▶️ Saya hanya meminjam tokoh, namun nama dan ide cerita adalah murni dari pemikiran saya.
▶️ Cerita berpusat pada Semesta (Hyunjin).
▶️ Saya membuat cerita karena hobi, bukan untuk memenuhi memenuhi ekspektasi. So...jangan dibaca kalau tidak suka.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah berpasrah diri dengan paksaan Ersa, Arin tak menyangka jika yang lebih tua masih memiliki kejutan untuknya.
"Ini bukan jalan ke rumah."
"Yang mau ke rumah siapa?"
"Mbak...kita udah di luar dari tadi. Kasian Semi."
Bukan hanya sekedar alasan. Arin hanya takut Semesta kelelahan dan berdampak pada kondisinya.
"Sem...bentar lagi ya. Habis ini kita pulang kok."
"Iya."
Semesta menurut saja. Toh dia tidak masalah. Dia merasa tubuhnya lebih baik sekarang.
"Nah... Semi juga nggak apa. Janji ini yang terakhir. Sayang banget udah dandan cantik gini cuma buat pulang ke rumah."
Memang benar. Arin sudah dirias sedemikian rupa. Rasanya seperti akan menghadiri pesta. Tidak mungkin kan Ersa akan mengajaknya ke pesta?
Mobil mereka berbelok ke sebuah tempat yang Arin kenal. Bukan karena sering kesana, tapi saat bekerja di kantornya yang dulu beberapa kali ia menyambangi tempat itu.
"Ayo."
Ersa mengajak Arin dan Semesta untuk turun setelah mobil mereka terparkir. Bahkan wanita itu sendiri yang membantu Semesta untuk turun dan duduk di kursi rodanya.
Arin mulai menebak-nebak. Tidak mungkin kan Ersa tiba-tiba mengajaknya makan malam di restoran ini? Bukannya tak mampu membayar. Tapi harga per menunya mungkin bisa untuk hidupnya selama satu bulan di ibukota. Untuk kaum mendang-mending seperti dirinya, makan di restoran Padang juga sudah mewah.
"Atas nama Cakra Buana."
"Silakan."
Arin semakin berpikir keras kala nama Cakra disebutkan. Apa disini ada Cakra? Apa lelaki itu sudah janjian dengan Ersa sebelumnya? Ada rasa tidak rela, tapi ingat dia bukan siapa-siapa.
Mereka masuk ke dalam restoran dipandu pelayan. Tak Arin sangka, Cakra ada di sana, duduk sendirian seperti menunggu seseorang. Penampilannya begitu rapi dan segar, seperti mau melamar seseorang, eh...
Seketika hatinya berdenyut nyeri. Sedikit tapi. Berbagai pikiran lalu berseliweran di kepalanya.
Apakah Cakra akan melamar kembali Ersa?
Atau Cakra sengaja mengajak makan malam bersama disini untuk menegaskan status mereka?
Lalu...apa arti ucapan Cakra tempo hari tentang perasaannya?
Arin langsung menatap lelaki itu dengan sendu. Dia sudah terlalu percaya diri jika Cakra mungkin akan memuji penampilannya. Tapi kenyataan menamparnya. Memang seharusnya ia tahu diri. Tak perlu merasa tinggi hanya karena Cakra mengatakan perasaan padanya. Atau mungkin Cakra telah disadarkan kenyataan jika memang Arin tidaklah sempurna.