▶️ Saya hanya meminjam tokoh, namun nama dan ide cerita adalah murni dari pemikiran saya.
▶️ Cerita berpusat pada Semesta (Hyunjin).
▶️ Saya membuat cerita karena hobi, bukan untuk memenuhi memenuhi ekspektasi. So...jangan dibaca kalau tidak suka.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Huaaah....buwoseeen...."
Arin berguling-guling di ruang santai karena bosan. Anak-anak sedang sekolah. Semesta yang sedang membaca di sampingnya juga hanya bisa memandang bingung pada pengasuhnya.
"Kamu ndak bosen ta di rumah terus? Ndak pengen keluar rumah gitu?"
Semesta menggeleng. Dunia luar baginya begitu jahat, dia lebih nyaman berada di rumah. Arin sendiri juga tidak menyukai kegiatan di luar rumah. Tapi terus berada di dalam ruangan dalam waktu lama membuatnya bosan juga.
"Kamu ngapain guling-guling gitu?"
Abian yang baru saja tiba memandang bingung pada Arin yang masih pada posisinya. Semesta lalu menutup bukunya dan ikut berguling bersama Arin.
"Loh... ngapain kamu ngikutin dia dek?"
Arin malah tertawa, lantas memeluk Semesta yang juga ikut memeluknya.
"Om ikutan dooong...."
Belum sampai Abian ikut bergabung, Arin dan Semesta bergegas kabur.
"Kok gitu sih?" Abian protes tak terima.
"Mikir cok...badan segede itu mau nimbrung yo penyet aku sama Semi."
Arin langsung menepuk bibirnya yang kelepasan berkata kasar. Yah...semenjak disini Arin jarang bahkan tidak pernah lagi memakai bahasanya karena sungkan dengan tuan rumah dan juga tak ingin anak asuhnya ikut meniru dirinya.
"Eh maaf...kelepasan..."
Abian menggelengkan kepala. Dia maklum saja karena sudah berteman lama dengan Arin. Tapi Semesta malah menatapnya dengan bingung. Raut polos bercampur ingin tahu itu membuat Arin gemas dan ingin menggigit pipi si bocah.
"Maaf ya...jangan nyontek kakak ngomongnya. Itu nggak baik. Oke..."
Semesta mengangguk saja meski raut bingung masih jelas tergambar dalam wajahnya.
"Bosen ya? Mau jalan-jalan?" Abian menawarkan.
Arin sebenarnya ingin mengangguk saja. Tapi dia tentu tak boleh egois. Jika Semesta tak ingin pergi, Arin juga tidak akan pergi. Tapi bocah itu malah menyentuh lengannya dan mengangguk.
"Kamu mau pergi?"
Semesta mengangguk lagi.
"Tapi...boleh nggak sama tuan Cakra?"
"Masalah abang nanti biar aku yang ijin, kan aku yang ngajak."
"Beneran?" Tanya Arin masih ragu.
"Iyaaa....sana siap-siap."
"Yesss ...ayo dek."
Saking senangnya, Arin langsung menggendong Semesta ke kamarnya. Abian kembali geleng-geleng kepala. Tapi melihat Arin dan Semesta yang kompak, ada rasa yang tak bisa dia deskripsikan.