Spesial Chapter 2

7K 292 26
                                        

"Mamas semangat!!!"

Satu-satunya tuan putri yang berdiri di antara para kang santri.

Asfa menonton pertandingan sepakbola yang diikuti oleh Syafiq bersama para santri di lapangan belakang asrama.

Selama menonton, mulut Asfa tidak pernah berhenti memberikan dukungan untuk kakak tercintanya itu.

Di belakangnya, ada dua kang santri bagian abdi ndalem yang menjaga si bungsu. Takut jika tiba-tiba bola melayang mengenai Asfa yang semakin bersemangat, malah semakin mendekat masuk ke lapangan.

"Mamas ayo nge-gol!!! Nanti aku traktir pentol."

Kehadiran Ning kecil pesantren Bahrul Ulum tentu jadi perhatian kang-kang santri yang menonton di pinggir lapangan.

Mereka curi-curi lirik, sebab kalau terang-terangan menatap, dua kang santri di belakang Asfa akan melotot penuh peringatan.

Kecantikan Ning kecil mereka sudah terlihat di umurnya yang tahun ini menginjak angka sebelas.

"Kang, ayo taruhan!"

Tiba-tiba Asfa menoleh ke belakang, pada dua kang santri yang sedari tadi menjaganya.

"Baba Haikal tidak memperbolehkan taruhan dalam bentuk apapun, Ning."

Asfa cemberut mendengar penolakan itu. Ia sering mengajak kang santri atau Mbak santri untuk melakukan sesuatu yang dilarang tapi sangat membuat penasaran.

Pernah waktu itu kamar mandi putri sedang bermasalah. Seharian full tidak ada air.

Asfa mendengar curhatan mbak Uty yang ingin sekali mandi karena harus berangkat kampus.

Ning kecil yang pintarnya Masya Allah itu kemudian mengajak mbak Uty untuk mengikutinya pergi ke suatu tempat.

Mbak Uty sudah percaya dengan membawa sekalian alat-alat mandinya.

Namun apa yang tak disangka?

Asfa justru membawa Mbak Uty ke kamar mandi santri putra. Waktu itu keadaannya sepi karena semua santri sedang shalat Jumat.

"Mandi aja, mbak. Asfa jagain kok di luar."

Tentu saja Mbak Uty menolak sampai rasanya ingin menangis karena dijebak Ning kecil masuk ke area asrama putra.

"Kang, hidup itu jangan lurus-lurus amat. Sekali-kali belok, biar ada serunya."

Nasehat dari bocah kecil itu hanya ditanggapi kang santri dengan senyum dan geleng-geleng kepala.

Asfa kembali fokus melihat ke lapangan. Sudah setengah jam dan Syafiq belum juga mencetak gol.

Sungguh, payah sekali kakak laki-lakinya itu. Asfa jadi malas untuk teriak-teriak lagi.

"Kayanya gak ada harapan bakal gol deh. Aku mau balik aja deh."

Asfa sudah membalikkan badan, bersiap pergi meninggalkan lapangan.

Untuk kemudian, tiba-tiba terjadi kerusuhan. Para santri berteriak.

"GOL!!!!"

Refleks tubuh Asfa berbalik lagi. Di lapangan, Syafiq tersenyum penuh kemenangan. Teman-teman santri langsung mengerubunginya.

"MAMAS!!!!"

Asfa langsung ikut berlari mendekat pada Syafiq. Semua santri langsung menjauh begitu Ning kecil mereka mendekat.

"Mamas!! Akhirnya gol juga setelah aku tungguin berabad-abad."

Syafiq tersenyum. Dua tangannya menjepit wajah sang adik sampai mulut Asfa mengerucut ke depan.

Jodoh Mbak SantriCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang