28. Biggest mistake

1K 173 48
                                    

Brakkk!!

Seperti orang kesetanan, Jeno membuka pintu kamar Ryujin dengan sangat kasar sampai-sampai Ryujin yang tadinya sedang tidur terbangun. Ryujin terlonjak lalu mendapati Jeno yang berdiri di depan pintu sambil menatapnya dengan tatapan penuh emosi.

"Oppa, kau sudah pulang?" Tanya Ryujin.

"Ada yang terluka, cepat kau ke ruang medis."

"Apa itu luka ringan? Kalau hanya Beomgyu bisa mengobati luka ringan. Kaki ku sedang tidak dalam kondisi yang bagus." Ryujin menunjukkan kakinya yang sedikit membengkak.

Tanpa mendengarkan Ryujin, Jeno langsung meraih tangan Ryujin dan menyeretnya keluar kamar. Jeno tidak perduli dengan kaki Ryujin yang sedang terluka. Bahkan, gadis itu sudah berkali-kali mengaduh kesakitan karena kakinya yang terluka dipaksa berjalan. Seolah ditutupi oleh perasaan khawatir nya, Jeno mentulikan telinganya dengan rintihan menyakitkan yang Ryujin keluarkan.

"Oppa, kakiku sakit. Akhh! Pelan-pelan!" Rintih Ryujin yang tidak didengarkan Jeno.

Mendengar suara rintihan Ryujin. Yeji yang tadinya sedang bersembunyi di dapur'pun keluar dan mengecek. Benar saja, Ryujin ternyata sedang di seret oleh Jeno. Yeji cepat-cepat mengejar keduanya untuk menghentikan aksi kasar Jeno.

"Jeno, apa yang kau lakukan?! Ryujin sedang sakit!" Yeji menahan tangan Jeno.

Jeno menghempaskan tangan Yeji dan melanjutkan jalannya. Tidak menyerah begitu saja, Yeji melepas genggaman Jeno pada Ryujin lalu berdiri di depan Ryujin seakan menjadi tameng bagi temannya. Ryujin memegang tangannya yang memerah akibat genggaman tangan Jeno yang terlalu kuat. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tidak biasanya Jeno kasar begini.

Jeno menatap nyalang Yeji. "Minggir!"

"Tidak, atur dulu emosimu. Tindakanmu tadi melukai Ryujin." Jawab Yeji tanpa rasa takut.

"MINGGIR! ADA TEMANKU YANG TERLUKA DAN DIA MEMBUTUHKAN RYUJIN!!" Bentak Jeno sampai wajahnya memerah.

Suara Jeno mampu mengundang penghuni rumah yang lain. Jaemin dan Lia yang baru saja masuk juga dibuat kaget dengan suara Jeno yang sangat menakutkan. Mereka semua terpaku di tempat, tidak percaya kalau Jeno bisa membentak Yeji. Begitu pula dengan Yeji yang tidak bisa mengenal sosok di depannya. Jeno yang dia kenal adalah seorang pemuda konyol nan ramah. Tapi kini, Jeno sangat kasar dan baru saja membentak nya. Dia ingin menangis, tapi tidak! Yeji bukan gadis lemah! Jika Jeno mau melukai temannya, maka langkahi dulu mayat Yeji. Sebagai perempuan yang paling tua di rumah ini, Yeji akan melindungi teman-temannya.

"LALU APA SALAH RYUJIN SAMPAI KAU MELUKAINYA?! APA YANG MEMBUATMU MARAH?!" Jawab Yeji dengan nada yang sangat tinggi.

Situasi semakin menegangkan kala Yeji membalas bentakan Jeno. Keduanya saling adu tatapan nyalang nan tajam. Atmosfer diantara mereka sangat tidak bagus. Seperti aura hitam mengelilingi dua insan yang sedang bertengkar itu. Untuk pertama kalinya, ada pertengkaran se intens itu di rumah ini.

"Ini tidak bagus." Bisik Felix pada Bangchan.

"Kita lihat dulu reaksi Jeno. Jika semakin memanas, baru kita turun tangan." Balas Bangchan yang dijawab anggukan oleh Felix.

Ryujin menggenggam tangan Yeji guna menenangkannya. "Eonni, aku tidak apa-apa."

"Tidak!! Dia tidak bisa begitu saja melukai mu tanpa ada alasan yang jelas." Yeji menatap Jeno nyalang. "Ryujin, aku, atau perempuan lainnya di rumah ini bukan pelampiasan amarahmu Jeno-Ssi!"

Mata Jeno membola kala Yeji memanggilnya dengan panggilan formal. Dia baru sadar, kalau dirinya sudah terlalu kalap dengan rasa khawatirnya terhadap Nakyung. Jeno menghela nafas berat, memikirkan kata-kata Yeji. Benar juga, apa yang membuatnya marah? Kenapa dia malah melampiaskan rasa khawatir nya dengan berperilaku kasar pada Ryujin dan membentak Yeji. Padahal mereka tidak salah apa-apa. Merasa dirinya sudah terlalu keterlaluan, Jeno menyesali perbuatannya.

No More HomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang