[Kal, mbak udah di pesantren. Bisa ketemu sebentar?]
Haikal berdecak malas sembari menghapus pesan dari mbak Wulan. Kemarin ia sudah tegas untuk tidak berkomunikasi lagi dengan mbak Wulan.
Tapi perempuan itu tidak terima. Terus-menerus mengirim Haikal pesan dan mengajak bertemu. Persis seperti yang mbak Wulan ceritakan tentang kelakuan mantan tunangannya, Andre.
Bahkan hari ini Mbak Wulan nekad datang ke pesantren hanya untuk menemuinya.
"Kang, sampean bisa gantiin aku?" tanya Haikal pada kang Yazid yang sedang bersantai di pos jaga.
"Bisa sih. Tapi sampean mau ke mana?"
Haikal tersenyum jahil. Ciri khas senyuman laki-laki itu.
"Mau kelonan lah. You know kelonan kang? Mbojo sek. Nanti sampean tau apa itu dikeloni istri."
Haikal tertawa puas melihat wajah kecut kang Yazid. Ia memberikan kunci mobil milik Abah Yai, kemudian segera pergi.
"Kang, tunggu! Kang Haikal berhenti!!"
Namun baru saja Haikal menjalankan motornya hendak keluar area pesantren, dari arah belakang ada yang mengejarnya dan terus memanggil-manggil namanya.
"Kang Haikal, ya Allah!"
Terpaksa Haikal menghentikan laju motornya. Menoleh ke belakang, ia menemukan santri putra ngos-ngosan setelah mengejarnya.
"Ngapain sih kang? Ngejar-ngejar saya sudah seperti mau beli tahu bulat saja," seloroh Haikal.
"Itu kang ... sampean dipanggil Abah Yai ke ndalem. Sekarang!"
Haikal langsung mak deg seketika!
Dia berpikir Abah Yai memanggilnya karena persoalan gantian tugas nyetir dengan kang Yazid.
Jadi Haikal bergegas kembali menuju ndalem rumah Abah Yai.
Ia mengucap salam. Dan setelah dipersilahkan masuk, ia bergerak dengan lututnya memasuki ruang utama ndalem pengasuh.
Namun Haikal dibuat kaget ketika melihat di ruang utama ndalem sudah ada mbak Wulan yang sedang menangis di samping ibu nyai.
Dalam hati Haikal menduga-duga. "Mau ada drama apalagi nih?"
Haikal menundukkan kepala di depan Abah Yai dan ibu nyai yang ia takdzimi.
Kemudian suara Abah yai muslim terdengar.
"Kal, Abah memanggil kamu ke sini terkait dengan kedatangan Wulan hari ini. Tentang Wulan yang selama ini punya perasaan sama kamu, apa kamu tau?"
Haikal mengangguk. "Nggih, kulo ngertos Bah."
"Tapi selama ini saya hanya menganggap Mbak Wulan sebagai kakak perempuan. Tidak lebih dari itu," lanjutnya.
Abah Yai menoleh pada mbak Wulan yang sudah berhenti menangis.
"Wulan, kamu dengar itu? Abah tidak menyangka ternyata di pesantren ini ada kisah cinta yang rumit. Azkiya dengan Fikri. Sekarang Wulan dengan Haikal. Mengapa tidak membiarkan Azkiya dan Haikal damai-damai saja?"
Mbak Wulan menjawab dengan suara jelas. "Saya yang lebih dulu mengenal dan dekat dengan Haikal, Bah. Tapi mengapa yang dijodohkan dengan Haikal justru Azkiya? Apa yang kurang dari saya?"
Tanpa dilihat oleh mbak Wulan, Haikal dan Abah Yai kompak menghela nafas berat setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Wulan.
Sedangkan Haikal sungguh menyesal dengan kedekatan yang ia bangun bersama Mbak Wulan, yang hanya ia anggap sebagai kakak perempuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Mbak Santri
Teen Fiction"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjadi. Azka Azkiya merasakan hal itu di tahun kedelapan dirinya nyantri di pondok pesantren Al-Furqon. Abah Yai menjodohkannya dengan salah satu...
