Masih berada di malam yang sama. Nampaknya, malam ini terasa begitu panjang. Tidak bosankah kegelapan menaungi langit malam? Nampaknya, kegelapan masih tak ingin bergantian dengan cahaya mentari yang membersamai pagi.
Baru saja selesai menyuarakan suara hatinya, kini, Savierra masih terduduk di tempat ternyamannya. Ya, dimana lagi jika bukan di balkon kamar. Bintang dan bulan masih setia membersamainya meski curahan hatinya sudah usai. Rupanya, penduduk langit itu begitu setia.
"Alhamdulillah,"
Rasa tenang yang perlahan-lahan memenuhi hatinya, membuat sudut bibirnya sedikit terangkat. Apapun yang terjadi, rasa syukur tetap harus ada. Bukankah Allah memang selalu membersamai? Senyumnya malam ini dikarenakan ia telah berhasil meraih rasa lega, sebab suara hatinya sudah tersampaikan pada Rabb-nya.
Masih terduduk di bangku balkon, Savierra begitu menikmati kala angin malam menyepoi lembut kulit putihnya. Malam ini, ia ingin memberi jeda untuk dirinya sendiri. Ia ingin benar-benar berdamai dengan hati. Dalam arti, apapun yang terjadi, ia ingin tersenyum untuk melegakan hatinya sendiri.
Di sisi lain, Azzam yang baru saja masuk ke dalam kamar tidak mendapati keberadaan Savierra sama sekali. Ia mencari-cari keberadaan Savierra. Namun ternyata, ia melihat bayangan Savierra yang sedang terduduk di balkon.
Azzam cukup tau bahwa Savierra sangat suka duduk-duduk di balkon sembari melihat bintang di malam hari. Namun ada satu hal yang terbesit di pikirannya. Biasanya, Savierra akan duduk-duduk di balkon kala ia merasa sedih atau sekedar ingin menenangkan diri. Lantas malam ini, adakah sesuatu yang terjadi pada istrinya itu hingga ia harus menenangkan diri?
Azzam berjalan mendekat ke arah balkon. Hingga langkahnya terhenti di daun pintu. Ia menatap Savierra dari jarak yang tidak terlalu jauh. Azzam memutuskan untuk tidak menghampiri Savierra dulu. Ia memilih melihat dulu apa yang sedang dilakukan istrinya itu.
Dan yang Azzam dapatkan ialah sosok Savierra yang tersenyum sembari menatap bintang. Melihatnya, ada rasa lega yang menghinggapi hati Azzam. Sudah lama ia tidak melihat senyum Savierra yang setulus itu. Selama ini Azzam tau, senyum hangat yang selalu Savierra berikan tak lain juga adalah senyum yang menutupi lukanya.
Tak lama kemudian, Azzam berjalan semakin mendekat pada Savierra. Hingga nampaknya, Savierra melihat bayangan Azzam yang sedang berjalan ke arahnya. Savierra menoleh ke belakang. Memang benar, ia mendapati Azzam yang sedang berjalan ke arahnya. Lalu, kekasihnya itu beralih duduk di sampingnya.
"Kak Azzam,"
Azzam menoleh pada Savierra sembari tersenyum. Malam ini, Azzam ingin terlepas dari semua rasa lelah atas apa yang telah terjadi. Setidaknya meskipun hanya malam ini saja, tidak apa-apa. Yang terpenting untuk Azzam adalah bersama dengan Savierra.
"Sav,"
Savierra sedikit mengernyit mendapati panggilan Azzam. "Sekarang udah nggak manggil pakai nama 'Keisya' lagi?"
Azzam tersenyum mendengarnya. "Kangen sama Savierra,"
"Kangen? Sama nama 'Savierra'?"
"Iya. Sama orangnya juga."
"Hm, gombal."
"Udah malem kok masih duduk-duduk di sini," Ucap Azzam sembari turut menatap bintang.
"Lagi pengen aja,"
"Kenapa? Lagi kangen rumah lagi, ya?"
"Kan ini lagi di rumah."
"Kangen rumah ayah sama bunda maksudnya."
"Em, enggak juga."
"Terus, ada apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Separuh Imanku
SpiritualSequel "Sepertiga Malam Tentangnya" Baca dulu 👉🏼 "Sepertiga Malam Tentangnya" Ana uhibbuka fillah. Aku mencintaimu, karena kecintaanmu pada Allah. Kehidupan rumah tangga memang tak ada yang berjalan mulus. Pasti ada lika-liku yang mengiringi. Prob...
