Lelah

384 68 24
                                        

Jika orang lain menantikan kedatangan keluarganya, maka bagi Semesta tidaklah sama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jika orang lain menantikan kedatangan keluarganya, maka bagi Semesta tidaklah sama. Dia tidak berharap keluarganya datang menjenguknya, sekalipun itu om-nya dan Deandra.

"Udah ditemenin, malah diem aja."

"Om sensitif banget. Kek tespek."

"Ndra...bisa diem?"

"Om bisa diem?"

Semesta jadi pusing mendengar perdebatan dua orang berbeda usia itu. Abian selalu berkata sarkas padanya dan Deandra membalas ucapan om-nya untuk Semesta.

"Om...kita ini lagi jenguk Semi loh, om kok malah marah-marah mulu."

"Siapa yang marah-marah?"

"Om lah. Om, marah-marah itu nggak sehat. Bikin tekanan darah tinggi, kalau udah gitu nanti kerja jantung jadi lebih keras, bisa jadi stroke loh."

"Kamu doain om kena stroke?"

"Aku nggak bilang."

"Ndra...kamu kok belain dia terus sih? Bukannya kamu juga benci dia?"

Abian bertanya sembari menatap Semesta. Tatapan keduanya sempat bertemu, namun Semesta memilih untuk menunduk. Dia selalu sakit ketika melihat tatapan Abian yang tak sehangat dulu.

"Ngarang si om. Yang bilang aku benci Semi siapa?"

Deandra beralih memandang Semesta, namun adiknya itu masih menunduk.

"Kamu jauhin dia sama kayak lainnya."

Kali ini Deandra tak menjawab karena memang benar adanya. Tapi dia memiliki alasan kenapa ia harus menjauhi Semesta.

"Nggak usah sok baik sama dia. Nanti dia besar kepala."

"Nggak usah dia dia...langsung aja sebutin nama. Sekalian mumpung kita cuma bertiga, omongin kenapa om sekarang benci Semesta."

Benar, kenapa Abian yang dulu bucin keponakannya tiba-tiba berubah membenci Semesta?

"Anak kecil nggak perlu kepo urusan orang dewasa."

"Selalu gitu. Ujung-ujungnya juga nyalahin lagi. Bosen om."

"Ba-bang...boleh aku istirahat nggak?"

Semesta memberanikan diri untuk menginterupsi. Kepalanya masih sedikit pening akibat terantuk lantai saat jatuh terpeleset kemarin. Mendengar Abian dan Deandra berdebat membuat kepalanya semakin pening.

"Eh...kamu sakit lagi?"

Jika ini mimpi, Semesta tak ingin bangun lagi. Dia seperti berhalusinasi ketika mendapat tatapan kekhawatiran dan juga perhatian dari sorot mata Deandra. Diantara ketiga abangnya, memang Deandra yang tak pernah berbicara sarkas atau kasar padanya. Abang terkecilnya itu lebih banyak diam. Apalagi dengan pembawaannya yang dingin dan misterius. Semesta justru lebih takut padanya ketimbang Petra dan Felix yang suka menyindir atau memarahinya.

SemestaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang