Flashback Azkiya. Tiga tahun yang lalu.
Hari ini wisuda kelulusan SMA. Azkiya terlihat beda dan cantik dengan balutan kebaya warna biru dongker. Wajahnya jadi sering senyum saat diajak foto oleh teman-teman perempuannya.
"Kiya ... anter ke sana yuk!"
Devi, teman sebangkunya saat SMA menunjuk ke arah timur panggung. Di sana terlihat pada wisudawati sedang mengerubungi entah apa.
"Jangan lama-lama, Dev. Acaranya belum selesai," kata Azkiya.
"Nggak lama kok. Cuma ngasih hadiah bentar."
Akhirnya Azkiya mau menemani Devi ke sana. Begitu sampai, Azkiya makin penasaran orang-orang sedang mengerubungi pa sampai antri begitu.
Ketika Devi maju dan membelah kerumunan, Azkiya bisa melihat satu laki-laki sedang dikerubungi oleh cewek-cewek yang antri memberinya hadiah.
Tentu saja Azkiya memunculkan ekspresi speechless sekaligus aneh.
Laki-laki yang sedang dikerubungi itu bukan bagian dari angkatan mereka yang sedang wisuda.
Terlihat dari pakaiannya yang hanya sarungan, baju Koko dan kopiah hitam.
Tidak sedang wisuda tapi dia yang banyak sekali diberi hadiah oleh cewek-cewek.
"Dev, kamu ngasih hadiah ke siapa?" tanya Azkiya begitu melihat Devi kembali dengan senyum cerah di wajahnya.
"Kang Haikal. Kamu gak tau dia?"
Azkiya menggeleng jujur. "Nggak."
"Dia loh sepondok sama kita. Ampun! Banyak banget yang suka."
"Sukanya karena apa?"
"Karena ganteng banget, suerrrr!!"
Azkiya menaikkan satu alisnya mendengar alasan konyol itu. Ia pun menoleh kembali ke belakang, melihat laki-laki yang bernama Haikal itu.
Menurut Azkiya biasa saja tampangnya. Ada yang lebih ganteng dari si Haikal Haikal itu.
Tak lain adalah Gus Fikri.
Andai Azkiya punya keberanian juga untuk memberikan hadiah pada putra bungsu Abah Yai.
Sayangnya ia hanya bisa terus memendam rasa karena sadar diri dengan perbedaan nasab di antara keduanya.
Azkiya sudah bergabung menjadi abdi ndalem bagian dapur sejak ia mondok kelas tiga SMA.
Tangannya sudah sering memasak banyak menu makanan untuk para santri setiap harinya.
Termasuk masak sup bening tiap kali ada santri yang sedang sakit.
"Anak kamar berapa nih yang lagi sakit?" tanya Azkiya.
Ia baru selesai masak sup kuah bening dan goreng tahu. Niatnya untuk menu makan bagi santri yang sedang sakit.
"Kamar empat, mbak!"
Azkiya membawa nampan berisi mangkuk untuk sup, nasi dalam piring, tahu goreng dan buah apel.
Perempuan itu senang mengantarkannya langsung untuk santri sakit sembari ngobrol sebentar dan menyemangati santri tersebut agar bisa pulih kembali.
Kamar empat sudah berada di depan mata. Pintunya setengah terbuka hingga Azkiya bisa mendengar obrolan dua orang di dalam sana.
Mengapa yakin hanya dua orang?
Karena yang lainnya sedang sekolah.
Azkiya tidak langsung masuk karena telinganya sedang mendengarkan obrolan menggelikan dua orang itu.
"Pokoknya aku sakit hati banget, Feb. Aku udah nyisain uang jajanku, ditabung untuk beli kado di hari valentine nanti. Eh malah aku diputusin sama kang Haikal. Nyesek banget sumpah!"
Azkiya yang mendengar curhatan itu hanya bisa menghela nafas kecewa. Ternyata cape-cape masak sup hanya diberikan untuk orang yang sakit hati, bukan sakit beneran.
"Gak papa kali, Sya. Tetep dibeliin aja, terus hadiahnya dikasih buat kang Haikal. Cowok kalau dikasih hadiah, pasti minta balikan."
Di depan pintu, Azkiya memutar bola matanya jengah. Sebuah nasehat yang unfaedah sekali didengar.
Padahal bisa apa sih si Haikal Haikal itu? Memang dia penghafal Alfiyah terbaik? Dengar namanya di kelas Alfiyah saja jarang.
Terus calon hafidz kah? Kok banyak santri putri yang ngantri jadi gebetannya?
Kalau cuma modal ganteng, sumpah Azkiya ilfeel banget.
Akhirnya Azkiya mendorong pintu kamar sembari mengucap salam. Dua orang di dalam kamar itu langsung menoleh kaget.
"Siapa yang sakit?" tanya Azkiya basa-basi.
"Saya mbak." Yang memakai baju tidur mengangkat tangan.
"Ini sup bening dihabiskan. Lalu minum obat."
Dua santri itu mengangguk kaku. Sebelum pergi, Azkiya berkata dengan wajah serius.
"Besok-besok bagi yang sakit karena alasan patah hati oleh yang namanya kang Haikal, mbak-mbak ndalem akan masak sup buntut tikus untuk kalian!"
Azkiya tidak memperhatikan reaksi dua santri itu. Ia segera keluar dari kamar asrama, kembali ke dapur.
Bagian piket pagi ini adalah orang-orang yang sudah tidak sekolah.
"Perhatian bagi mbak-mbak dapur!"
Empat orang di dapur langsung menoleh pada Azkiya.
"Siapa yang lagi deket sama yang namanya kang Haikal?"
Tiga orang langsung mengangkat tangannya dengan kompak. Azkiya syok berat.
"Kalian bertiga sedang didekati kang Haikal? Barengan gini?!" tanya Azkiya melotot kaget.
"Nggak sih. Kami hanya barisan pengagum kang Haikal."
"Heleeeh!" Azkiya memasang wajah julid.
"Inget ya! Jangan ada alasan izin gak masak karena sakit hati diPHP-in kang Haikal. Aku gak mau temen-temenku jadi korbannya juga," ucap Azkiya serius.
"Yang bilang kaya gitu bisanya gak lama join juga loh," sahut mbak Naya. Satu-satunya yang bukan fans Haikal.
"Nggak bakal ya mbak! Cowok playboy seperti dia tuh bukan idamanku sekali!"
Namun takdir memang selucu itu.
Yang bukan idaman justru di masa depan jadi suami bucinnya. Yang dulunya dibenci sekali, di masa depan justru jadi orang yang Azkiya takut kehilangannya.
Allah memang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Jangan sampai ketika diledek dengan seseorang malah jawabannya "amit-amit."
Fix di masa depan akan jadi jodohmu!
__________
Author note~
( Amit-amit Gus Zizan. Amit-amit sama Habib Zaidan. Ya Allah jodohkan author dengan salah satunya ) 🙏😆
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Mbak Santri
Novela Juvenil"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjadi. Azka Azkiya merasakan hal itu di tahun kedelapan dirinya nyantri di pondok pesantren Al-Furqon. Abah Yai menjodohkannya dengan salah satu...
