Sudah saatnya untuk rombongan Bangchan pergi menjalankan misi. Segala peralatan yang mereka butuhkan sudah siap lengkap dengan persenjataan. Pada misi kali ini, jumlah orang yang akan pergi lebih banyak dari biasanya. Karena, kemungkinan besar perjalanan mereka akan lebih sulit dan berbahaya. Selain itu, karena mereka akan pergi ke tempat yang berbeda-beda, waktu yang mereka butuhkan akan lebih lama dan panjang.
Lia berdiri di depan Yeji. Tangan keduanya saling bertautan bersama dengan tatapan tidak rela dari Lia. Yeji adalah satu-satunya teman SMA Lia yang berhasil selamat dari Pandemi ini. Lia sangat khawatir akan terjadi apa-apa pada Yeji.
"Jangan pergi Yeji-ya." Lirih Lia.
Yeji mengulum bibirnya merasa iba. Dia juga sebenarnya tidak mau pergi. Dari awal, tujuan dia ikut misi ini adalah untuk menghindari Jeno dan Nakyung. Menghindari Nakyung nya sih berhasil. Karena kebetulan Nakyung tidak tahan dengan musim dingin. Tapi yang jadi masalah, Jeno tiba-tiba ikut untuk menggantikan Lino dan Soobin bersama dengan Yeonjun. Kalau begini, jadi serba salah. Tidak ikut, ketemu Nakyung. Mau ikut, ketemu Jeno. Gengsi juga kalau mau membatalkan. Mana tadi pake acara ngajak ribut Hyunjin segala lagi. Mau tidak mau, Yeji harus melanjutkan apa yang sudah dia perbuat.
Lain kali aku tidak akan pernah melawan Hyunjin-Oppa lagi. Karmanya cepat sampai ternyata :') - Yeji.
"Aku pasti akan baik-baik saja Lia-ya. " Yeji memeluk Lia untuk menenangkannya.
"Hati-hati di luar sana ya! Jaga baik-baik dirimu. Jangan sampai pulang cuma tinggal nama."
Yeji mencubit pinggang Lia. "Masih sempat-sempatnya kau melempar guyonan seperti itu."
Lia memekik lalu mengelus pinggangnya yang baru saja dicubit. "Aku kan hanya mengingatkan."
Liapun beralih menuju pemuda yang berdiri tepat di samping Yeji. Kedua insan berbeda gender itu saling melempar pandangan. Lia menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu untuk di ucapkan. Keadaan menjadi begitu canggung di antara keduanya. Untuk meredakan kecanggungan, Hyunjin berdehem sebelum memulai pembicaraan.
"Emm, Lia-ya!" Panggil Hyunjin.
"Iya Oppa?"
"Boleh aku memelukmu? Sebentar saja."
Permintaan Hyunjin sontak memicu debaran jantung Lia. Gadis itu cukup terkejut dengan permintaan Hyunjin yang tiba-tiba. Bukannya tidak senang, tentu saja Lia senang. Hanya saja, permintaan itu terlalu tiba-tiba.
Tanpa menunggu persetujuan dari Lia yang sepertinya membeku di tempat, Hyunjin langsung saja menarik Si gadis Choi ke dalam pelukannya. Pikirannya sedang sangat kacau meski wajahnya terlihat tenang. Ada kekacauan emosi yang saat ini Hyunjin rasakan. Dan dia tidak bisa menjelaskan hal itu dengan kata-kata.
"Eh, Oppa!" Lia menjadi serba salah ingin membalas pelukan itu atau tidak.
Bukan karena tidak ingin, tapi dirinya salah tingkah. Bahkan tangannya saja sudah gemetaran saking salah tingkahnya. Pikirannya jadi kalang kabut akibat dari pelukan tiba-tiba nya Hyunjin.
"Lia-ya,"
"I, iya Oppa?"
Hyunjin mendekatkan mulutnya ke telinga Lia seiring dekapannya semakin erat.
"Lia-ya, Saranghae~"
DEG!
Bisikan Hyunjin seolah menjadi kejutan listrik. Lia membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Degup jantungnya memburu seiring kesadarannya mulai melayang pergi menuju perasaan euphoria tak tertahan. Lia tidak menyangka, bahwa Hyunjin akan menyatakan cintanya saat itu juga. Dia benar-benar dibuat speechless dengan ungkapan cinta dari sang pujaan hatinya selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
No More Home
FanfictionPercayakah kalian bahwa otak manusia memiliki kemampuan yang lebih dari hanya sekedar mengingat dan memberi sinyal ke tubuh? Beberapa orang memiliki otak yang dapat menolak Virus dan menjadikan diri kebal terhadap virus. Mereka disebut imun. Sebuah...
