Departement PR Istana telah menyiarkan kabar bahwa pengumuman pergantian tahta akan dilaksanakan minggu depan. Dan sejak saat itu, Arka pun jadi sangat-sangat sibuk. Lebih sibuk dari kesibukannya sebelumnya.
Tidak hanya tugas hariannya sebagai Pangeran dengan jadwal padatnya. Juga ditambah dengan bisnis hotel dan resort nya yang meski managementnya sudah dipercayakan pada orang lain. Keberadaan Kayla yang kembali hilang bagai ditelan bumi juga menyibukkannya. Karena Arka yakin bahwa Kayla memegang kunci pada siapapun dalang dari semua kejadian yang mengusik keluarga kerajaan.
Bahkan meskipun Arsya merasa sedikit terancam dengan keberadaan Kayla, karena jelas salah satu persona Arka bucin kepadanya. Tapi Arsya sungguh berharap dan berdo'a agar Arka menemukan Kayla sebelum penguman suksesi itu. Karena dengan begitu Arka tidak perlu menjalankan rencananya dengan Juna.
Kesibukan Arka yang semakin bertambah itu sama sekali tidak mengganggu Arsya. Meskipun tidak dapat dipungkiri dirinya merindukan kehadiran Arka selama tiga hari ini. Arsya memang sempat melihat dan berbicang dengan Arka saat dirinya bangun. Tapi begitu Arka sudah bersiap setelah Arsya selesai sholat subuh. Arsya sama sekali tidak memiliki sedikitpun kesempatan untuk bersama Arka. Karena selama tiga hari ini suaminya itu selalu pulang larut dan Arsya sudah tertidur lelap saat Arka menyusup ke balik selimut mereka.
"Prenses Arsya."
Suara Maiza itu menganggetkan Arsya secara harfiah sehingga bahunya terangkat keatas.
"Aku sudah mengetuk." Ujar Maiza sambil beranjak ke balkon kamar Arsya dan Arka. "Tapi kelihatannya pikiran anda berkelana ke tempat lain."
Arsya yakin Maiza mengindikasikan bahwa Arsya sedang melamunkan Arka. Tapi Arsya memilih untuk tidak menanggapi makna ganda dari kalimatnya itu. Dia menutup novel yang halamannya tidak juga berganti sejak setengah jam yang lalu.
"Ada apa Maiza?" Arsya bangkit dari bangku ayunan putih nya. "Tidak biasanya kamu mengganggu 'free time' ku."
Begitulah. Ini adalah jadwal free time Arsya. Setelah seharian berkutat dengan tugas sebagai seorang princess dari Kerajaan Chartreuse. Mulai istirahat makan siang, adalah free time bagi Arsya. Dan karena kerinduannya pada Arka. Selama dua hari ini, Arsya memilih untuk menghabiskan waktu makan siangnya di kamar mereka. Karena disanalah Arsya dapat mencium wangi maskulin khas Arka.
"Issi ku baru saja menelfonku." Gallen maksudnya. "Salah satu persona Pangeran Arka yang lain muncul setelah dia tertidur dalam perjalanan pulang ke Istana. Karena itulah Carnell membawanya ke Corral Mansion. Dan kata Issi, Pangeran Arka sudah memerintahkannya untuk memastikan kamu ada didekatnya setiap kali persona nya yang lain muncul."
"Tunggu. Muncul saat dia tertidur dalam perjalanan?"
Ini adalah hal baru. Atau mungkin baru bagi Arsya. Karena beberapa persona yang lain selalu muncul di pagi hari saat Arka baru bangun tidur. Bukan sedang melakukan quick nap seperti yang baru saja dikabarkan Maiza.
"Begitulah." Maiza mengangguk. "Kata Issi, ini memang sangat jarang terjadi. Tapi memang pernah terjadi sebelumnya. Saat Pangeran Arka benar-benar kelelahan karena kesibukannya."
"Issi mu memberi tahu, persona mana yang muncul kali ini?"
Kali ini Maiza menggeleng. "Issi segera pergi ke Coral Mansion begitu Carnell memberitahunya tentang kehadiran persona itu. Dan Issi hanya memintaku untuk membawamu ke Corral Mansion sesegera mungkin."
Arsya pun mengangguk. "Siapkan Riby. Kita akan lebih cepat sampai ke Coral Mansion dengan berkuda lewat jalan pintas biasanya."
Setelah mengiyakan permintaan Arsya. Maiza pun undur diri dari kamar itu. Sementara Arsya sendiri bersiap dan berganti dengan pakaian berkuda nya. Dengan pikiran yang dipenuh pertanyaan dan rasa penasaran. Siapa yang muncul di tubuh Arka kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHARTREUSE
Roman d'amourSebuah kerajaan dengan segala intriknya. Sang pewaris tahta dengan segala misteri dan rahasianya. Sebuah tempat tersembunyi dengan keindahannya. Keberadaan ketiganya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Namun takdir membawa seorang gadis biasa...
