(Season 2) 61. It's You

845 132 49
                                    

22.45.K.S.T.

Hari ini merupakan hari yang cukup berat bagi duo Lee. Sebagai seorang penembak jitu, Jeno dan Haecan harus bersiaga sampai malam, mengawasi keadaan sekitar bersama sniper rifle di tangannya. Dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam mereka harus berjaga di atas menara, mengawasi apakah ada zombie yang mendekat atau tidak. Kalau di dunia pekerja, seharusnya mereka akan mendapat gaji lembur bukan?

"Kau mau langsung tidur?" Tanya Haecan.

Jeno mengangguk. "Iya, besok pagi aku masih harus berburu ke hutan untuk mencari makanan."

Haecan sedikit terkekeh. "Ada untungnya juga bukan gadis-gadis itu nekat pergi keluar waktu itu?"

Jeno mengernyit. "Maksudmu?"

"Karena khawatir mereka akan keluar lagi, Renjun jadi membuat jadwal tersendiri untuk berburu makanan ke hutan. Setidaknya semuanya menjadi lebih terstruktur rapih. Kita tidak akan takut lagi kekurangan makanan."

Jeno mengangguk paham. Perkataan Haecan ada benarnya juga. Karena semenjak mereka memutuskan untuk berhenti pergi ke kota, berburu di hutan adalah satu-satunya cara mereka bisa mencari makan karena mengandalkan hasil kebun kecil mereka pasti tidak akan cukup.

Hanya saja, karena masih trauma untuk pergi keluar kegiatan berburu mereka tidak rutin dilakukan. Hanya seminggu 3 kali dan mereka akali dengan mengurangi porsi makan terutama untuk yang perempuan.

Tapi karena Renjun tidak mau sampai Ryujin dan gadis lainnya keluar lagi, akhirnya dia membuat jadwal berburu. Sehingga porsi makanan mereka kembali sama juga persediaan mereka cukup jikalau mereka tidak pergi berburu. Jadi tidak ada alasan bagi para gadis untuk pergi keluar mencari makan.

"Hmm?" Jeno mengangkat alisnya saat dirinya menemukan secarik kertas yang di tempelkan dengan solatip di depan pintu kamarnya.

Temui aku, ditempat kita berdansa. Jika kau tidak datang, aku akan berdansa dengan Yeonjun-Oppa saja.

Meski tidak ada nama pengirimnya, Jeno tahu siapa yang menulis surat ini. Siapa lagi kalau bukan gadis yang saat ini sedang dia acuhkan?

Ya Hwang Yeji, entah apa yang mau gadis itu lakukan. Yang jelas, Jeno masih akan menyita chargeran Yeji sampai gadis itu benar-benar menyesali perbuatannya.

"Ada apa?" Tanya Haecan.

Jeno menggeleng kemudian mencabut kertas itu. "Tidak apa-apa, aku teringat kalau aku meninggalkan sesuatu."

Haecan hanya mengangguk paham tanpa menaruh rasa curiga apapaun. Setelah Haecan masuk ke kamarnya, Jeno langsung melangkahkan kakinya menuju ruang yang Yeji maksud.

Orang-orang yang berpapasan pada pemuda ini pasti tidak akan tahu bahwa Jeno akan bertemu dengan Yeji. Karena air muka Jeno tidak sama sekali menunjukan ekspresi yang biasanya dia tunjukan. Tidak ada rasa antusiasme apalagi senyum-senyum tipis tercipta di bibirnya. Wajahnya sangat datar, tanpa ekspresi apapun. Bukan seperti Jeno yang biasanya akan senyum sumingrah apalagi jika mendapatkan pesan seperti ini dari Yeji.

Kriieett

Suara pintu terbuka mengagetkan seorang gadis yang berdiri di tengah ruangan. Gadis itu membalikan tubuhnya, menghadap Jeno namun matanya melirik ke arah lain.

Jeno sempat membeku di tempat saat Yeji membalikan tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya sosok yang biasanya keras dan galak seperti Yeji menunjukkan sisi feminimnya. Jeno tahu, pakaian yang Yeji tengah pakai saat ini adalah milik Ryujin.

Setelan dress off shoulder selutut berwarna putih tulang adalah pakaian yang biasanya Ryujin gunakan ketika Renjun ulang tahun. Kali ini, gadisnya lah yang menggunakan dress itu.

No More HomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang