▶️ Saya hanya meminjam tokoh, namun nama dan ide cerita adalah murni dari pemikiran saya.
▶️ Cerita berpusat pada Semesta (Hyunjin).
▶️ Saya membuat cerita karena hobi, bukan untuk memenuhi memenuhi ekspektasi. So...jangan dibaca kalau tidak suka.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Papa mu nggak ngajarin kamu jadi tukang ngadu."
Semesta yang hampir berbaring mengurungkan niatnya. Pemuda itu diam dalam posisinya.
"Sekarang kamu lebih milih lari ke Yonanta daripada sama keluarga mu sendiri? Cerita apa aja kamu sampai om kesayangan kamu itu dateng dan marah-marah."
Apa ini alasan Yonanta pergi tiba-tiba kemarin? Lelaki itu tidak mengatakan kemana tujuannya dan pulang dengan keadaan tangan yang terluka.
"Kalau ada yang ngomong itu ditatap wajahnya, bukan malah diem gitu. Diajari nggak sopan kamu sama Yonanta?"
Semesta menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum membalikkan badan. Abian adalah tipe yang keras. Dan jika Semesta sama-sama keras dalam menghadapinya, yang ada mereka malah bertengkar. Dia cukup lelah dan ingin segera beristirahat.
"Oh...jadi gini kelakuan kamu kalau nggak ada yang tau? Tawuran dimana kamu?"
"Auwh..."
Semesta memekik ketika Abian menekan luka lebam di dekat bibirnya. Jika sudah begini, mau bicara jujur atau berbohong pun Abian pasti akan tetap memarahinya.
"Jadi kamu ke rumah Yonanta karena kamu nggak mau kelakuan kamu ini ketauan orang rumah, iya? Papa mu kerja keras buat biayain kamu, tapi gini kerjaan kamu? Harusnya kamu bersyukur kamu bisa menikmati semua fasilitas ini dan nggak ditelantarin sama papa kamu. Tapi yang bisa kamu lakuin cuma bisa bikin malu."
Sakit. Ucapan itu tidak dikatakan dengan keras, tapi tepat menusuk pada ulu hatinya.
"Apa maksud om? Kapan aku bikin malu papa?"
Semesta tidak menerima tuduhan dari Abian. Bahkan di sekolah pun dia tidak pernah sekalipun mendekati kakak kembarnya. Rumor yang tersebar juga tak tahu asalnya darimana. Kenapa bisa Abian menuduhnya membuat malu sang papa?
"Tawuran, bolos sekolah, bolos upacara, sering dapat hukuman, sering tidur di UKS dengan alasan sakit, dan masih banyak laporan yang om terima. Kamu mau ngelak?"
Semua yang dikatakan Abian memang benar pernah Semesta lakukan, bahkan sering. Tapi dia memiliki alasan atas ketidakhadirannya. Dan untuk tawuran, tak sekalipun Semesta pernah mengikutinya. Yang ada dia yang menjadi korbannya.
Tapi diamnya Semesta membuat Abian berpikir jika keponakannya itu membenarkan segala ucapannya.
"Nggak bisa ngelak kan? Papamu ngasih kamu di sekolah umum itu biar kamu belajar jadi orang baik. Bukan berandalan kayak gini."
"Jadi intinya om mau bilang apa?"
"Apa? Ya intinya kamu jangan jadi berandalan kalau masih jadi Sanjaya. Bikin malu. Papamu yang kerja keras bangun semuanya, tapi kamu nodain itu semua sama kelakuan kamu."
Semesta ingin tertawa. Jadi kalau dia bukan Sanjaya, dia bisa berlaku sesuka hatinya? Apa ini pengusiran?