu kamu sebisa saya."
Lagi dan lagi, Meisya menatap Azzam. Pria itu juga menatapnya rupanya. Ia mengangguk. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"I-iya. Terima kasih banyak, mbak."
"Sama-sama. Kalau nanti kamu udah boleh pulang, kamu kabari saya juga. Saya mau antar kamu ke rumah kamu,"
"T-tapi, nggak usah repot-repot, mbak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Separuh Imanku
SpiritualeSequel "Sepertiga Malam Tentangnya" Baca dulu 👉🏼 "Sepertiga Malam Tentangnya" Ana uhibbuka fillah. Aku mencintaimu, karena kecintaanmu pada Allah. Kehidupan rumah tangga memang tak ada yang berjalan mulus. Pasti ada lika-liku yang mengiringi. Prob...
