Yang Terakhir Untuk Abian

294 56 18
                                        

"Biaaann!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Biaaann!"

Pekikan disertai tangisan kembali terdengar menggaung di rumah duka membuat suasana semakin menyedihkan. Arika Sanjaya yang juga merupakan mama dari Cakra dan Abian masih belum menerima kepergian putra bungsunya. Diberitahu jika Abian masuk rumah sakit karena kecelakaan. Namun bukannya kronologi yang ia dengarkan, malah berita kematian yang dikabarkan.

Arika menangis sejadinya, ditemani Arin yang juga kehilangan. Dia tak menyangka Abian akan pergi secepat ini. Baru saja mereka bercanda sebelumnya dan Abian pamit untuk menangkap seseorang yang dikatakan telah mencuri dokumen penting perusahaan milik keluarganya. Abian pulang sesuai janjinya. Namun keadaan tak bisa dikatakan baik-baik saja. Hingga akhirnya kabar kepergiannya diberitahukan oleh Yonanta. Arin tak terima, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Semua tentu kehilangan. Abian memiliki tempat tersendiri di hati orang-orang yang menyayanginya. Meski sempat membuat kesal, tapi kebaikan Abian tak bisa dilupakan.

Kembar tiga juga sangat kehilangan. Menahan tangis serta isakan, ketiganya menemani Cakra menyambut tamu serta keluarga yang datang ke rumah duka. Tidak ada lagi orang dewasa yang bisa membantu Cakra selain mereka. Yonanta dan Revana kini sedang menjaga Semesta karena diminta oleh Cakra. Lelaki itu tak ingin putra bungsunya kesepian karena semua kini sedang sibuk di rumah duka.

Dan Cakra...lelaki itu...entah bagaimana mendeskripsikannya. Seperti separuh nyawanya hilang bersama dengan kepergian Abian. Tempat istimewa di hatinya diisi oleh adiknya dan putra-putranya. Sedari kecil dia lebih sering menghabiskan waktu dengan Abian daripada dengan kedua orang tuanya. Kehilangan Abian secepat ini seperti ia kehilangan separuh nyawanya.

Arin melihatnya. Melihat bagaimana Cakra terlihat begitu rapuh dan terpuruk karena kehilangan adiknya. Melihat Cakra menangis meraung memeluk tubuh adiknya yang telah tiada. Hingga tubuhnya limbung karena kehabisan tenaga. Tapi hari ini Cakra dipaksa kembali kuat demi keluarganya. Tersenyum meski terpaksa. Menguatkan ibunya juga anak-anaknya karena kehilangan sosok yang mereka cinta selamanya.

"Biaan..."

Kembali Arika Sanjaya menyebut nama putra bungsunya. Arin hanya bisa mengusap bahu yang lebih tua. Jangan tanya bagaimana keduanya bisa dalam posisi seperti ini. Arin hanya mengikuti nalurinya. Dan sang nyonya besar tak menolak sedikitpun atensinya. Entah karena sudah lelah atau memang butuh sandaran.

Beberapa kali juga keluarga atau tamu yang hadir mengucapkan bela sungkawa dan kata-kata penguat. Tapi Arika tak hiraukan semua. Kehilangan Abian seperti kehilangan separuh jiwanya. Sosok keras kepala yang tak pernah mau patuh padanya. Ada banyak sesal yang ia rasa karena belum memberikan semua yang terbaik untuk putranya.

"Rin..."

Cakra menghampiri Arin dengan penampilan yang sedikit berantakan. Cukup aneh dipandang untuk Cakra yang selalu tampil sempurna.

"Ya, pak?"

"Habis ini ajak mama makan dulu ya. Sekalian anak-anak sama kamu juga."

"Baik, pak."

SemestaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang