Spesial Chapter 1

8.2K 304 6
                                        

"Wisudawan tahfiz terbaik pondok pesantren Darussalam diraih oleh .... Maulana Syafiq An-Nawa."

Azkiya langsung bangkit berdiri, bertepuk tangan dengan berderai air mata.

Anak laki-laki yang ia besarkan dengan cinta, kini telah berhasil jadi lebih baik dari Azkiya yang semasa mondok tidak menghafalkan Al-Qur'an.

Di panggung sana, Syafiq sedang menerima piagam dan sebuah mahkota.

Remaja lima belas tahun itu lalu turun dari panggung. Dan berjalan menuju Azkiya dengan wajah lempeng tanpa ekspresi.

Setelah dekat dan saling berhadapan, Syafiq memakaikan mahkota itu pada kepala Azkiya. Kemudian langsung bersujud mencium kaki Azkiya.

"Mamas." Azkiya membungkuk. Tangisnya semakin menjadi.

Ia bahagia dan bangga sekali dengan Syafiq. Walau misal dalam proses Syafiq menghafal Qur'an ternyata gagal, Azkiya tetap bangga pada putra kesayangannya itu.

"Mamas, berdiri Nak."

Azkiya menepuk-nepuk bahu Syafiq. Lalu Syafiq bangkit dan Azkiya memeluknya erat.

Ibu dan anak itu menangis bersama. Satu ruangan dibuat ikut mewek.

"Syafiq ... anak kebanggaan Umma. Kamu hebat, kamu anak soleh. Terimakasih sudah berusaha selama ini. Umma selalu sayang kamu, Nak."

Haikal mendekat dan ikut bergabung dengan momen haru yang sedang terjadi.

Laki-laki itu tersenyum bangga sembari mengacak-acak rambut Syafiq.

"Selamat! Kamu sudah berhasil jadi lebih baik dari Baba. Semoga menjadi hafidz yang bisa mengamalkan ilmunya, bermanfaat bagi banyak orang Nak."

***

Gerbang pesantren dibuka lebar saat mobil Alphard yang dikemudikan Haikal berjalan masuk dengan lambat.

Haikal sengaja menghentikan mobilnya jauh dari halaman rumah.

Saat mereka turun, tim hadroh pesantren langsung membunyikan rebana menyambut kedatangan Syafiq.

Azkiya dan Haikal menggandengnya di sisi kiri dan kanan.

Perempuan bergelar ibu itu kembali menitikkan air mata bahagia.

Dulu ia sering menangisi Syafiq ketika Haikal memasukkan anak mereka ke pesantren di usia tujuh tahun.

Rasanya menahan diri selama empat puluh hari untuk tidak menjenguk Syafiq di pesantren sangat berat bagi Azkiya.

Sampai Azkiya yang waktu itu sedang hamil anak kedua jatuh sakit akibat terlalu rindu pada anak sulungnya.

Hari ini, hasil dari Azkiya ikhlas melepas Syafiq ke pesantren menjadikan Syafiq seorang penghafal Al-Qur'an di usianya yang baru lima belas tahun.

Orang mana yang tidak bangga?

Terlebih Syafiq menjadi hafidz terbaik satu angkatan.

Rasanya cibiran-cibiran zaman sebelum hamil dulu, tidak lagi menyakitkan jika diingat karena hasil menunggu buah hati ternyata jadi anak sesoleh Syafiq.

Malam itu, pesantren Bahrul Ulum mengadakan tasyakuran atas wisuda tahfidz Syafiq.

Haikal juga memberikan shodaqoh untuk santri yatim dan piatu sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan anaknya.

Saking bahagianya Haikal kini, rasanya dia ingin bikin anak lagi untuk yang ketiga.

Agar semuanya bisa jadi penghafal Al-Qur'an. Kalau sudah begitu, hidup Haikal dijamin bahagia walau banyak masalah silih berganti.

Jodoh Mbak SantriCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang