Usaha

333 57 13
                                        

Dulu Cakra berpikir hidupnya akan datar-datar saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dulu Cakra berpikir hidupnya akan datar-datar saja. Semua yang ada di hidupnya telah direncanakan, termasuk jodohnya. Selama hidup lelaki itu juga tak pernah menjalin asmara. Waktunya dihabiskan untuk belajar di sekolah dan belajar di perusahaan. Bak drama Korea, sejak kecil Cakra memang dipersiapkan menjadi pewaris perusahaan ayahnya.

Dia tertekan, tentu saja. Namun semua dipendam sedemikian rupa hingga tak ada yang mengetahuinya. Sampai tiba saat dimana ia muak dan ingin melepaskan diri dari jeratan meski hanya semalam saja. Sayangnya...itu bukan sebuah penyelesaian untuk rasa tertekan. Malah menambah masalah baru yang rumit untuk diselesaikan.

Rumah tangganya berantakan. Istrinya memilih pergi dan menggugat cerai karena dirinya ketahuan main belakang. Padahal itu semua hanya sebuah ketidaksengajaan yang berujung penyesalan berkepanjangan. Seorang anak hadir karena kesalahannya. Awalnya Cakra tak ingin menghiraukan. Tapi bukan mau ingin anak untuk dilahirkan dari sebuah kesalahan. Kini ketika sang anak diambang kematian, barulah semua sadar mereka saling peduli, hanya saja tertutup oleh keegoisan.

Tidak ada orang tua waras di dunia ini yang tega melihat anaknya terpuruk dan menderita. Begitupun Cakra yang kini sedang memandang wajah tenang putranya yang masih terlelap bersama mimpinya.

Semesta telah sadar dari tidur panjangnya. Namun keadaan yang ada membuatnya lebih terpuruk dan memilih untuk tidak bangun lagi jika dia bisa memilih.

"Hiks...hiks..."

Bahkan dalam isakan masih keluar dari belah bibirnya. Tiap kali bangun, maka yang Semesta lakukan hanya menangis. Dunianya yang kelam jadi semakin gelap dan tak terlihat. Hidup dalam kondisi cacat baginya tak ada guna. Kondisinya yang normal saja sudah dihujat, apalagi jika dia cacat? Baginya ini seperti sekarat.

Cakra mengusap pelan punggung tangan Semesta, memberi ketenangan sebaik yang ia bisa. Jika saja ada yang mau mendonorkan matanya, maka Cakra akan memberikan apapun yang orang itu mau termasuk hartanya yang tak terkira katanya.

Bertubi-tubi masalah yang diterima, membuat Cakra terkadang terisak tanpa suara. Apalagi masalah Semesta yang begitu sensitif untuknya. Tak peduli lagi dengan sang mama yang melarangnya, Cakra hanya ingin fokus pada putra bungsunya untuk sementara. Lagipula kembar paham dan tak memprotes macam-macam.

"Papa takut tiap liat kamu tidur. Takut kamu nggak bangun. Tapi papa juga nggak tega liat kamu bangun dan nggak bisa terima kenyataan dengan keadaan."

Cakra tak sanggup melihat Semesta menangis dengan tatapan kosongnya. Isakannya pelan namun memilukan. Mau mendekap juga takut Semesta kesakitan. Putranya hanya bisa tidur tanpa melakukan apapun. Tentu Cakra paham apa yang dirasakan Semesta karena kondisinya. Putranya pasti lebih menderita daripada dirinya.

"Kamu jangan khawatir ya. Papa sama om Yonan pasti akan secepatnya dapetin donor buat kamu. Kamu bakalan bisa liat lagi. Kita juga cari dokter yang bagus buat kamu biar cepet sembuh. Papa akan terus usahakan yang terbaik buat kamu."

SemestaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang