Walau sudah dibuat sakit hati, Azkiya sama sekali tidak pernah mendoakan yang jelek-jelek untuk Mbak Wulan.
Dari kabar yang ibu itu bawa, kini mbak Wulan sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Sudah dari sebulan yang lalu.
Azkiya sedih. Merasa bersalah juga.
Mungkin semua ini karena masalah yang kemarin.
Padahal mbak Wulan yang lebih cantik dan ramah itu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari sekedar Haikal An-Nawa.
"Aku pengen jenguk mbak Wulan, Mas."
Haikal langsung memunculkan ekspresi wajah keberatan atas permintaan Azkiya.
"Nggak usah ya sayang? Kita sudah memaafkannya dan tidak punya dendam. Jadi urusan kita sama mbak Wulan, cukup sampai di sini."
Azkiya mulai cemberut. Matanya berkaca-kaca. Dari situ, sudah bisa ditebak endingnya akan seperti apa.
"Aku merasa bersalah, Mas. Mungkin kalau kamu gak minta aku buat jadi jodoh kamu, mbak Wulan bisa berbahagia sama kamu Mas."
"Tuh kan!" Haikal segera membawa Azkiya ke dalam pelukan.
"Aku gak akan nikah, kalau calonnya bukan kamu Azkiya sayang. Aku sudah sebucin ini loh. Masa kamu gak percaya?"
Azkiya mengusap air matanya dengan kasar. Perasaannya melow sekali mendengar Mbak Wulan harus dirawat di RSJ.
Teman mondoknya harus berakhir seperti itu akibat tidak bisa bersatu dengan orang yang dicintai. Akibat terlalu cinta pada suami orang.
"Kita doakan saja Mbak Wulan cepat sembuh. Kalau pun mau jenguk, nanti aja. Jangan sekarang. Oke?"
Akhirnya Azkiya menurut. Ia sedang hamil. Memang tidak disarankan untuk banyak pikiran.
Harus enjoy. Harus berbahagia selalu.
Sore harinya. Haikal si laki-laki yang menepati ucapan itu, pergi sebentar entah ke mana.
Lalu kembali dengan membawa kucing dan kandangnya. Padahal Azkiya belum setuju untuk memelihara kucing.
Tapi dasar calon bapak-bapak! Ada saja hobi barunya yang berganti-ganti setiap bulan.
"Aku gak benci kucing. Tapi gak suka juga megangnya, Mas."
"Gak papa. Nanti lama-lama juga suka."
Azkiya hanya memperhatikan saja bagaimana Haikal menggendong kucing berbulu itu tanpa risih.
Azkiya hanya merasa ketika ia memegang perut kucing, rasanya seperti sesuatu yang kenyal, yang ketika dipegang malah loncat kabur.
Takut juga digigit.
"Gak sabaran banget nunggu dedek bayi lahiran. Si Baba udah beli kucing aja," kata Azkiya.
"Kan beli buat nemenin anak kita nanti. Oh ya, diberi nama apa nih?"
"Namanya Awokwok aja."
Haikal menaikkan satu alisnya, menatap Azkiya. "Apaan awokwok? Kaya suara tawanya kang Bani."
"Terserah sih. Tapi loh, dari pada mikirin nama kucing, mending mikirin dulu nama untuk anak kita. Aku yakin si dedek tuh cowok. Kalau kamu Mas?"
"Cewek cowok," jawab Haikal.
"Dih! Orang gak kembar. Isinya cuma satu, Mas!"
"Ya udah, aku isiin satu lagi. Biar jadi dua."
Bantal sofa langsung melayang tepat ke wajah Haikal. Calon papah muda itu nyengir lebar ke arah Azkiya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Mbak Santri
Novela Juvenil"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjadi. Azka Azkiya merasakan hal itu di tahun kedelapan dirinya nyantri di pondok pesantren Al-Furqon. Abah Yai menjodohkannya dengan salah satu...
