BENIH RASA KECEWA

166 20 6
                                        

Aku tidak pernah berpikir akan kecewa selama kamu yang membawa bahagia. Namun ternyata aku salah. Bahagia yang kamu bawa membuatku menggenggam erat kata percaya. Hingga aku terluka karenanya.

Keisya Savierra Assalafiyah

¤¤¤¤

Sudah beberapa hari sejak Savierra berkunjung ke rumah Meisya dan mendapati Azzam yang juga berada di sana, sejak saat itu juga perasaan Savierra diliputi oleh rasa tidak tenang. Ia sendiri mulai jarang menghabiskan waktu dengan Azzam. Bukan menjaga jarak, hanya ingin melakukannya saja. Entah karena apa.

Azzam kerap kali pulang larut malam membawa alasan pekerjaan yang belum selesai, ada rapat dosen, juga terkadang ada janji dengan mahasiswa yang mempersiapkan sidang skripsinya. Savierra bisa mengerti itu. Namun entah, ia merasa ada sesuatu di balik itu semua. Sampai di rumahpun sudah dalam keadaan lelah. Tak jarang Azzam langsung merebahkan badannya di kasur tanpa menyapa Arsy dan Arsyad sebelum tidur.

Jika Savierra bertanya apakah tidak ingin menemui anak-anaknya terlebih dahulu, Azzam akan menjawab bahwa ia lelah dan akan segera menemui Arsy dan Arsyad esok paginya. Itu memang benar, esok paginya Azzam akan bertemu Arsy Arsyad dan bermain bersama keduanya sampai ia rela berangkat terlambat untuk mengisi jam di kampus.

Savierra percaya bahwa Azzam memang kelelahan di malam harinya. Namun semakin hari semakin sering, membuat Savierra merasa bahwa sikap Azzam semakin asing.

Cinta yang Azzam berikan tetap sama. Pria itu jelas sangat mencintai Savierra lebih dari dirinya sendiri. Namun setiap kali Savierra menatap mata Azzam, ia bisa melihat betapa Azzam mempunyai beban yang sangat berat. Matanya yang sayu bisa menjelaskan bahwa Azzam ingin menumpahkan segala yang ada di kepalanya. Savierra bisa melihat di balik senyum Azzam, ada rahasia yang ia sembunyikan.

Entah apa, Savierra belum mengetahuinya. Azzam yang beberapa kali menghindari kontak mata dengan Savierra membuat gadis itu berpikir bahwa Azzam telah membuat kesalahan, hingga tidak berani menatap istrinya.

Tangan Savierra terulur perlahan, merasakan detak jantungnya yang berpacu sedikit lebih cepat. Bersamaan dengan sesak yang kian detik kian memenuhi relung jiwa. Benar, perasaan tidak enak itu kian hari kian senang mengunjungi hati.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Lirih Savierra sembari menunduk dan memejamkan mata.

Saat ini, posisinya sedang berada di meja makan menanti Azzam pulang. Namun ternyata, kian malampun, Azzam tak kunjung datang. Savierra sengaja tidak menelfonnya karena takut menganggu kesibukan Azzam.

"Kak Azzam dimana? Nggak makan malam di rumah lagi hari ini?"

"Aku udah masak makanan kesukaan Kak Azzam,"

Bibirnya bergumam lirih yang ternyata didengar oleh Bi Siti, asisten rumah tangganya. Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Savierra yang tengah terduduk sendirian di ruang makan.

"Non," panggil Bi Siti.

"Eh, Bi. Udah makan?"

"Bibi yang harusnya bilang begitu sama Non Savierra."

Savierra tersenyum sekilas mendengarnya. "Masih nunggu Kak Azzam pulang, Bi."

"Dari tadi udah nunggu loh, non. Kalau Den Azzam memang masih lama, non makan dulu aja. Nanti sakit, non."

Separuh ImankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang