▶️ Saya hanya meminjam tokoh, namun nama dan ide cerita adalah murni dari pemikiran saya.
▶️ Cerita berpusat pada Semesta (Hyunjin).
▶️ Saya membuat cerita karena hobi, bukan untuk memenuhi memenuhi ekspektasi. So...jangan dibaca kalau tidak suka.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dew...Arin...stop..."
"Apa sih Bi? Aku mau ke kamar Semi."
"Mau ngapain? Bang Cakra udah ngasih libur sampai kamu sembuh."
"Aku udah sembuh."
"Ish...sembuh apa? Nih liat...liat...liat..."
Abian menunjuk kening Arin yang masih hangat, manik yang masih sayu dan berair, serta bibir yang masih pucat. Arin belum sembuh sepenuhnya dan memaksa untuk bekerja meski hanya menunggu Semesta.
"Aku yang udah buat Semi sakit, aku harus minta maaf."
Arin tak menghiraukan panggilan Abian dan terus berjalan. Namun baru saja keluar dari pintu kamar, Arin langsung menabrak seseorang hingga tubuhnya limbung karena tidak seimbang. Wanita itu menutup mata, bersiap untuk terjun bebas ke lantai yang keras. Tapi setelah berapa menit berlalu, Arin yang tidak merasakan apa-apa lalu membuka mata.
"Pa-pak Cakra..."
Cakra menahan tubuhnya yang hampir menyentuh lantai keras. Entah karena terpesona dengan wajah tampan Cakra atau berpikir jika adegan ini seperti cerita dalam drama, Arin malah diam dan memperhatikan wajah sang tuan dengan seksama.
"Ekhem..."
Dehaman Abian mengakhiri adegan yang hampir menjurus dewasa jika ada yang tak sengaja melihat atau salah paham akan posisinya.
"Kamu nggak apa?"
Pertanyaan Cakra hanya dijawab dengan gelengan. Arin menunduk karena malu. Mengumpati dirinya sendiri karena bisa-bisanya dia malah nyaman dipeluk oleh Cakra dalam posisi seperti itu.
"Bang...dia ngotot mau kerja. Padahal aku udah bilang kalau abang kasih libur sampai dia sembuh." Abian mengadu.
Inginnya Arin menjambak Abian. Tapi di depannya ada sang tuan dan dia harus bersikap sopan. Hanya tatapan setajam mata kucing yang habis beranak dia layangkan pada Abian.
"Benar kata Bian. Kamu bisa libur sampai bener-bener sembuh. Lagipula ada saya sama perawat yang jaga Semi."
Cakra benar-benar menjaga Semi hingga melupakan pekerjaannya. Arin bisa melihat kantung mata yang tebal juga lingkar hitam di bawah matanya. Bukti bahwa Cakra mungkin tidak tidur beberapa hari belakangan karena menjaga putranya.
"Tapi...saya yang bikin Semi sampai sakit kayak gini kan? Saya harusnya juga bertanggung jawab. Bukan malah enak-enak tidur di kamar."
Abian menghela nafas pasrah. Arin yang keras kepala tak akan menyerah begitu saja.
"Ya sudah. Kamu boleh nunggu Semi. Tapi sambil tiduran juga ya. Kamu juga masih butuh istirahat. Jangan sampai nanti Semi sudah sehat tapi kamu masih sakit."
"Beneran pak?"
Cakra mengangguk. Abian ingin protes tapi Cakra memberi isyarat agar adiknya itu tidak memprotes.