Flashback Haikal. Tiga tahun yang lalu.
Mood Haikal hari ini sedang tidak bagus. Rambutnya baru saja dipotong habis sebagai hukuman karena merokok di kamar asrama.
Pupus sudah mahkota ketampanannya kalau seperti itu. Ia tidak bisa tebar pesona lagi pada santri putri.
Untuk membuat suasana hatinya kembali bagus, Haikal main-main ke pos jaga dekat gerbang utama pesantren.
Biasanya kang-kang santri di sana sering guyon dan membuat Haikal bisa ikut tertawa.
"Ahlan wa sahlan yaa Gunawan!"
Baru juga datang, salah satu kang santri langsung meledeknya. Padahal Haikal belum membuka kopiah. Kepala ciloknya masih tertutup.
"Walaaah, Haikal Gunawan toh?"
Yang lain ikut meledek. Haikal tersenyum kecut.
Di pesantren Al-Furqon, panggilan 'Gunawan' sering disematkan pada santri putra yang digunduli karena taziran.
Gunawan yang berasal dari kata gundul dan menawan.
Padahal santri putra mana yang menawan ketika gundul?
"Makanya udud itu liat sikon, cah gagah! Atau minimal diajakin lah tuh pengurus keamanannya buat udud bareng," nasehat salah satu kang santri.
Waktu itu Haikal belum jadi supir Abah Yai. Masih santri biasa yang sering bolos ngaji dan merokok diam-diam.
"Emang lagi apes aja, Kang. Besok-besok saya udud di kamar mandi putri saja lah. Biar aman."
"Aman ndasmu!"
Kepala botak Haikal langsung menerima jitakan keras dari santri senior yang berkumpul di pos jaga.
Saat itulah mata Haikal yang sedang mencari-cari pertolongan, justru tak sengaja melihat seseorang yang unik sekali.
"Woy liat! Ada bidadari lewat!" seru Haikal.
Di masa depan, bidadari yang Haikal lihat untuk pertama kalinya itu akan menjadi bidadari di hidupnya, selamanya.
"Wah bidadari berkedok Samson itu mah!" lanjut Haikal.
Kini lima santri putra yang berada di pos jaga sedang terkaget-kaget melihat ada santri putri yang baru saja lewat, memanggul karung berisi sayuran.
Padahal jelas santri putri itu melihat banyak santri putra di pos jaga. Tapi tidak mau meminta tolong atau bagaimana.
"Pasti ndalem bagian dapur," celetuk kang santri berkemeja kotak-kotak.
"Siapa namanya, kang?" tanya Haikal penasaran.
"Azka."
"Azkiya."
Haikal menatap bingung pada dua kang santri yang menjawab berbeda. "Yang bener yang mana nih?"
"Namanya Azka Azkiya. Tapi biasa dipanggil sayang," seloroh kang santri berkacamata.
"Halaah! Azkiya itu paling tidak bisa kena gombal kang santri. Kehadiran kita aja kadang gak dianggap. Seperti tadi lah contohnya."
Haikal langsung memotong. "Azka Azkiya bin siapa nih?"
Empat kang santri di dekatnya langsung meneh dengan tatapan curiga.
"Ngapain tanya-tanya bin siapa?"
"Mau saya pelet jalur langit," jawab si botak Haikal dengan yakin.
"Antri wey!"
Siang itu ucapan Haikal dianggap candaan oleh teman-temannya. Namun hanya Haikal yang tahu kalau setelah melihatnya pertama kali,dia yakin bisa mendapatkan Azkiya jalur pelet langit.
Pikirnya waktu itu, lumayan punya istri yang kaya kuli panggul seperti itu. Memudahkan ketika disuruh bawa ini itu.
Haha bercanda weh!
Di lain kesempatan, Haikal baru saja mengajukan diri menjadi supir pribadi keluarga ndalem.
Ia dipanggil ke rumah Abah Yai untuk ditanya ini itu.
Setelah selesai, Haikal berniat kembali ke asrama. Namun ada yang memanggilnya dari arah dapur putri.
"Kang, minta tolong dong!"
Padahal Haikal sudah PD, menyangka santri putri itu memanggilnya untuk memberikan surat cinta, seperti santri putri kebanyakan.
Tapi malah diminta tolong.
"Tolong apa nih?" tanya Haikal.
"Tolong pasang gas, Kang!"
Alamaaak!
Haikal hanya bisa mengeluarkan gas beracun dari pantat. Kalau memasang tabung gas yang hijau itu jujur saja tidak bisa.
Namun rasanya gengsi sekali starboy pesantren tidak bisa pasang gas di depan santri putri yang minta tolong.
Bisa gagal jadi idaman seluruh santri putri ini mah.
"Ya udah, ayo!"
Dengan modal bismillah, Haikal mengikuti langkah santri putri itu menuju dapur di bagian belakang.
Lumayan, sekalian tebar pesona juga pad santri-santri yang sedang masak di dapur.
Begitu masuk ke dapur, perut Haikal langsung keroncongan akibat mencium bau masakan yang enak.
"Gas yang ini, Kang."
Haikal mengangguk tanda mengerti saat santri putri tadi menunjukkan tabung gas mana yang harus dipasang.
Tapi nanti dulu.
Haikal melihat-lihat ruang dapur. Matanya menemukan beberapa santri yang sedang piket terlihat malu-malu kucing saat dirinya hadir di tengah mereka.
Namun yang dicari Haikal tidak ada.
Azka Azkiya, perempuan kuat itu sedang tidak ada di dapur. Sayang sekali.
"Ayo kang!"
Haikal kembali diingatkan untuk memasang tabung gas. Dengan terpaksa, laki-laki bersarung Navy itu berjongkok di depan tabung gas.
Matanya terpejam, menunggu keajaiban datang dengan tiba-tiba saja ia bisa memasang tabung gas tanpa membuat meledak dapur putri ini.
"Kang? Bisa tidak?"
Haikal kembali membuka matanya dengan perasaan bete. Ia diburu-buru terus. Padahal sedang semedi dulu.
"Sabar, mbak. Pasang gas butuh konsentrasi. Jangan diganggu kalau tidak mau tabungnya meledak, membuat dapur ini kebakaran seketika!"
Santri putri di depan Haikal langsung diam setelah ditakut-takuti seperti itu oleh Haikal.
Kembali Haikal mencoba untuk mencocokkan selang kompor dengan tabung gas.
Merasa sudah klop, Haikal menyuruh santri putri untuk menyalakan kompornya. Tapi apinya tidak kunjung keluar.
Kembali dicoba, gagal lagi. Sampai ke lima kalinya, Haikal menyerah.
Laki-laki itu bangkit berdiri sembari mengangkat kedua tangan.
"Fix ini tuh yang bermasalah kompornya! Besok beli lagi yang baru. Yang ini sudah rusak!"
"Kata siapa?"
Haikal menoleh ke belakang saat suara itu menyahuti ucapannya.
Betapa terkejut dan malunya dia saat ini, melihat Azkiya sudah ada di dapur entah sejak kapan.
Perempuan yang tak pernah senyum itu kini mengambil alih pekerjaan Haikal yang gagal terus.
Di tangan Azkiya, tidak ada dua menit gas itu berhasil dipasang dengan baik.
Orang-orang di dapur langsung bertepuk tangan untuk pahlawan mereka, Azka Azkiya.
Sedangkan Haikal, dalam keadaan malu bukan main. Ia benar-benar tidak ada pesona di depan perempuan yang ia sukai.
Sebelum Haikal beranjak pergi, Azkiya berkata dengan nada menyindirnya.
"Modal ganteng doang gak bisa nuntun ke surga. Gak bisa bikin kenyang juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Mbak Santri
Teen Fiction"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjadi. Azka Azkiya merasakan hal itu di tahun kedelapan dirinya nyantri di pondok pesantren Al-Furqon. Abah Yai menjodohkannya dengan salah satu...
