Bab 21

53 3 0
                                        

Meskipun Vino mencoba lagi untuk bicara dengan Anya, tapi nihil usahanya sia-sia. Anya terus mengusir dengan tubuh yang bergetar, juga sambil menangis.

Bibi yang melihat dari arah dapur merasa khawatir.

Abian yang juga masih duduk tak jauh dari Anya tetap diam.

Vino menyerah, lalu pergi tanpa menjelaskan sepatah kata pun pada Anya.

Bahkan Anya sekarang gemetar saat dirinya menghampiri tidak seperti dulu yang selalu tersenyum hangat, juga terkadang merangkulnya.

Vino juga tidak menyangka kejadian itu bisa membuat Anya seperti sekarang. Vino juga tidak tau tentang masa lalu Anya.

Vino menyerah bukan berarti selesai saat ini juga, tapi mengulur waktu. Membiarkan Anya merasa tenang dulu, lalu jika waktu nya pas dia akan berbicara.

Setelah Vino meninggalkan rumah Anya, kini Anya memeluk Abian yang sedari tadi diam.

Tangisannya menjadi.

Bibi juga datang menghampiri mereka memberikan air hangat untuk Anya, dan Abian meminta bibi untuk meletakannya di meja dulu.

"Sstttt.. Ada gue di sini." Abian mencoba menenangkan Anya yang masih dalam pelukan nya.

Awalnya Abian terkejut saat Anya tiba-tiba meluk dirinya. Namun gak lama Abian membalas pelukan Anya.

"Udah ya nangisnya." Abian melepaskan pelukan mereka, menyeka air mata di kedua pipi Anya. "Hmmm, liat gue." Pinta Abian.

Anya menatap Abian dengan mata sembab dan merah.

Ada rasa terluka di hati Abian.

Entahlah.

"Ada gue disini.." Sekali lagi Abian mengatakan itu, agar Anya tenang dan memberitahukan bahwa dirinya tidak sendiri.

Anya hanya terdiam.

"Minum ya.." Abian mengambil gelas di meja dan memberikannya pada Anya, namun Abian juga membantu memegangi gelas.

"Udah ngerasa baikan?" Tanya Abian, yang di angguki Anya. "Mau pindah?" Kini Anya menggelengkan kelapanya.

Kepalanya dia sandarkan di bahu Abian, lalu matanya melihat luka di tangan Abian.

"Ini.." Ucap Anya, lagi. Suara Anya serak.

"Gak papa kok." Jawab Abian.

"Maaf, gara-gara gue.." Lirih Anya, "gue obatin ya." Lanjut Anya.

"Gak usah beneran.." Namun setelah menjawab Anya beranjak yang langsung di tahan Abian, "oke, tapi gue yang ambil kotak p3knya.." Lanjut Abian.

Kini Anya duduk lagi membiarkan Abian mengambil kotak p3k yang tidak jauh dari mereka, karena terpampang jelas kotak itu di lemari tak jauh dari TV.

Abian menyerahkan kotak itu pada Anya, dan duduk berhadapan. Tangan Abian di pegang oleh Anya, mengusap sebentar luka yang di buat olehnya.

Anya lalu mengambil kapas, obat merah juga plaster dari dalam kotak. Dengan pelan Anya mengobati luka Abian, sampai akhirnya plaster bermotif kura-kura menempel di punggung tangan kirinya.

Ada kekehan kecil tersengar dari Anya.

Abian juga tersenyum.

Tangan Abian terangkat untung mengusap kepala Anya.

Anya yang mendarai itu menatap Abian.

Abian malah jadi terlihat gak nyaman, membuat Anya terkekeh lagi.

Mereka hening beberapa saat, mata Abian melihat jam dinding. Sudah pukul sembilan, dirinya harus pulang.

"Anya, pindah ke kamar ya.. Gue juga mau balik." Ucap Abian memecah hening.

"Lo mau balik?" Tanya Anya. "Gue sendirian." Lanjut Anya sambil menunduk.

Ah, Abian gak tega.

"G-gue harus gimana?" Tanya Abian bingung.

"Gak mau temenin gue?"

Mata Abian membelalak.
Gimana Abian mengartikan perkataan Anya ini?

"Lo bisa nginep di kamar tamu kok." Lanjut Anya. Yang langsung menepis apa yang di pikiran Abian.

"Gue gak bawa seragam ganti, buku gue juga.." Jawab Abian.

Anya menjadi cemberut mendengar jawaban Abian.

"Besok sebelum berangkat sekolah gue ke sini dulu.. Besok lo mau izin apa mau sekolah bareng gue?" Lanjut Abian sambil bertanya.

Anya berdiam sebentar untuk berpikir, jika izin lagi dirinya akan kesepian di rumah. "Sekolah bareng lo." Dan itulah pilihan Anya.

"Ya udah, besok pagi-pagi gue kesini.. Sekarang lo tidur ya istirahat.." Ucap Abian.

Anya mengangguk.

"Kalo ada apa-apa jangan ragu buat hubungi gue, ingat." Lanjut Abian yang di angguki Anya lagi. "Kalau gitu, gue balik ya.. Lo hati-hati dirumah."

"Iya, lo hati-hati dijalan nya.." Ucap Anya.

Abian benar-benar pergi sekarang, tinggal Anya yang masih di sofa dan bibi  ada di kamar belakang.

Sekarang Anya sendirian lagi.

Merasa kesepian setelah Abian pergi.

Sekali lagi, Anya beruntung karena ada Abian lagi. Jika tidak, Anya tidak tau apa yang terjadi.

Dan Abian juga bisa membuatnya tenang kembali dengan cepat.

Lagi, rasa asing ini muncul lagi.

Anya memilih beranjak dan masuk ke kamarnya.

☘️☘️

Anya Oktaviani (SLOW UP) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang