Seiring berjalannya waktu, perut Azkiya jadi semakin kelihatan ada isinya.
Calon mama muda itu sudah melewati fase mual-mual dan sekarang baru lahap makan nasi.
Azkiya sadar betul kalau sekarang berat badannya naik pesat. Dengan keadaannya yang seperti itu, entah apakah Haikal masih mampu menggendongnya atau tidak.
"Mas..."
Azkiya menghampiri suaminya yang sedang duduk lesehan di ruang TV.
"Kenapa sayangku?" Haikal menoleh dengan senyum manis di wajahnya.
Azkiya jadi semakin yakin untuk melaksanakan keinginan terpendamnya kini.
"Aku mau duduk."
Haikal belum siap apa-apa saat Azkiya tiba-tiba duduk di pangkuannya. Rasanya itu kaget bercampur keberatan karena istrinya kini berbadan dua.
"Masya Allah," kata Haikal yang terdengar tertekan.
Azkiya langsung menoleh dengan lirikan tajamnya. "Kenapa? Kok ekspresi kamu kaya keberatan gitu?"
Sontak saja kepala Haikal menggeleng. Senyum manis tak boleh sampai luntur dari wajahnya.
"Nggak dong. Kamu tambah cantik loh sayang."
Pipi chubby Azkiya selalu jadi sasaran empuk untuk Haikal melampiaskan perasaan gregetnya pada sang istri.
Ia peluk wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.
"Mas, kamu mau request dimasakin apa saja selama ramadhan nanti?" tanya Azkiya.
Bulan ramadhan tinggal menghitung hari. Azkiya antara sedih dan bahagia tahun ini tidak ikut puasa di bulan ramadhan karena hamil.
"Gak usah masak lah, Yang. Nanti kamu kecapean. Sahur sama buka puasa gampang tinggal beli makan di warteg."
Azkiya langsung melirik tak suka. "Kok gitu? Terus aku dapat pahala dari mana kalau gak melayani suami?"
Perempuan berkerudung abu-abu itu percaya kalau setelah menikah, pintu menuju surga bagi seorang istri dan calon ibu itu banyak jalannya.
Bisa salah satunya dari jalan selalu memasakkan banyak makanan untuk suami.
"Tetep dapat pahala dong. Kan kamu manut sama suami. Tenang aja, di surga udah ada kavlingan tempat untuk kamu, istri solehahku."
Azkiya semudah itu ngambek. Dan Haikal juga semudah itu membuat perasaan istrinya kembali senang.
Keduanya memang ditakdirkan untuk saling melengkapi satu sama lain.
"Oh iya Mas! Untuk permintaan yang ini tolong jangan ditolak ya!"
"Permintaan apa sayangku?"
Azkiya menoleh ke belakang. Ia tidak yakin disetujui oleh Haikal tapi dicoba dulu lah.
"Sebelum ramadhan, aku mau jenguk mbak Wulan di rumah sakit."
Haikal baru saja membuka mulut, tapi Azkiya kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi sendirian."
Haikal langsung cemberut. "Kenapa aku gak diajak?"
"Ini pembicaraan rahasia antar sesama perempuan! Pokoknya aku mau ketemu sendirian sama mbak Wulan!"
Haikal terlihat menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil. Di pikirannya, tingkat kegilaan mbak Wulan sudah parah.
Takutnya mbak Wulan akan mengamuk saat melihat Azkiya. Dan itu akan mencelakai calon bayinya juga.
"Mas, aku akan baik-baik saja. Insya Allah."
Keduanya saling tatap. Azkiya tersenyum memenangkan.
"Boleh ya Mas sayangku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Mbak Santri
Novela Juvenil"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjadi. Azka Azkiya merasakan hal itu di tahun kedelapan dirinya nyantri di pondok pesantren Al-Furqon. Abah Yai menjodohkannya dengan salah satu...
