Dua tahun kemudian.
Dalam mobil Jeep yang dikemudikan Haikal, Azkiya duduk di sampingnya sembari memangku Syafiq.
Sebagai pasangan santri, agenda alumnian tak pernah luput didatangi setelah lebaran idul fitri.
Keduanya sedang dalam perjalanan menuju pesantren Al-Ikhsan di Jawa barat.
Sengaja menggunakan mobil Jeep agar bisa menjangkau langsung tanpa harus pindah-pindah kendaraan.
"Kira-kira balong di belakang asrama masih gak ya?" tanya Azkiya.
Seumur hidup Azkiya tidak akan pernah melupakan kenangan BAB di toilet terbuka itu. Benar-benar beda dari pesantren yang lain.
"Kenapa? Mau BAB lagi di sana?"
"Mau mancing ikan lele aja. Kira-kira rasanya beda gak ya? Kan lele di sana makan ee manusia."
Haikal geleng-geleng kepala, tidak bisa berkata-kata atas ucapan istrinya itu.
Anak laki-laki mereka yang kini menginjak satu tahun lebih, terlihat anteng dibawa berpergian jauh.
Sifat pendiamnya itu jelas bukan turunan dari Haikal. Tapi soal wajahnya yang tampan paripurna, sudah jelas ikut gen Babanya.
"Mamas kalau besar mau ya dipondokkan?"
Azkiya mengajak ngobrol Syafiq. Anak laki-lakinya itu tampan, diakui juga oleh orang-orang.
Tapi untuk senyum Masya Allah sekali susahnya. Bahkan Babanya yang spek pelawak itu jarang bisa membuat Syafiq tertawa lepas.
Sifatnya itu plek ketiplek dengan Ummanya.
"Nanti Mamas pilih sendiri, mau mondok di Jawa barat, Jawa tengah atau Jawa timur ya? Di manapun boleh. Nanti sekalian Umma ikut mondok juga."
Haikal langsung menoleh ke samping. "Lah anak sama bini, semuanya masuk pondok. Terus di rumah Baba sama siapa?"
"Sama Awok lah," jawab Azkiya.
Awok adalah nama kucing yang dipelihara Haikal saat Azkiya masih hamil dulu.
"Ya udah sih. Gampang nambah Umma baru. Boleh kan sayang?"
Azkiya tersenyum manis atas ucapan Haikal yang memancing keributan itu.
Ia tidak akan langsung meledak. Dijawab saja dengan santai.
"Boleh kok. Boleh banget ... boleh aku potong-potong aset kamu itu sampai gak bersisa, Mas!"
Haikal langsung meringis ngilu sembari menutupi aset berharganya.
"Waduh! Jangan dong sayangku. Ini aset untuk memproduksi adiknya Syafiq. Tahun depan launching deh!"
"Dih! Enak bener kalau ngomong," protes Azkiya.
Azkiya menundukkan pandangan, menatap Syafiq yang mulai ngantuk. Bayi pintar itu tak pernah drama ketika ingin tidur. Sesoleh itu untuk bisa tidur dengan sendirinya.
"Umma jangan mulai ngobrolin tentang Syafiq masuk pondok loh. Nanti ujung-ujungnya nangis, bilang belum siap. Padahal anak kita jalan aja masih belajar."
Benar yang dikatakan Haikal. Azkiya sering membayangkan masa depan anaknya.
Bagaimana kalau Syafiq cepat tumbuh besar, lalu pergi merantau untuk mencari ilmu.
Pasti ketika itu Azkiya nangis berat harus melepaskan anak pertamanya masuk pondok.
"Ya udah, Syafiq kita mondokkan di pesantren Al-Furqon aja yang deket. Biar tiap hari bisa ditengokin sama kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Mbak Santri
Teen Fiction"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjadi. Azka Azkiya merasakan hal itu di tahun kedelapan dirinya nyantri di pondok pesantren Al-Furqon. Abah Yai menjodohkannya dengan salah satu...
